Politik dan Daya Saing Ekonomi

Kamis, 08 Januari 2015 - 11:18 WIB
Politik dan Daya Saing...
Politik dan Daya Saing Ekonomi
A A A
Pada 2014 yang ditahbiskan sebagai tahun politik sudah selesai dilalui. Harus diakui, meski transisi kepemimpinan Indonesia berjalan dengan aman dan damai, kegaduhan politik yang mengantarkan proses tersebut cukup pelik.

Hingga kini dampak persaingan politik masih terasa, bahkan masih menyimpan potensi yang menyebabkan keterbelahan persatuan Indonesia. Di tingkat internal DPR, persaingan antara kubu Koalisi Merah Putih( KMP) danKoalisi Indonesia Hebat (KIH) masih belum menemukan titik penyelesaian. Perselisihan tersebut bahkan sempat berujung pada terbentuknya DPR tandingan.

Tak pelak jika fungsi DPR sebagai salah satu lembaga yang diamanati rakyat untuk mengusahakan kesejahteraan bersama menjadi terbengkalai. Lebih akut lagi, perseteruan tersebut juga berimbaspada konflik ditubuh partai politik. PartaiGolkar dan PPP terpecah ke dalam dua kubu kepengurusan.

Lantas, jika pada 2015 Indonesia harus menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), apakah kegaduhan politik tersebut akan berimbas pada daya saing ekonomi Indonesia? Sebagaimana ditegaskan Jan-Erik Lane dan Svante Ersson dalam Comparative Political Economy (1990), masalah politik merupakan faktor penentu tingkat kemajuan dan kemerosotan ekonomi.

Kesimpulan tersebut hasil penelitian komparatif dari 60 negara, baik kategori negara maju maupun negara berkembang. Faktor-faktor politik memengaruhi pertumbuhan ekonomi melalui dua mekanisme. Pertama, melalui kebijakan-kebijakan tertentu yang diberlakukan pemerintah. Kebijakan tersebut akan berimplikasi pada peningkatan dan penurunan laju pertumbuhan ekonomi.

Kedua, faktor politik akan membentuk iklim politik yang kemudian memengaruhi faktor-faktor ekonomi penentu pertumbuhan. Dalam konteks menghadapi persaingan MEA, sudah menjadi keniscayaan, berbagai konflik kepentingan politik di tataran para elite pemegang kebijakan negeri ini harus segera diakhiri.

Sebaliknya, sumber daya politik harus diformulasikan secara sinergis oleh legislatif (DPR) dan eksekutif (presiden dan kabinetnya). Produk kebijakan pemerintah, baik berupa undang-undang maupun kebijakan pembangunan infrastruktur, harus segara disiapkan untuk menyambut implementasi empat pilar MEA.

Pertama, terbentuknya pasar dan basis produksi tunggal di ASEAN. Kedua, kawasan berdaya saing tinggi. Ketiga, kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata. Keempat, integrasi dengan perekonomian dunia.
(bbg)
Berita Terkait
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
2 Wamen Kabinet Prabowo...
2 Wamen Kabinet Prabowo Terjerat Korupsi, Nomor 1 Divonis 4,5 Tahun Penjara
Perang Iran 20266: Ketika...
Perang Iran 20266: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo akan Menerima...
Prabowo akan Menerima Surat Kepercayaan dari 17 Dubes pada 8 Juni 2026
Said Iqbal soal Sinyal...
Said Iqbal soal Sinyal Masuk Kabinet Prabowo: Kita Tunggu Pengumuman Resmi
3 Pati dan Pamen Dimutasi...
3 Pati dan Pamen Dimutasi Kapolri ke Kortastipidkor, Ada Irjen hingga Kombes Pol
7 Terdakwa Kasus Suap...
7 Terdakwa Kasus Suap Sertifikasi K3 Kemnaker Dihukum 4 hingga 6,5 Tahun Penjara
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved