Kongres PAN Jadi Ujian Kewibawaan Amien
Minggu, 11 Januari 2015 - 22:06 WIB
Kongres PAN Jadi Ujian Kewibawaan Amien
A
A
A
JAKARTA - Kongres Partai Amanat Nasional (PAN) yang akan dilaksanakan pada 28 Februari-2 Maret 2015 mendatang dinilai akan menjadi ujian dari kewibawaan Ketua MPP PAN sekaligus pendiri PAN, Amien Rais. Pasalnya, setiap calon ketua umum yang didukung Amien selalu menang di Kongres.
“Kongres 2015 ini ujian kewibawaan Amien Rais. Saya sendiri belum bisa meraba seberapa kuat petuah Amien dalam Kongres PAN kali ini. Apakah masih ampuh atau tidak, kita lihat nanti,” kata Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti di Jakarta, Minggu (11/1/2015).
Oleh karena itu, kata Ray, belum dapat dipastikan apakah Zulkifli Hasan akan menang dalam Kongres lantaran mendapat dukungan dari Amien. Karena, keterpilihan ketua umum juga bergantung faktor kedekatan calon dengan kader di tingkat akar rumput.
“Apakah dukungan ke Zulkifli ini atas dukungan Amien atau karena kecakapan menjaga hubungan personal,” jelas Ray.
Namun demikian, Ray berpendapat, jika petahana Hatta Rajasa mampu memenangkan kompetisi di Kongres, Hatta akan menjadi figur saingan Amien di PAN. Jadi, Hatta bukan hanya berdiri sebagai ketua umum, tapi juga bisa menandingi figur Amien yang selama ini menjadi bintang di PAN.
“Ketokohan Hatta hampir mencapai ketokohan Amien, jadi hati-hati Amien Rais bakal ada saingannya,” ujar Ray.
Menurut Ray, Hatta dan Zulkifli ibarat Aburizal Bakrie (Ical) dan Agung Laksono di Golkar. Artinya, Hatta memiliki basis kuat di tingkat DPW, sementara Zulkifli lebih kuat di tingkat DPD.
Hatta mengklaim telah mendapatkan 31 dukungan DPW, dan Zulkifli mengklaim sekitar 300 dukungan DPD. Tapi, jangan sampai seperti Golkar dimana Ical mengubah persyaratan kehadiran sepihak yang merugikan Agung.
“Tapi, sekeras apapun persaingan Zulkifli dan Hatta jangan sampai membuka celah untuk membuat kepengurusan PAN tandingan,” pesan Ray.
Lebih jauh, Ray berpendapat, Hatta dan Zulkifli merupakan figur yang berbeda dan memilki kelebihannya masing-masing. Hatta sendiri terlihat kemampuan managerialnya yang baik, visioner, kalem, dan bukan tipe orang yang suka berkonflik.
Sementara Zulkifli, pemikirannya ke depan relatif tak terbaca, tapi Zulkifli lebih reaktif dalam artian cepat merespons dan tidak terlalu peragu, dan lebih dekat dengan kader di bawah.
“Yang saya khawatir ke Hatta itu tidak cukup waktu turun ke bawah. Kalau Zulkifli ini orang yang senang sowan. Hatta itu tidak terlihat. Tapi, dukungan DPD relatif merata, 50:50 lah,” tandasnya.
“Kongres 2015 ini ujian kewibawaan Amien Rais. Saya sendiri belum bisa meraba seberapa kuat petuah Amien dalam Kongres PAN kali ini. Apakah masih ampuh atau tidak, kita lihat nanti,” kata Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti di Jakarta, Minggu (11/1/2015).
Oleh karena itu, kata Ray, belum dapat dipastikan apakah Zulkifli Hasan akan menang dalam Kongres lantaran mendapat dukungan dari Amien. Karena, keterpilihan ketua umum juga bergantung faktor kedekatan calon dengan kader di tingkat akar rumput.
“Apakah dukungan ke Zulkifli ini atas dukungan Amien atau karena kecakapan menjaga hubungan personal,” jelas Ray.
Namun demikian, Ray berpendapat, jika petahana Hatta Rajasa mampu memenangkan kompetisi di Kongres, Hatta akan menjadi figur saingan Amien di PAN. Jadi, Hatta bukan hanya berdiri sebagai ketua umum, tapi juga bisa menandingi figur Amien yang selama ini menjadi bintang di PAN.
“Ketokohan Hatta hampir mencapai ketokohan Amien, jadi hati-hati Amien Rais bakal ada saingannya,” ujar Ray.
Menurut Ray, Hatta dan Zulkifli ibarat Aburizal Bakrie (Ical) dan Agung Laksono di Golkar. Artinya, Hatta memiliki basis kuat di tingkat DPW, sementara Zulkifli lebih kuat di tingkat DPD.
Hatta mengklaim telah mendapatkan 31 dukungan DPW, dan Zulkifli mengklaim sekitar 300 dukungan DPD. Tapi, jangan sampai seperti Golkar dimana Ical mengubah persyaratan kehadiran sepihak yang merugikan Agung.
“Tapi, sekeras apapun persaingan Zulkifli dan Hatta jangan sampai membuka celah untuk membuat kepengurusan PAN tandingan,” pesan Ray.
Lebih jauh, Ray berpendapat, Hatta dan Zulkifli merupakan figur yang berbeda dan memilki kelebihannya masing-masing. Hatta sendiri terlihat kemampuan managerialnya yang baik, visioner, kalem, dan bukan tipe orang yang suka berkonflik.
Sementara Zulkifli, pemikirannya ke depan relatif tak terbaca, tapi Zulkifli lebih reaktif dalam artian cepat merespons dan tidak terlalu peragu, dan lebih dekat dengan kader di bawah.
“Yang saya khawatir ke Hatta itu tidak cukup waktu turun ke bawah. Kalau Zulkifli ini orang yang senang sowan. Hatta itu tidak terlihat. Tapi, dukungan DPD relatif merata, 50:50 lah,” tandasnya.
(kri)