Menjangkau pemilih pemula
Jum'at, 28 Maret 2014 - 07:05 WIB
Menjangkau pemilih pemula
A
A
A
AROMA persaingan dalam menyambut Pemilu Legislatif 2014 kian terasa. Tiap partai politik (parpol) mulai mengeluarkan jurus gacoannya sembari melemparkan isu-isu yang diharapkan bisa melemahkan lawan-lawan politik potensialnya.
Jika melihat media massa, pembahasan mengenai politik menjadi sajian utama. Bahkan segala jenis acara atau bahasan selalu bisa saja dikaitkan dengan politik. Namun tampaknya ada satu segmen masyarakat yang tidak begitu didekati dengan serius oleh parpol, yaitu kaum muda. Kenapa disebut tidak didekati? Karena selama ini isu kampanye cenderung generik yang diharapkan bisa untuk meyakinkan semua kalangan.
Padahal kaum muda ini berbeda pemikirannya sehingga butuh pendekatan yang berbeda. Lembaga Demografi Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2013 mengatakan bahwa angka pemilih pemula yang baru pertama kali memiliki hak pilih pada Pemilu 2014 dapat mencapai 22 juta–23 juta. Sementara angka resmi dari KPU adalah akan ada 18.334.458 pemilih pemula. Ini berarti untuk pemilih pemula saja jumlahnya mencapai 10% dari total jumlah pemilih yang tertera dalam daftar pemilih tetap (DPT), yaitu 186.569.233 orang.
Jika ditarik lebih dalam lagi, jumlah pemilih muda ternyata lebih besar. Kategori pemilih muda, yaitu pemilih yang usianya 17–30 tahun, diperkirakan jumlahnya ada di kisaran 30–35% dari total pemilih dalam DPT yang berarti ada 50 juta–60 juta pemilih muda. Lalu kenapa pemilih muda ini menarik untuk disoroti? Tak lain adalah karena pemilih muda ini memiliki tipikal yang berbeda dengan pemilih dengan umur di atasnya.
Pemilih muda ini adalah individu-individu yang hidup dan bertumbuh kembang dalam lingkungan yang lebih beragam yang membuat mereka berkembang menjadi orang yang lebih toleran, mereka sangat optimistis akan masa depannya, lebih teredukasi, sangat terkoneksi dengan dunia internet, dan melek teknologi. Namun, di sisi lain, kaum muda ini juga mendapatkan tekanan hidup yang lebih besar sehingga membuatnya lebih depresif dan akhirnya lebih skeptis terhadap hal-hal yang menurutnya tidak dilakukan dengan benar.
Para pemuda yang dunianya terbuka luas ini memiliki cara masing-masing dalam melihat berbagai fenomena di sekelilingnya. Mereka bukanlah tipe generasi yang menerima begitu saja apa yang disampaikan kepadanya. Mereka tak akan begitu saja percaya mengenai manfaat politik buatnya. Apalagi selama ini citra parpol terus menurun dari waktu ke waktu.
Lihat saja tak habis-habisnya berita negatif mengenai parpol dan DPR menghiasi media massa. Lalu apakah parpol saat ini sudah siap untuk menghadapi generasi yang sangat kompleks ini? Karena sudah jelas pendekatan lama dengan pengerahan massa dan janji-janji besar tapi tak menyasar kepentingan kaum muda ini tak akan membuat mereka tergerak untuk memilih. Kaum muda ini bukanlah kelompok yang mau ambil pusing mengenai perdebatan politik yang menjemukan yang berujung pada mandeknya pelayanan publik.
Kesibukan mereka membuat mereka hanya ingin tahu, hasilnya harus melayani mereka sepenuhnya. Generasi ini sudah tidak mempan lagi dengan slogan antikorupsi. Badai informasi di sekelilingnya membuat mereka skeptis dan cenderung apatis mengenai janji untuk tidak korupsi. Mereka akan lebih percaya pada bukti nyata dan sistem untuk mencegah terjadinya korupsi.
Mereka juga punya isu sendiri yang sering kali tak terpikirkan oleh para penggawa parpol. Masih ada waktu beberapa hari lagi untuk menarik semangat kaum muda untuk memilih. Parpol tidak bisa hanya memaksakan ide bahwa pemuda wajib memilih dalam pemilu, tetapi akan lebih baik jika parpol bisa meyakinkan bahwa pemilu memang sangat berguna untuk memastikan gagasan-gagasan kaum muda diterima dan dikedepankan dalam perpolitikan Indonesia.
Jika melihat media massa, pembahasan mengenai politik menjadi sajian utama. Bahkan segala jenis acara atau bahasan selalu bisa saja dikaitkan dengan politik. Namun tampaknya ada satu segmen masyarakat yang tidak begitu didekati dengan serius oleh parpol, yaitu kaum muda. Kenapa disebut tidak didekati? Karena selama ini isu kampanye cenderung generik yang diharapkan bisa untuk meyakinkan semua kalangan.
Padahal kaum muda ini berbeda pemikirannya sehingga butuh pendekatan yang berbeda. Lembaga Demografi Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2013 mengatakan bahwa angka pemilih pemula yang baru pertama kali memiliki hak pilih pada Pemilu 2014 dapat mencapai 22 juta–23 juta. Sementara angka resmi dari KPU adalah akan ada 18.334.458 pemilih pemula. Ini berarti untuk pemilih pemula saja jumlahnya mencapai 10% dari total jumlah pemilih yang tertera dalam daftar pemilih tetap (DPT), yaitu 186.569.233 orang.
Jika ditarik lebih dalam lagi, jumlah pemilih muda ternyata lebih besar. Kategori pemilih muda, yaitu pemilih yang usianya 17–30 tahun, diperkirakan jumlahnya ada di kisaran 30–35% dari total pemilih dalam DPT yang berarti ada 50 juta–60 juta pemilih muda. Lalu kenapa pemilih muda ini menarik untuk disoroti? Tak lain adalah karena pemilih muda ini memiliki tipikal yang berbeda dengan pemilih dengan umur di atasnya.
Pemilih muda ini adalah individu-individu yang hidup dan bertumbuh kembang dalam lingkungan yang lebih beragam yang membuat mereka berkembang menjadi orang yang lebih toleran, mereka sangat optimistis akan masa depannya, lebih teredukasi, sangat terkoneksi dengan dunia internet, dan melek teknologi. Namun, di sisi lain, kaum muda ini juga mendapatkan tekanan hidup yang lebih besar sehingga membuatnya lebih depresif dan akhirnya lebih skeptis terhadap hal-hal yang menurutnya tidak dilakukan dengan benar.
Para pemuda yang dunianya terbuka luas ini memiliki cara masing-masing dalam melihat berbagai fenomena di sekelilingnya. Mereka bukanlah tipe generasi yang menerima begitu saja apa yang disampaikan kepadanya. Mereka tak akan begitu saja percaya mengenai manfaat politik buatnya. Apalagi selama ini citra parpol terus menurun dari waktu ke waktu.
Lihat saja tak habis-habisnya berita negatif mengenai parpol dan DPR menghiasi media massa. Lalu apakah parpol saat ini sudah siap untuk menghadapi generasi yang sangat kompleks ini? Karena sudah jelas pendekatan lama dengan pengerahan massa dan janji-janji besar tapi tak menyasar kepentingan kaum muda ini tak akan membuat mereka tergerak untuk memilih. Kaum muda ini bukanlah kelompok yang mau ambil pusing mengenai perdebatan politik yang menjemukan yang berujung pada mandeknya pelayanan publik.
Kesibukan mereka membuat mereka hanya ingin tahu, hasilnya harus melayani mereka sepenuhnya. Generasi ini sudah tidak mempan lagi dengan slogan antikorupsi. Badai informasi di sekelilingnya membuat mereka skeptis dan cenderung apatis mengenai janji untuk tidak korupsi. Mereka akan lebih percaya pada bukti nyata dan sistem untuk mencegah terjadinya korupsi.
Mereka juga punya isu sendiri yang sering kali tak terpikirkan oleh para penggawa parpol. Masih ada waktu beberapa hari lagi untuk menarik semangat kaum muda untuk memilih. Parpol tidak bisa hanya memaksakan ide bahwa pemuda wajib memilih dalam pemilu, tetapi akan lebih baik jika parpol bisa meyakinkan bahwa pemilu memang sangat berguna untuk memastikan gagasan-gagasan kaum muda diterima dan dikedepankan dalam perpolitikan Indonesia.
(nfl)