Figur Jokowi dan Prabowo sebanding, tapi tak sekuat SBY
Minggu, 18 Mei 2014 - 15:08 WIB
Figur Jokowi dan Prabowo sebanding, tapi tak sekuat SBY
A
A
A
Sindonews.com - Hingga saat ini hanya dua capres saja yang muncul yakni Capres PDIP Joko Widodo dan Capres Partai Gerindra Prabowo Subianto. Dua figur ini tak sekuat sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat Pemilihan Presiden 2009 silam.
Di antara keduanya pun, tak ada yang menonjol. Kedua sosok ini bisa dikatakan merupakan figur yang seimbang. "Baik Jokowi maupun Prabowo tak ada yang sangat menonjol. Mereka masing-masing punya kelemahan juga," kata Dosen Pasca Sarjana Sosial Politik (Sospol) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Wahyudi Winarjo di Surabaya, Minggu (18/5/2014).
Mengacu pada dua lembaga riset yakni MarkPlus dan Populi, figur Jokowi tidak sangat dominan atas Prabowo. MarkPlus menyebut tingkat elektabilitas Jokowi sebesar 45% dan Prabowo 35%. Sementara Populis menyebut angka 49,3% untuk Jokowi dan 29,7% untuk Prabowo.
Karena tidak ada figur yang kuat maka peran mesin partai pengusung sangat menentukan. Untuk Jokowi didukung oleh PDIP yang dikenal solid dan militan dalam menjalankan mesin partai. Sementara Prabowo, ada PKS yang dikenal juga militan kader. Bahkan, PKS memiliki massa yang riil.
"Jadi suara Prabowo sebenarnya sudah bisa agak diketahui dari suara PKS ini. Ini pintarnya Prabowo menggandeng PKS," jelas Wahyudi. Dengan bergabungnya dua parpol berbasis Islam yakni, PAN dan PKS sudah menunjukkan bahwa mantan Danjen Koppasus ini memiliki kedekatan dengan kalangan Islam.
Sementara itu menurut Sigit Budhi Setiawan dari Lembaga Riset dan Survei Pasar Sigma Indonesia, yang menarik saat ini adalah mencermati manuver politik dua parpol yakni Partai Hanura dan Partai Demokrat.
Jika dua partai yang memiliki pemimpin mantan tentara memilih bergabung dengan Prabowo, maka akan terjadi pertarungan politik 'militer versus sipil. "Sejauh ini seluruh partai pendukung Jokowi dipimpin oleh politisi sipil," jelasnya.
Di antara keduanya pun, tak ada yang menonjol. Kedua sosok ini bisa dikatakan merupakan figur yang seimbang. "Baik Jokowi maupun Prabowo tak ada yang sangat menonjol. Mereka masing-masing punya kelemahan juga," kata Dosen Pasca Sarjana Sosial Politik (Sospol) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Wahyudi Winarjo di Surabaya, Minggu (18/5/2014).
Mengacu pada dua lembaga riset yakni MarkPlus dan Populi, figur Jokowi tidak sangat dominan atas Prabowo. MarkPlus menyebut tingkat elektabilitas Jokowi sebesar 45% dan Prabowo 35%. Sementara Populis menyebut angka 49,3% untuk Jokowi dan 29,7% untuk Prabowo.
Karena tidak ada figur yang kuat maka peran mesin partai pengusung sangat menentukan. Untuk Jokowi didukung oleh PDIP yang dikenal solid dan militan dalam menjalankan mesin partai. Sementara Prabowo, ada PKS yang dikenal juga militan kader. Bahkan, PKS memiliki massa yang riil.
"Jadi suara Prabowo sebenarnya sudah bisa agak diketahui dari suara PKS ini. Ini pintarnya Prabowo menggandeng PKS," jelas Wahyudi. Dengan bergabungnya dua parpol berbasis Islam yakni, PAN dan PKS sudah menunjukkan bahwa mantan Danjen Koppasus ini memiliki kedekatan dengan kalangan Islam.
Sementara itu menurut Sigit Budhi Setiawan dari Lembaga Riset dan Survei Pasar Sigma Indonesia, yang menarik saat ini adalah mencermati manuver politik dua parpol yakni Partai Hanura dan Partai Demokrat.
Jika dua partai yang memiliki pemimpin mantan tentara memilih bergabung dengan Prabowo, maka akan terjadi pertarungan politik 'militer versus sipil. "Sejauh ini seluruh partai pendukung Jokowi dipimpin oleh politisi sipil," jelasnya.
(hyk)