Golkar disarankan incar posisi cawapres Demokrat
Senin, 12 Mei 2014 - 07:05 WIB
Golkar disarankan incar posisi cawapres Demokrat
A
A
A
Sindonews.com - Lobi-lobi koalisi jelang pemilu presiden (pilpres) kian memanas. Secara tak terduga, koalisi antara Partai Gerindra dan Partai Golkar terancam batal.
Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie disebut-sebut batal berpasangan sebagai capres dan cawapres karena masing-masing memiliki pertimbangan sendiri. Sementara, Capres Gerindra Prabowo Subianto dikabarkan semakin mesra dengan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa.
Pengamat Politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Ahmad Taufan Damanik mengatakan, semakin lama menunda dalam mengambil sikap koalisi akan merugikan Partai Golkar. Karena itu, dalam waktu yang tersisa Partai Golkar disarankan mendekati Partai Demokrat untuk menjadi rekan koalisi.
"Menurut saya ada tiga kemungkinan pasangan capres. Pertama Jokowi, kedua Prabowo dan satu lagi dari Demokrat. Jika PDIP sudah bersama Nasdem dan PKB, Gerindra dengan PAN dan PKS, Golkar alangkah baiknya mendekati Demokrat," ujarnya saat dihubungi Sindonews, Senin (12/5/2014).
Namun, Partai Golkar diminta realistis dengan tidak memaksakan diri sebagai capres melainkan sebagai cawapres. Menurutnya, nama yang mengisi posisi itu bukan Aburizal Bakrie (Ical), melainkan kader potensial Partai Golkar lainnya.
"Lebih baik Golkar ikhlas mengajukan nama lain misalnya Anies Baswedan atau Dahlan Iskan. Kader Golkar bisa jadi wakil. Kondisi ini kesalahan Golkar sendiri kenapa sekian lama menahan kader lain muncul, padahal sudah tahu nama Ical tidak menjual," jelasnya.
Ia menilai mendorong kader muda Partai Golkar lainnya akan lebih menguntungkan partai berlambang pohon beringin ini. Setidaknya, bisa mengimbangi elektabilitas capres yang diusung Partai Demokrat nantinya.
"Ada nama Wakil Ketua MPR Hajrianto Y Thohari dan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. Mendorong mereka lebih realistis ketimbang memaksakan Ical," pungkasnya.
Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie disebut-sebut batal berpasangan sebagai capres dan cawapres karena masing-masing memiliki pertimbangan sendiri. Sementara, Capres Gerindra Prabowo Subianto dikabarkan semakin mesra dengan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa.
Pengamat Politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Ahmad Taufan Damanik mengatakan, semakin lama menunda dalam mengambil sikap koalisi akan merugikan Partai Golkar. Karena itu, dalam waktu yang tersisa Partai Golkar disarankan mendekati Partai Demokrat untuk menjadi rekan koalisi.
"Menurut saya ada tiga kemungkinan pasangan capres. Pertama Jokowi, kedua Prabowo dan satu lagi dari Demokrat. Jika PDIP sudah bersama Nasdem dan PKB, Gerindra dengan PAN dan PKS, Golkar alangkah baiknya mendekati Demokrat," ujarnya saat dihubungi Sindonews, Senin (12/5/2014).
Namun, Partai Golkar diminta realistis dengan tidak memaksakan diri sebagai capres melainkan sebagai cawapres. Menurutnya, nama yang mengisi posisi itu bukan Aburizal Bakrie (Ical), melainkan kader potensial Partai Golkar lainnya.
"Lebih baik Golkar ikhlas mengajukan nama lain misalnya Anies Baswedan atau Dahlan Iskan. Kader Golkar bisa jadi wakil. Kondisi ini kesalahan Golkar sendiri kenapa sekian lama menahan kader lain muncul, padahal sudah tahu nama Ical tidak menjual," jelasnya.
Ia menilai mendorong kader muda Partai Golkar lainnya akan lebih menguntungkan partai berlambang pohon beringin ini. Setidaknya, bisa mengimbangi elektabilitas capres yang diusung Partai Demokrat nantinya.
"Ada nama Wakil Ketua MPR Hajrianto Y Thohari dan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. Mendorong mereka lebih realistis ketimbang memaksakan Ical," pungkasnya.
(kri)