Kurang dilindungi, TKI jadi tumbal devisa
Senin, 24 Maret 2014 - 18:47 WIB
Kurang dilindungi, TKI jadi tumbal devisa
A
A
A
Sindonews.com - Banyaknya kasus hukum yang dialami tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri dinilai menunjukkan kurangnya perhatian pemerintah. Padahal selama ini TKI telah memberikan devisa yang besar kepada negara, tapi mereka seperti berjuang sendirian di negeri orang lain.
Wakil Direktur Eksekutif Departemen Buruh Migran Serikat Buruh Solidaritas Indonesia (SBSI) Hillary Fabiola Gultom mengatakan, sudah banyak TKI yang diperlakukan tidak adil. Mulai dari korban kekerasan, sampai mengalami persoalan hukum. Hal itu seolah-olah menunjukkan tidak adanya perlindungan negara bagi TKI.
Padahal,kata dia, negara mendapatkan devisa dari TKI sebesar Rp100 triliun per tahun. "Ini (kinerja pemerintah) harus dievaluasi, pemerintah enggak bisa atasi persoalan TKI," ujar Hillary kepada Sindonews, Senin (24/3/2014).
Dia yakin TKI akan lebih senang disebut pembantu rumah tangga tapi diperhatikan dan dilindungi pemerintah. Ketimbang dipuji dengan sebutan pahlawan devisa, tapi ternyata tidak diperhatikan. "Malah jadinya tumbal devisa," ujar Hillary yang pernah menjadi TKI di Hong Kong.
Seperti diberitakan sebelumnya, Hillary meminta pemerintah untuk membebaskan Satinah, TKI asal Semarang yang terancam hukuman pancung. "Pemerintah harus menyelamatkan," katanya.
Satinah ditetapkan sebagi tersangka pembunuhan majikannya, Nura Al Gharib sekaligus pencurian uang 37.970 riyal pada Juni 2007. Kasus ini terjadi di wilayah Gaseem, Arab Saudi. Satinah dipenjara di Gaseem sejak 2009.
Melalui putusan kasasi, Satinah divonis mati pada Agustus 2011. Namun, vonis itu ditunda hingga tiga kali. Desember 2011, Desember 2012 dan Juni 2013. Sampai sekarang vonis itu belum dilakukan, ahli waris korban menyatakan akan memberi maaf asalkan diberi imbalan diyat atau uang darah sebesar 10 juta riyal atau sebesar Rp21 miliar.
Berita:
10 hari lagi Satinah akan dipancung, pemerintah harus bertindak
Wakil Direktur Eksekutif Departemen Buruh Migran Serikat Buruh Solidaritas Indonesia (SBSI) Hillary Fabiola Gultom mengatakan, sudah banyak TKI yang diperlakukan tidak adil. Mulai dari korban kekerasan, sampai mengalami persoalan hukum. Hal itu seolah-olah menunjukkan tidak adanya perlindungan negara bagi TKI.
Padahal,kata dia, negara mendapatkan devisa dari TKI sebesar Rp100 triliun per tahun. "Ini (kinerja pemerintah) harus dievaluasi, pemerintah enggak bisa atasi persoalan TKI," ujar Hillary kepada Sindonews, Senin (24/3/2014).
Dia yakin TKI akan lebih senang disebut pembantu rumah tangga tapi diperhatikan dan dilindungi pemerintah. Ketimbang dipuji dengan sebutan pahlawan devisa, tapi ternyata tidak diperhatikan. "Malah jadinya tumbal devisa," ujar Hillary yang pernah menjadi TKI di Hong Kong.
Seperti diberitakan sebelumnya, Hillary meminta pemerintah untuk membebaskan Satinah, TKI asal Semarang yang terancam hukuman pancung. "Pemerintah harus menyelamatkan," katanya.
Satinah ditetapkan sebagi tersangka pembunuhan majikannya, Nura Al Gharib sekaligus pencurian uang 37.970 riyal pada Juni 2007. Kasus ini terjadi di wilayah Gaseem, Arab Saudi. Satinah dipenjara di Gaseem sejak 2009.
Melalui putusan kasasi, Satinah divonis mati pada Agustus 2011. Namun, vonis itu ditunda hingga tiga kali. Desember 2011, Desember 2012 dan Juni 2013. Sampai sekarang vonis itu belum dilakukan, ahli waris korban menyatakan akan memberi maaf asalkan diberi imbalan diyat atau uang darah sebesar 10 juta riyal atau sebesar Rp21 miliar.
Berita:
10 hari lagi Satinah akan dipancung, pemerintah harus bertindak
(dam)