Suara PDIP tak sesuai harapan, konflik internal mencuat
Minggu, 13 April 2014 - 23:08 WIB
Suara PDIP tak sesuai harapan, konflik internal mencuat
A
A
A
Sindonews.com - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) membantah kabar perpecahan di internal partai berlambang banteng moncong putih ini karena perolehan suara di Pemilu Legislatif (pileg) lalu tak sesuai harapan.
Bahkan, calon presiden PDIP Joko Widodo dikabarkan diusir oleh Puan Maharani dari pertemuan evaluasi hasil Pileg di kediaman Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 9 April 2014 lalu.
Tim Kampanye PDIP Eva Kusuma Sundari menegaskan, pertemuan itu tidak dihadiri Puan yang dikenal sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP. Bahkan, sejak pencoblosan pada tanggal 9 April, hingga saat ini, Jokowi tidak pernah bertemu lagi dengan Puan Maharani.
"Pemberitaan Jakarta Post amat menyesatkan dan tidak benar adanya," tegas Eva saat dihubungi, Minggu (13/4/2014).
Menurut Eva, dirinya langsung menghubungi Jokowi begitu membaca pemberitaan di sebuah media berbahasa Inggris terbitan Jakarta yang memberitakan insiden pengusiran dan perseteruan antara Puan dengan pengendali Situation Room PDIP, Prananda Prabowo.
Dijelaskannya, pemberitaan itu patut disesalkan karena tidak dilengkapi dengan konfirmasi dari Jokowi, Puan maupun Prananda. Karenanya, lanjut Eva, Jokowi juga berharap agar pemberitaan itu bisa diralat.
"Karena fakta yang ada, segera setelah quick count maka Ketum (Megawati) bersama Pak Jokowi melakukan evaluasi sekaligus menyusun konsep kampanye Pilpres. Hasil quick count diterima dengan gembira karena rakyat telah mengantar PDIP sebagai pemenang pileg walau meleset dari pencapaian target," papar Eva.
Saat ini, lanjut Eva, berdasarkan keterangan Jokowi juga, situasi internal PDIP kondusif, dan saat ini struktur PDIP mengawal ketat proses real count yang banyak bermasalah di berbagai daerah terkait temuan kecurangan-kecurangan yang merugikan PDIP. Sementara urusan persiapan kampanye pilpres sepenuhnya ditangani langsung Megawati dan Jokowi termasuk pertemuan beberapa waktu lalu antara keduanya di Teuku Umar.
Seperti diberitakan Jakarta Post sebelumnya, Puan marah dan meminta Jokowi meninggalkan pertemuan evaluasi Pileg yang digelar di kediaman Megawati. Namun, Prananda Prabowo yang selama ini bertanggung jawab atas Situation Room PDIP menentang langkah Puan mengusir Jokowi.
Puan merupakan putri Megawati dari pernikahannya dengan mendiang Taufik Kiemas. Sedangkan Prananda atau yang dikenal dengan panggilan Nanan merupakan putra Megawati dari pernikahannya dengan mendiang Surendro.
Dalam pemberitaan itu disebut bahwa Jokowi sebelum pertemuan menyalahkan strategi politik PDIP sehingga perolehan suara di Pileg tak menembus target 27 persen. Pernyataan Jokowi itu disebut membuat Puan meradang karena merasa disalahkan. Hingga akhirnya dalam pertemuan yang juga dihadiri sejumlah petinggi PDIP itu Puan menumpahkan kemarahannya dan mengusir Jokowi.
Bukan hanya itu, Megawati juga dikabarkan meneteskan air mata dalam pertemuan itu. Penyebabnya bukan karena Jokowi diusir tetapi karena menyaksikan langsung pertikaian putra-putrinya sendiri.
Bahkan, calon presiden PDIP Joko Widodo dikabarkan diusir oleh Puan Maharani dari pertemuan evaluasi hasil Pileg di kediaman Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 9 April 2014 lalu.
Tim Kampanye PDIP Eva Kusuma Sundari menegaskan, pertemuan itu tidak dihadiri Puan yang dikenal sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP. Bahkan, sejak pencoblosan pada tanggal 9 April, hingga saat ini, Jokowi tidak pernah bertemu lagi dengan Puan Maharani.
"Pemberitaan Jakarta Post amat menyesatkan dan tidak benar adanya," tegas Eva saat dihubungi, Minggu (13/4/2014).
Menurut Eva, dirinya langsung menghubungi Jokowi begitu membaca pemberitaan di sebuah media berbahasa Inggris terbitan Jakarta yang memberitakan insiden pengusiran dan perseteruan antara Puan dengan pengendali Situation Room PDIP, Prananda Prabowo.
Dijelaskannya, pemberitaan itu patut disesalkan karena tidak dilengkapi dengan konfirmasi dari Jokowi, Puan maupun Prananda. Karenanya, lanjut Eva, Jokowi juga berharap agar pemberitaan itu bisa diralat.
"Karena fakta yang ada, segera setelah quick count maka Ketum (Megawati) bersama Pak Jokowi melakukan evaluasi sekaligus menyusun konsep kampanye Pilpres. Hasil quick count diterima dengan gembira karena rakyat telah mengantar PDIP sebagai pemenang pileg walau meleset dari pencapaian target," papar Eva.
Saat ini, lanjut Eva, berdasarkan keterangan Jokowi juga, situasi internal PDIP kondusif, dan saat ini struktur PDIP mengawal ketat proses real count yang banyak bermasalah di berbagai daerah terkait temuan kecurangan-kecurangan yang merugikan PDIP. Sementara urusan persiapan kampanye pilpres sepenuhnya ditangani langsung Megawati dan Jokowi termasuk pertemuan beberapa waktu lalu antara keduanya di Teuku Umar.
Seperti diberitakan Jakarta Post sebelumnya, Puan marah dan meminta Jokowi meninggalkan pertemuan evaluasi Pileg yang digelar di kediaman Megawati. Namun, Prananda Prabowo yang selama ini bertanggung jawab atas Situation Room PDIP menentang langkah Puan mengusir Jokowi.
Puan merupakan putri Megawati dari pernikahannya dengan mendiang Taufik Kiemas. Sedangkan Prananda atau yang dikenal dengan panggilan Nanan merupakan putra Megawati dari pernikahannya dengan mendiang Surendro.
Dalam pemberitaan itu disebut bahwa Jokowi sebelum pertemuan menyalahkan strategi politik PDIP sehingga perolehan suara di Pileg tak menembus target 27 persen. Pernyataan Jokowi itu disebut membuat Puan meradang karena merasa disalahkan. Hingga akhirnya dalam pertemuan yang juga dihadiri sejumlah petinggi PDIP itu Puan menumpahkan kemarahannya dan mengusir Jokowi.
Bukan hanya itu, Megawati juga dikabarkan meneteskan air mata dalam pertemuan itu. Penyebabnya bukan karena Jokowi diusir tetapi karena menyaksikan langsung pertikaian putra-putrinya sendiri.
(kri)