Buah Simalakama

Jum'at, 29 Agustus 2014 - 15:26 WIB
Buah Simalakama
Buah Simalakama
A A A
Bagai makan buah simalakama. Peribahasa tersebut tepat untuk menggambarkan kondisi yang dialami presiden terpilih, Joko Widodo atau Jokowi, dalam menghadapi ancaman membengkaknya kuota subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Berbagai pilihan yang diambil semua serba salah: Mau ke kiri salah, ke kanan salah, maju salah, mundur pun salah. Lantas? Inilah tantangan yang harus dihadapi Jokowi! Persoalan subsidi BBM memang sebenar-benarnya bola panas yang bukan hanya akan dihadapi rezim Jokowi-Jusuf Kalla (JK), tapi juga rezim sebelumnya.

Setiap keputusan yang diambil, terutama solusi kenaikan harga, selalu terbelit berbagai pertimbangan beserta risikonya, terutama populisme politik. Tapi pada sisi lain, beban subsidi yang harus ditanggung mencekik anggaran.

Kondisi inilah yang kini membayangi pemerintahan Jokowi-JK mendatang. Mereka harus bersiap menutupi jebolnya subsidi BBM setelah program pengendalian yang diambil pemerintah gagal dan menimbulkan gejolak di masyarakat.

Berdasarkan penghitungan Pertamina, tanpa pengendalian, konsumsi BBM subsidi per 31 Desember akan berlebih 1,261 juta kl dari besaran yang ditetapkan APBNP 2014 sebesar 46 juta kiloliter (kl) atau senilai Rp246,49 triliun. Pembengkakan kuota BBM bersubsidi tentu saja menjadi tanggungan pemerintah, dalam hal ini pemerintahan ke depan.

Risiko yang akan terjadi, penyempitan ruang anggaran bagi Jokowi-JK untuk bermanuver guna mewujudkan program-program mereka. JK bahkan secara tidak langsung menyebut beban subsidi mengancam “keselamatan negara”. Karena itulah, mereka, termasuk PDIP, mendesak pemerintah menaikkan harga BBM.

Desakan ini bahkan disampaikan Jokowi saat bertemu SBY di Bali, Rabu (27/08) malam. Bagi Jokowi-JK dan PDIP, akan sangat menguntungkan jika Presiden SBY bersedia menuruti keinginan mereka karena bukan hanya terbebas dari beban anggaran, melainkan juga tidak menanggung residu dari kebijakan tidak populis tersebut.

Namun, Presiden SBY menolak permintaan itu karena tidak ingin menambah beban masyarakat. Sekarang bola panas subsidi BBM sepenuhnya di kaki Jokowi- JK. Menaikkan harga BBM memang solusi paling mudah, tapi bukan perkara mudah.

Menaikkan harga BBM dipastikan mempertaruhkan kredibilitas partai pendukung Jokowi-JK, PDIP, yang sebelumnya menjegal langkah Presiden SBY menaikkan harga BBM. Atas nama wong cilik, FPDIP yang dikomandani Puan Maharani ke sana ke mari melobi fraksi lain untuk menggagalkan rencana kenaikan harga BBM dan bahkan turun jalan.

Menaikkan harga BBM juga dipastikan menjadi pertaruhan Jokowi-JK. Muaranya bukan sekadar merosotnya popularitas seperti temuan survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), melainkan juga sejauh mana mereka mampu membuat breakthrough dan inovasi untuk menyelesaikan setumpuk persoalan bangsa.

Ini harus menjadi perhatian karena rakyat menggantungkan ekspektasi begitu tinggi pada mereka untuk membuat perbedaan dan perbaikan terhadap rezim sebelumnya.

Dengan kemampuan dan track record Jokowi-JK sebelumnya, semestinya menaikkan harga BBM bukanlah solusi utama. Sebaliknya, mereka harus tertantang mencari solusi alternatif yang lebih mendasar. PDIP yang pernah mengeluarkan buku saku, bahkan menyusun postur APBN-P sendiri, saat melawan kenaikan BBM, tentu juga sudah mempunyai solusi lebih baik.

Kecuali jika perlawanan berdasar argumentasi asal bunyi dan berorientasi populisme politis. Namun, sekali lagi, keputusan sepenuhnya di tangan Jokowi-JK: apakah memilih jalan termudah dengan menaikkan harga BBM, namun dengan risiko popularitas, kredibilitas, plus dampak makroekonomi seperti kenaikan harga barang, inflasi, kenaikan angka kemiskinan dan lainnya.

Atau, mengambil solusi alternatif yang membutuhkan pemikiran dan kesabaran karena tidak akan serta-merta mengurangi beban anggaran. Mungkin harus berhadapan dengan mereka yang selama ini menikmati keuntungan dari subsidi BBM.
(hyk)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Libatkan Publik Pilih...
Libatkan Publik Pilih Logo HUT ke-81 RI, Mensesneg: Simbol Kebangsaan Milik Bersama
Boni Hargens Sebut Presisi...
Boni Hargens Sebut Presisi Jadi Fondasi Transformasi Menyeluruh di Tubuh Polri
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Didakwa Terima Suap Uang dan Rumah, Total Rp4,8 M
Menkes Ungkap Ada Gap...
Menkes Ungkap Ada Gap Tinggi Penghasilan Dokter Spesialis: di Bone Rp3 Juta, di Mahakam Ulu Rp80 Juta
Istri Gus Yaqut Apresiasi...
Istri Gus Yaqut Apresiasi KPK Bantarkan Suaminya
Projo Ungkap Pesan Jokowi...
Projo Ungkap Pesan Jokowi di Kasus Roy Suryo dan Dokter Tifa, Apa Itu?
Infografis
5 Buah yang Memiliki...
5 Buah yang Memiliki Dampak Buruk jika Dikonsumsi Berlebihan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved