Darurat Indonesia!

Kamis, 15 Januari 2015 - 10:38 WIB
Darurat Indonesia!
Darurat Indonesia!
A A A
Alpin Hardiansah
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,5% pada 2014. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa untuk negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.

Pada 2015 ini, pemerintah telah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8%. Dengan target pertumbuhan sebesar itu, rakyat sangat mengharapkan akan terjadinya kesejahteraan yang merata dari Sabang hingga Merauke serta dari Miangas sampai Pulau Rote. Penerapan sistem kapitalisme yang berkiblat ke Barat dengan asas liberalisme sebagai suatu keniscayaan sangatlah memungkinkan terjadinya ketimpangan dan distribusi kekayaan yang tidak merata.

Hal ini terbukti dengan besarnya dana asing yang masuk negeri ini sebagai pertanda betapa liberalisasi telah merajalela sehingga membuat pemerintah terlena serta lupa melakukan reformasi struktural. Terlebih di akhir tahun nanti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan diberlakukan. Tentu dana asing yang akan masuk ke negeri ini jumlahnya akan semakin besar.

Hasrat pemerintah untuk terus konsisten mengikuti Barat dengan liberalismenya pun semakin muncul ke permukaan. Dengan dilepasnya harga BBM mengikuti harga pasar telah membuktikan keseriusan pemerintah untuk “memperbaiki diri” di hadapan asing dan “memonsterisasi diri” di hadapan rakyat. Bukti lainnya yaitu dengan penyesuaian harga elpiji dan listrik dengan harga pasar internasional.

Ironis memang ketika kekayaan negeri ini dijual ke negeri lain dengan harga yang murah dan dijual kembali ke Indonesia dengan harga yang selangit. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sejak 2004 lalu sudah banyak kekayaan negeri ini (BUMN) yang dijual ke asing dengan dalih memprivatisasi BUMN. Lebih ironis lagi ketika sisa BUMN yang belum terjual justru “dianaktirikan” oleh pemerintah dengan kebijakankebijakan yang menyulitkan BUMN dan mempermudah asing untuk memperluas jaringan bisnisnya di negeri ini.

Salah satunya Pertamina. Stok nasional BBM selama ini hanya ditanggung oleh Pertamina, sedangkan SPBU asing tidak. Selain itu, SPBU asing diperbolehkan untuk membangun SPBU di wilayah yang infrastrukturnya sudah lengkap. Adapun untuk wilayah yang masih terkendala infrastruktur yang belum memadai ditugaskan oleh pemerintah.

Padahal negara lain semisal India, Thailand, dan Malaysia menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur dan kewajiban untuk menanggung stok nasional bagi pendatang baru sebagai entry barrier. Jadi, tidak berlebihan jika sebagian kalangan berpandangan bahwa di tahun 2015, Indonesia dijual!

(ars)
Berita Terkait
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
KPK: Silmy Karim Kantongi...
KPK: Silmy Karim Kantongi Rp100 Juta per Pekan dari Pemerasan Izin Tinggal WNA
Nanik S Deyang Ungkap...
Nanik S Deyang Ungkap Mayjen Trenggono Segera Mundur dari TNI usai Jadi Wakil Kepala BGN
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Jejak Uang Rp366,7 Miliar...
Jejak Uang Rp366,7 Miliar ke Pegawai Imipas Bongkar Dugaan Pemerasan oleh Silmy Karim
Kejagung Tak Sita Motor...
Kejagung Tak Sita Motor Listrik Kasus Dugaan Korupsi di Badan Gizi Nasional, Ini Alasannya
Dadan Hindayana Cs Korupsi...
Dadan Hindayana Cs Korupsi Tata Kelola MBG, Noel: Memprihatinkan
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved