Tayangan 'Kutunggu Janjimu' pelajaran politik bagi capres
Sabtu, 29 Maret 2014 - 21:26 WIB
Tayangan 'Kutunggu Janjimu' pelajaran politik bagi capres
A
A
A
Sindonews.com - Tayangan iklan "Kutunggu Janjimu" di sejumlah stasiun televisi nasional dinilai sebagai pelajaran politik bagi calon presiden (capres).
“Iklan tersebut dapat menjadi pelajaran politik bukan saja untuk Jokowi tapi untuk seluruh capres”, ujar Direktur Eksekutif Media Literacy Circle UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Iswandi Syahputra melalui siaran pers yang diterima Sindonews, Sabtu (29/3/2014)
Iswandi menilai iklan tersebut cermin dari meningkatnya kesadaran politik warga negara. “Rakyat sudah mengerti, banyak pemimpin yang berjanji saat kampanye tetapi lupa pada janjinya setelah terpilih. Jadi iklan tersebut merupakan pelajaran baru dari rakyat terhadap calon pemimpin mereka,” ujar mantan Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat tersebut.
Menurut Iswandi, Jokowi tidak perlu panik dan merasa iklan tersebut ditujukan hanya pada dirinya. “Substansi pesan iklan tersebut sebenarnya dapat ditujukan untuk semua capres,” papar Iswandi.
Dia menjelaskan,selama pesan dalam iklan mengandung kebenaran serta mengarah pada perbaikan kehidupan berbangsa dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, tidak perlu terburu-buru menilai iklan tersebut sebagai kampanye hitam atau black campaign untuk Jokowi.
“Iklan tersebut faktual bukan black campaign. Respons Jokowi terhadap iklan tersebut akan menguji bagaimana kualitas kepemimpinannya,”tutur Iswandi.
Dalam iklan tersebut digambarkan Jakarta masih diselimuti berbagai persoalan mulai banjir, macet, bus Transjakarta berkarat, korupsi dan persoalan lainnya.
“Iklan tersebut dapat menjadi pelajaran politik bukan saja untuk Jokowi tapi untuk seluruh capres”, ujar Direktur Eksekutif Media Literacy Circle UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Iswandi Syahputra melalui siaran pers yang diterima Sindonews, Sabtu (29/3/2014)
Iswandi menilai iklan tersebut cermin dari meningkatnya kesadaran politik warga negara. “Rakyat sudah mengerti, banyak pemimpin yang berjanji saat kampanye tetapi lupa pada janjinya setelah terpilih. Jadi iklan tersebut merupakan pelajaran baru dari rakyat terhadap calon pemimpin mereka,” ujar mantan Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat tersebut.
Menurut Iswandi, Jokowi tidak perlu panik dan merasa iklan tersebut ditujukan hanya pada dirinya. “Substansi pesan iklan tersebut sebenarnya dapat ditujukan untuk semua capres,” papar Iswandi.
Dia menjelaskan,selama pesan dalam iklan mengandung kebenaran serta mengarah pada perbaikan kehidupan berbangsa dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, tidak perlu terburu-buru menilai iklan tersebut sebagai kampanye hitam atau black campaign untuk Jokowi.
“Iklan tersebut faktual bukan black campaign. Respons Jokowi terhadap iklan tersebut akan menguji bagaimana kualitas kepemimpinannya,”tutur Iswandi.
Dalam iklan tersebut digambarkan Jakarta masih diselimuti berbagai persoalan mulai banjir, macet, bus Transjakarta berkarat, korupsi dan persoalan lainnya.
(dam)