Meliterasikan Generasi Indonesia

Kamis, 08 Januari 2015 - 11:19 WIB
Meliterasikan Generasi...
Meliterasikan Generasi Indonesia
A A A
Dalam membicarakan tahun 2015 ada sejarah yang perlu kita ingat yakni Soekarno dalam buku Iwan Siswo, Panca Azimat Revolusi Jilid II (2014), pernah meneguhkan pada 17 Agustus 1959 sebagai tahun teristimewa.

Menurut Soekarno, tahun tersebutlah di mana kita sesudah pengalaman pahit hampir sepuluh tahun kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945. Tahunnya kita kembali pada jiwa revolusi dan tahunnya penemuan kembali revolusi lengkapnya pada 1959 adalah tahun “Rediscovery of our revolution“.

Soekarno pada tahun-tahun sebelum 1959 dengan susah payahnya meladeni pergolakan politik prakemerdekaan sampai pasca kemerdekaan dengan beberapa kali mencoba landasan untuk Indonesia yang tepat akhirnya menemukan kembali asas yang sah yakni kembali ke UUD 1945 untuk Indonesia. Maka itu, tak ayal pada 2015 pun pemimpin Indonesia saat ini harus mampu mengembalikan wajah Indonesia pada budaya literasi berbasis pendidikan.

Bukan kenistaan bahwa kekuatan literasi adalah spirit untuk membangkitkan peradaban bangsa. Dalam buku Tim Kreatif LKM UNJ, Restorasi Pendidikan Indonesia Menuju Masyarakat Terdidik Berbasis Budaya (2011), Reza Toufik mengisahkan peradaban Yunani kuno, kekuatan literasi filsuf Yunani mampu menguasai alam helenistik. Bukan hanya itu, kekuatan literasi bahkan mampu memajukan bangsa seperti Jepang, Amerika, dan China.

Pertanyaannya, bagaimana bangsa Indonesia bisa melangkah selangkah demi selangkah jika literasi yang dimotori dalam dunia pendidikan tidak mampu mewadahi mereka hingga akhirnya membuat orang terpingkal- pingkal dan terjungkal ke dalam jurang kebodohan? Kenyataan ini bukanlah hal yang harus ditakuti semata, melainkan harus ditindaklanjuti agar pada gilirannya kelak memang tidak terjadi.

Peran pemerintah dalam hal ini haruslah mengerti soal peradaban manusia sebagai proses pembangunan memajukan peradaban pengetahuan bangsa, bukan malah seakan mengesampingkan persoalan dari kenyataan. Dalam upaya meliterasikan generasi keutamaan memperhatikan lembaga pendidikan sebuah keniscayaan yang tak terpungkiri.

Masyarakat, guru, dan pemerintah wajib menjadi tokoh utamanya. Dengan begitu, kelak kita berharap wajah peradaban manusia di bumi yang menjadi panutan di kemudian hari tidak lain adalah bangsa kita sendiri. Semoga.
(bbg)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Kemendes-Asosiasi Desa...
Kemendes-Asosiasi Desa Gelar Seminar, Mendes Yandri: KDKMP Tak Akan Mematikan UMKM
Hadiri Sidang Dokter...
Hadiri Sidang Dokter Tifa, Roy Suryo: Kita Tetap Bersama Tak Ada Perpecahan
Imparsial Desak Prabowo...
Imparsial Desak Prabowo Cabut Perpres Pengamanan Jaksa oleh TNI
Sambut Baik Kebijakan...
Sambut Baik Kebijakan BKN, Amos Simanjuntak: Kenaikan Pangkat ASN Berbasis Merit Perkuat Reformasi Birokrasi
Putusan Praperadilan...
Putusan Praperadilan Roy Suryo Jilid II Dibacakan 20 Juli
IUCN Lihat Menhut Paham...
IUCN Lihat Menhut Paham Akar Masalah Konservasi Gajah
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved