Massa Prabowo-Hatta Maju Tak Gentar di Yogya
Senin, 18 Agustus 2014 - 16:52 WIB
Massa Prabowo-Hatta Maju Tak Gentar di Yogya
A
A
A
YOGYAKARTA - Sekitar 200 orang pendukung pasangan Prabowo-Hatta di Yogyakarta turun ke jalan. Mereka melakukan aksi damai yang terpusat di Perempatan Tugu Yogyakarta.
Tak hanya orang dewasa, puluhan anak-anak kecil dan balita juga terlihat berkumpul di tempat tersebut. Mereka bersama orangtuanya untuk melakukan aksi demo.
Namun, orator aksi melarang anak-anak tersebut mengikuti aksi tersebut yang dimulai sekira pukul 14.00 WIB. Mereka diminta untuk menunggu di pinggir jalan sambil berteduh di bawah pohon yang berada di sisi timur, dekat Pos Lalulintas Polresta Yogyakarta.
"Bagi yang membawa anak-anak tolong untuk tidak mengikuti aksi demo yang kita lakukan, mohon partisipasi rekan-rekan semua," kata Abu Hamdan, salah satu orator sebelum melakukan aksi, Senin (18/8/2014).
Massa berkumpul dari empat sudut menghadap jalan membelakangi Tugu Yogyakarta sambil membentangkan berbagai spanduk berisi kecaman, cacian, hingga tudingan terhadap KPU yang dianggap melakukan kecurangan dalam pelaksanaan Pilpres pada 9 Juli 2014 lalu.
Sebelum berorasi, orator aksi yang membawa pengeras suara meminta massa untuk menyanyikan lagu nasional, yakni Indonesia Raya. Usai menyanyikan lagu itu, sang orator dengan penuh semangat meminta massa menyanyikan lagu lain, yakni Maju Tak Gentar.
Di tengah terik matahari, massa bersemangat untuk menyanyikan lagu itu dengan mengepalkan tangan ke atas. Usai lagu tersebut, orator meminta kembali lagi Maju Tak Gentar tersebut dinyanyikan kembali. "Kita ulangi lagi lagu Maju Tak Gentar," pinta orator tersebut.
Setelah selesai bernyanyi Maju Tak Gentar, orator aksi meminta untuk dinyanyikan lagu lain, yakni Hari Merdeka (17 Agustus 1945). Dengan penuh semangat, massa bernyanyi bersama dan ada yang mengibarkan bendera nasional, Merah Putih.
Selanjutnya, massa melakukan aksi secara bergantian. Mereka berharap supaya sengketa Pemilihan Presiden di Mahkamah Konstitusi berakhir dengan putusan yang adil.
"Kita tunggu putusan MK tanggal 21 Agustus nanti. Semoga keputusan yang dijatuhnya oleh MK adil, kecurangan dalam Pilpres yang dilakukan KPU harus diadili," ujar Abu.
Adapun tiga tuntutan massa aksi di antaranya, menolak hasil rekapitulasi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum, meminta agar memejahijaukan orang-orang KPU yang berbuat curang, dan meminta agar DPR RI membentuk Pansus mengenai kejahatan yang diduga dilakukan oleh KPU.
Aksi massa itu sempat memacetkan arus lalu lintas di sekitar Tugu Yogyakarta. Puluhan polisi terlihat sibuk mengatur jalan agar tidak terjadi kecelakaan.
Tak hanya orang dewasa, puluhan anak-anak kecil dan balita juga terlihat berkumpul di tempat tersebut. Mereka bersama orangtuanya untuk melakukan aksi demo.
Namun, orator aksi melarang anak-anak tersebut mengikuti aksi tersebut yang dimulai sekira pukul 14.00 WIB. Mereka diminta untuk menunggu di pinggir jalan sambil berteduh di bawah pohon yang berada di sisi timur, dekat Pos Lalulintas Polresta Yogyakarta.
"Bagi yang membawa anak-anak tolong untuk tidak mengikuti aksi demo yang kita lakukan, mohon partisipasi rekan-rekan semua," kata Abu Hamdan, salah satu orator sebelum melakukan aksi, Senin (18/8/2014).
Massa berkumpul dari empat sudut menghadap jalan membelakangi Tugu Yogyakarta sambil membentangkan berbagai spanduk berisi kecaman, cacian, hingga tudingan terhadap KPU yang dianggap melakukan kecurangan dalam pelaksanaan Pilpres pada 9 Juli 2014 lalu.
Sebelum berorasi, orator aksi yang membawa pengeras suara meminta massa untuk menyanyikan lagu nasional, yakni Indonesia Raya. Usai menyanyikan lagu itu, sang orator dengan penuh semangat meminta massa menyanyikan lagu lain, yakni Maju Tak Gentar.
Di tengah terik matahari, massa bersemangat untuk menyanyikan lagu itu dengan mengepalkan tangan ke atas. Usai lagu tersebut, orator meminta kembali lagi Maju Tak Gentar tersebut dinyanyikan kembali. "Kita ulangi lagi lagu Maju Tak Gentar," pinta orator tersebut.
Setelah selesai bernyanyi Maju Tak Gentar, orator aksi meminta untuk dinyanyikan lagu lain, yakni Hari Merdeka (17 Agustus 1945). Dengan penuh semangat, massa bernyanyi bersama dan ada yang mengibarkan bendera nasional, Merah Putih.
Selanjutnya, massa melakukan aksi secara bergantian. Mereka berharap supaya sengketa Pemilihan Presiden di Mahkamah Konstitusi berakhir dengan putusan yang adil.
"Kita tunggu putusan MK tanggal 21 Agustus nanti. Semoga keputusan yang dijatuhnya oleh MK adil, kecurangan dalam Pilpres yang dilakukan KPU harus diadili," ujar Abu.
Adapun tiga tuntutan massa aksi di antaranya, menolak hasil rekapitulasi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum, meminta agar memejahijaukan orang-orang KPU yang berbuat curang, dan meminta agar DPR RI membentuk Pansus mengenai kejahatan yang diduga dilakukan oleh KPU.
Aksi massa itu sempat memacetkan arus lalu lintas di sekitar Tugu Yogyakarta. Puluhan polisi terlihat sibuk mengatur jalan agar tidak terjadi kecelakaan.
(hyk)