Sedikit bersusah payah demi bangsa
Senin, 31 Maret 2014 - 07:19 WIB
Sedikit bersusah payah demi bangsa
A
A
A
SIDANG pembaca KORAN SINDO,pastilah kalangan yang paparan atas berita politiknya sangat tinggi dari hari ke hari beritaberita politik memasuki benak para pembaca semua baik lewat medium koran ini ataupun melalui berbagai jenis media massa lain baik cetak maupun elektronik.
Menjelang Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 9 April 2014 tentu level informasi yang didapat kian deras. Arus informasi itu pun berkait-kelindan dengan isu Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 9 Juli yang membuatnya makin ramai. Berita-berita baik positif maupun negatif hilir mudik memenuhibenak pembaca.
Wajar saja khalayak merasa penat dengan berita politik. Karena berita-berita ini yang jika tidak dalam konteks kampanye, yang pasti adanya positif, maka akan cenderung berisi berita negatif karena aktivitas saling serang antara berbagai kubu politik baik dalam bentuk negative campaign yang masih mengajak khalayak berpikir kritis maupun black campaign yang cenderung membodohi masyarakat.
Kepenatan rasa jemu terhadap berita politik ini cenderung membuat banyak orang akan bersikap apatis terhadap politik, bahkan lebih jauh lagi bisa sampai apriori sehingga tidak peduli sama sekali dengan aktivitas politik. Namun harus kita sadari bersama, seburuk apapun stigma yang melekat pada politik, tetap saja politik tidak bisa disingkirkan dari hidup semua orang. Apalagi dunia modern nyaris menutup semua kemungkinan bagi siapa pun untuk hidup terlepas dari negara.
Semua aktivitas politik yang mewujud dalam berbagai kebijakan yang dijalankan oleh negara akan memengaruhi semua warga negara. Hal yang paling simpel, besaran pajak kita semua ditentukan oleh aktivitas politik. Atau bentuk lain, aktivitas politik yang buruk atau korup bahkan bisa membuat beras, lauk pauk, dan berbagai kebutuhan pokok tak bisa lagi hadir di atas meja makan karena ada permainan politik busuk berupa politik rente yang merugikan semua orang.
Atau bahkan perencanaan politik yang tidak matang bisa mengakibatkan kita harus menghabiskan sebagian besar hidup di jalan raya karena macet dan ketidakmampuan untuk membeli hunian di tengah kota karena gaji yang sangat kecil dan harga properti yang terus meroket.
Hal-hal dasar dalam kehidupan sehari-hari itu semua terjadi karena aktivitas politik yang buruk sejak rekrutmen politik orang-orang yang akan menempati jabatan tertentu seperti yang sedang kita hadapi dalam Pileg dan Pilpres 2014 ini sampai dengan lemahnya pengawasan masyarakat terhadap sistem yang berjalan.
Jikalau dari awal pemilu yang terpilih adalah orang-orang yang tidak berintegritas maka tentu kita tak bisa berharap banyak bahwa mereka akan menjalankan jabatannya dengan amanah. Jikalau orangorang yang tidak memiliki visi membangun bisa lolos ke jabatan publik tentu kita tak bisa berharap banyak mereka akan memajukan Indonesia.
Oleh karena itulah pemilu baik Pileg maupun Pilpres 2014 sangat penting. Jika kita semua bisa memilih orang-orang yang visioner dan memiliki potensi besar untuk menjalankan jabatannya dengan amanah, potensi Indonesia maju kian besar.
Mungkin akan ada khalayak yang protes karena caleg-caleg baik itu tak pernah bersentuhan dengan mereka sehingga bagaimana mereka bisa simpati terhadapnya? Untuk hal ini mungkin sebagai warga negara yang baik kita bisa berkorban. Sering kali figur-figur yang baik itu tak memiliki sumber daya sebesar lawan-lawan politiknya yang sudah lebih dulu menjabat sehingga mereka tak mampu menjangkau semua calon pemilihnya yang pada dasarnya bisa percaya akan visi dan integritasnya.
Mari kita berkorban luangkan waktu untuk mencari tahu siapa caleg yang memang benar bersih dan visioner yang bisa dipercaya untuk menjadi wakil di parlemen. Pengorbanan kecil untuk mencari caleg caleg baik di tengah kondisi politik seperti ini tentu terlihat sepele. Namun jika banyak orang yang melakukannya tentu akan makin banyak caleg baik yang mengisi parlemen. Harapannya pasti suatu saat nanti orang-orang baik akan lebih banyak dibandingkan para pejabat yang tidak amanah. Di saat itulah Indonesia akan kian melaju.
Menjelang Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 9 April 2014 tentu level informasi yang didapat kian deras. Arus informasi itu pun berkait-kelindan dengan isu Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 9 Juli yang membuatnya makin ramai. Berita-berita baik positif maupun negatif hilir mudik memenuhibenak pembaca.
Wajar saja khalayak merasa penat dengan berita politik. Karena berita-berita ini yang jika tidak dalam konteks kampanye, yang pasti adanya positif, maka akan cenderung berisi berita negatif karena aktivitas saling serang antara berbagai kubu politik baik dalam bentuk negative campaign yang masih mengajak khalayak berpikir kritis maupun black campaign yang cenderung membodohi masyarakat.
Kepenatan rasa jemu terhadap berita politik ini cenderung membuat banyak orang akan bersikap apatis terhadap politik, bahkan lebih jauh lagi bisa sampai apriori sehingga tidak peduli sama sekali dengan aktivitas politik. Namun harus kita sadari bersama, seburuk apapun stigma yang melekat pada politik, tetap saja politik tidak bisa disingkirkan dari hidup semua orang. Apalagi dunia modern nyaris menutup semua kemungkinan bagi siapa pun untuk hidup terlepas dari negara.
Semua aktivitas politik yang mewujud dalam berbagai kebijakan yang dijalankan oleh negara akan memengaruhi semua warga negara. Hal yang paling simpel, besaran pajak kita semua ditentukan oleh aktivitas politik. Atau bentuk lain, aktivitas politik yang buruk atau korup bahkan bisa membuat beras, lauk pauk, dan berbagai kebutuhan pokok tak bisa lagi hadir di atas meja makan karena ada permainan politik busuk berupa politik rente yang merugikan semua orang.
Atau bahkan perencanaan politik yang tidak matang bisa mengakibatkan kita harus menghabiskan sebagian besar hidup di jalan raya karena macet dan ketidakmampuan untuk membeli hunian di tengah kota karena gaji yang sangat kecil dan harga properti yang terus meroket.
Hal-hal dasar dalam kehidupan sehari-hari itu semua terjadi karena aktivitas politik yang buruk sejak rekrutmen politik orang-orang yang akan menempati jabatan tertentu seperti yang sedang kita hadapi dalam Pileg dan Pilpres 2014 ini sampai dengan lemahnya pengawasan masyarakat terhadap sistem yang berjalan.
Jikalau dari awal pemilu yang terpilih adalah orang-orang yang tidak berintegritas maka tentu kita tak bisa berharap banyak bahwa mereka akan menjalankan jabatannya dengan amanah. Jikalau orangorang yang tidak memiliki visi membangun bisa lolos ke jabatan publik tentu kita tak bisa berharap banyak mereka akan memajukan Indonesia.
Oleh karena itulah pemilu baik Pileg maupun Pilpres 2014 sangat penting. Jika kita semua bisa memilih orang-orang yang visioner dan memiliki potensi besar untuk menjalankan jabatannya dengan amanah, potensi Indonesia maju kian besar.
Mungkin akan ada khalayak yang protes karena caleg-caleg baik itu tak pernah bersentuhan dengan mereka sehingga bagaimana mereka bisa simpati terhadapnya? Untuk hal ini mungkin sebagai warga negara yang baik kita bisa berkorban. Sering kali figur-figur yang baik itu tak memiliki sumber daya sebesar lawan-lawan politiknya yang sudah lebih dulu menjabat sehingga mereka tak mampu menjangkau semua calon pemilihnya yang pada dasarnya bisa percaya akan visi dan integritasnya.
Mari kita berkorban luangkan waktu untuk mencari tahu siapa caleg yang memang benar bersih dan visioner yang bisa dipercaya untuk menjadi wakil di parlemen. Pengorbanan kecil untuk mencari caleg caleg baik di tengah kondisi politik seperti ini tentu terlihat sepele. Namun jika banyak orang yang melakukannya tentu akan makin banyak caleg baik yang mengisi parlemen. Harapannya pasti suatu saat nanti orang-orang baik akan lebih banyak dibandingkan para pejabat yang tidak amanah. Di saat itulah Indonesia akan kian melaju.
(nfl)