Wiranto: Indonesia belum berdaulat
Minggu, 30 Maret 2014 - 18:03 WIB
Wiranto: Indonesia belum berdaulat
A
A
A
Sindonews.com - Meski sudah 65 tahun merdeka, Indonesia masih belum memanfaatkan semua potensi sumber daya alam yang dimiliki untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan maju.
Diperlukan pemimpin yang punya keinginan kuat untuk membawa perubahan.
Calon Presiden dari Partai Hanura Wiranto mengatakan, sebagai sebuah negara Indonesia belum berdaulat di berbagai bidang karena masih menggantungkan diri kepada negara lain.
"Di bidang pangan, kita masih impor. Bawang impor, beras impor, gula impor, kedelai impor. Ini tidak benar," kata Wiranto saat berorasi di kampanye terbuka Partai Hanura di Lapangan Desa Dukuh Salam, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal, Minggu (29/3/2014).
Ketergantungan terhadap negara lain juga terjadi di bidang energi. Padahal wilayah Indonesia dikenal memiliki kekayaan minyak yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.
"Apakah ini menunjukan kita sudah berdaulat?. Kita harus mandiri, tidak bergantung pada negara lain," kata mantan Panglima ABRI ini.
Menurut Wiranto, ketergantungan terhadap negara lain tersebut tak lepas dari pemerintahan yang tidak mampu mengisi kemerdekaan dengan baik.
Padahal para pejuang sudah memperjuangkan kemerdekaan dengan mengorbankan harta dan nyawa.
"Bung Karno pernah berkata, saya titipkan negeri ini kepadamu. Artinya apa?. Artinya tugas saya (Bung Karno) sudah rampung, sudah selesai, sudah merdeka. Tugas kita untuk mengisinya," timpal Wiranto.
Ketua Umum DPP Partai Hanura itu melanjutkan, negeri Indonesia diciptakan untuk rakyat. Begitu juga dengan pemerintah yang dibentuk oleh rakyat. Maka menjadi tugas pemeritah agar rakyat bisa sejahtera.
"Kita butuh pemimpin yang adil dan peduli kepada rakyat, yang tahu nasib dan penderitaan rakyatnya, yang tahu mimpi dan keinginan rakyatnya. Untuk itu saya terjun ke masyarakat, jadi tukang becak, jadi kernet untuk tahu penderitaan mereka," ujarnya.
Wiranto menuturkan, dari pengamalannya menjadi tukang becak dia bertemu dengan tukang becak yang belum mampu membeli becak sendiri padahal sudah menjadi tukang becak selama 32 tahun.
"Selama 32 tahun dia tidak bisa membeli becak sendiri karena duitnya untuk setoran. Sementara keluarganya harus makan dan anaknya harus sekolah," ucapnya.
Dalam kampanye yang dihadiri ribuan kader dan simpatisan ini, Wiranto didampingi pengurus DPP Partai Hanura serta sejumlah calon anggota legislatif (caleg) DPR RI, DPRD Propinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.
Wiranto pun meminta para caleg untuk memiliki hati nurani dan ikut merasakan penderitaan masyarakat agar bisa memperjuangkanya jika terpilih.
"Caleg-caleg Hanura harus ikut merasakan nasib rakyat kecil. Jangan coba-coba jadi pemimpin kalau belum merasakan nasib rakyat, jangan jadi pemimpin kalau tujuannya untuk korupsi," tandasnya.
Diperlukan pemimpin yang punya keinginan kuat untuk membawa perubahan.
Calon Presiden dari Partai Hanura Wiranto mengatakan, sebagai sebuah negara Indonesia belum berdaulat di berbagai bidang karena masih menggantungkan diri kepada negara lain.
"Di bidang pangan, kita masih impor. Bawang impor, beras impor, gula impor, kedelai impor. Ini tidak benar," kata Wiranto saat berorasi di kampanye terbuka Partai Hanura di Lapangan Desa Dukuh Salam, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal, Minggu (29/3/2014).
Ketergantungan terhadap negara lain juga terjadi di bidang energi. Padahal wilayah Indonesia dikenal memiliki kekayaan minyak yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.
"Apakah ini menunjukan kita sudah berdaulat?. Kita harus mandiri, tidak bergantung pada negara lain," kata mantan Panglima ABRI ini.
Menurut Wiranto, ketergantungan terhadap negara lain tersebut tak lepas dari pemerintahan yang tidak mampu mengisi kemerdekaan dengan baik.
Padahal para pejuang sudah memperjuangkan kemerdekaan dengan mengorbankan harta dan nyawa.
"Bung Karno pernah berkata, saya titipkan negeri ini kepadamu. Artinya apa?. Artinya tugas saya (Bung Karno) sudah rampung, sudah selesai, sudah merdeka. Tugas kita untuk mengisinya," timpal Wiranto.
Ketua Umum DPP Partai Hanura itu melanjutkan, negeri Indonesia diciptakan untuk rakyat. Begitu juga dengan pemerintah yang dibentuk oleh rakyat. Maka menjadi tugas pemeritah agar rakyat bisa sejahtera.
"Kita butuh pemimpin yang adil dan peduli kepada rakyat, yang tahu nasib dan penderitaan rakyatnya, yang tahu mimpi dan keinginan rakyatnya. Untuk itu saya terjun ke masyarakat, jadi tukang becak, jadi kernet untuk tahu penderitaan mereka," ujarnya.
Wiranto menuturkan, dari pengamalannya menjadi tukang becak dia bertemu dengan tukang becak yang belum mampu membeli becak sendiri padahal sudah menjadi tukang becak selama 32 tahun.
"Selama 32 tahun dia tidak bisa membeli becak sendiri karena duitnya untuk setoran. Sementara keluarganya harus makan dan anaknya harus sekolah," ucapnya.
Dalam kampanye yang dihadiri ribuan kader dan simpatisan ini, Wiranto didampingi pengurus DPP Partai Hanura serta sejumlah calon anggota legislatif (caleg) DPR RI, DPRD Propinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.
Wiranto pun meminta para caleg untuk memiliki hati nurani dan ikut merasakan penderitaan masyarakat agar bisa memperjuangkanya jika terpilih.
"Caleg-caleg Hanura harus ikut merasakan nasib rakyat kecil. Jangan coba-coba jadi pemimpin kalau belum merasakan nasib rakyat, jangan jadi pemimpin kalau tujuannya untuk korupsi," tandasnya.
(sms)