Preseden Buruk, Jaksa Agung dari Politikus

Jum'at, 21 November 2014 - 17:02 WIB
Preseden Buruk, Jaksa...
Preseden Buruk, Jaksa Agung dari Politikus
A A A
JAKARTA - Koalisi Pemantau Peradilan menyayangkan pengangkatan HM Prasetyo sebagai Jaksa Agung.

Menurut koalisi, pengangkatan politikus Partai Nasional Demokrat (NasDem) itu menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia.

Koalisi menilai, janji kampanye Jokowi yang menginginkan lembaga hukum bersih dari kepentingan politik akan sulit tercapai dengan hadirnya Prasetyo.

Koordinator Bantuan Hukum Yayasan Lembaga Bimbingan Hukum Indonesia (YLBHI) Julius Ibrani mengatakan, terpilihnya Prasetyo sebagai Jaksa Agung menimbulkan pertanyaan.

Apalagi, pemilihan Jaksa Agung oleh Jokowi sejak awal berlangsung tertutup.

Julius mengatakan, pemilihan Jaksa Agung seharusnya lebih ketat dari pemilihan
menteri kabinet.

Menurut dia, seharusnya Jokowi juga melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam menyeleksi jaksa agung.

Dia mengatakan, terpilihnya Prasetyo memupuskan harapan masyarakat untuk mereformasi hukum di jajaran Kejaksaan Agung.

"Terpilihnya Prasetyo tentu saja terasa ganjil dan mengejutkan. Jokowi seakan lupa pada visi dan misinya selama kampanye," ujar Julius, saat jumpa pers di kantor YLBHI, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/11/2014).

Koordinator Masyarakat Pemantau Peradilan (Mappi) Dio Ashar menilai munculnya Prasetyo sebagai Jaksa Agung diduga bagian dari kompensasi dukungan salah satu partai politik.

Apalagi dalam proses penunjukan Prasetyo tidak melibatkan KPK dan PPATK.

Menurut dia, ibarat nasi sudah menjadi bubur maka langkah Jokowi menunjuk jaksa agung dari latar belakang orang partai dituntut bersikap independen.

Dio pun berharap, Prasetyo sebagai jaksa agung definitif untuk lima tahun mendatang harus menunaikan tugas-tugas penegakan hukum dan pekerjaan rumah tangga yang terbengkalai di internal kejaksaan.

"Jika dalam waktu 100 hari Jaksa Agung tidak dapat menyelesaikan maupun menunjukkan progres yang baik, maka HM Prasetyo harus mundur dari posisinya, atau Jokowi harus berani mencopotnya," tuturnya.

Jaksa Agung HM Prasetyo menganggap kritik dari berbagai pihak terhadapnya sebagai sesuatu hal biasa.

Dia pun mempersilakan masyarakat untuk melihat kinerjanya memimpin Kejaksaan Agung.

"Itu hak mereka untuk meragukan. Enggak apa-apa, silakan aja. Mereka bebas untuk berpendapat, mereka bebas untuk berkomentar, kita lihat saja nanti seperti apa," tutur Prasetyo di Gedung Kejaksaan Agung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (21/11/2014).
(dam)
Berita Terkait
Polisi Lakukan Olah...
Polisi Lakukan Olah TKP Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung
Gedung Kejaksaan Agung...
Gedung Kejaksaan Agung Terbakar
Mengenal Perbedaan Mahkamah...
Mengenal Perbedaan Mahkamah Agung dan Kejaksaan Agung
Kejaksaan Agung Usulkan...
Kejaksaan Agung Usulkan Tambahan Anggaran Rp15,5 triliun
Berjuang Hampir 12 Jam,...
Berjuang Hampir 12 Jam, Akhirnya Petugas Damkar Berhasil Taklukkan Api di Kejagung
Kejaksaan, Institusi...
Kejaksaan, Institusi Penegak Hukum Paling Dipercaya Publik
Berita Terkini
DPR Tunggu Hasil Pembahasan...
DPR Tunggu Hasil Pembahasan Tim Perumus Buruh dan Apindo untuk RUU Ciptaker
Dasco Sebut Satgas Mulai...
Dasco Sebut Satgas Mulai Gelar Rapat Antisipasi Gelombang PHK Pekan Depan
Hadiri Suroboyo 10K,...
Hadiri Suroboyo 10K, Wali Kota Agustina Siap Tampilkan Grand Finale Terbaik The Ultimate 10K Series 2026
Kapolri Respons Usulan...
Kapolri Respons Usulan Pigai soal Sipil Duduki Jabatan Utama Polri: Sudah Ada Ruang Resiprokal
Nahdlatul Ulama: Pesantren...
Nahdlatul Ulama: Pesantren dan Kedaulatan Masyarakat Sipil
Presiden KSPI: Said...
Presiden KSPI: Said Iqbal Akan Dilantik Jadi Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved