Revisi APBN mendesak
Kamis, 20 Maret 2014 - 06:56 WIB
Revisi APBN mendesak
A
A
A
REVISI Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014 menjadi perhatian serius pemerintah meski APBN tersebut baru bergulir dua bulan lebih.
Kebutuhan merevisi anggaran yang mendesak tersebut didasari fakta bahwa sejumlah asumsi makro yang dipatok dalam APBN tahun ini telah meleset dari perkiraan. Persoalannya, pengajuan revisi anggaran tersebut terbentur pada situasi politik. Masa reses DPR yang panjang menyusul pemilihan legislatif tidak memungkinkan revisi anggaran tersebut dibahas. Masa normal persidangan DPR diperkirakan baru awal Mei mendatang.
Sebelumnya pemerintah menetapkan APBN 2014 dengan asumsi pertumbuhan ekonomi sekitar 6%, laju inflasi yang berkisar 5,5%, suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) tiga bulan sebesar 5,5%, harga minyak mentah Indonesia USD105 per barel, lifting minyak 870.000 barel per hari dan lifting gas 1,24 juta barel per hari setara minyak, serta nilai tukar rupiah pada kisaran Rp10.500 per USD. Hampir semua asumsi yang dipatok pemerintah tersebut tidak sesuai harapan, terutama berkaitan dengan liftingminyak dan nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Tengok saja, kondisi rupiah yang terus terpuruk dalam dua bulan terakhir ini yang sempat menembus level di atas Rp12.000 per USD. Memang sekarang dalam tren penguatan di mana posisi rupiah bertengger di level rata-rata Rp11.300 per USD hingga Rp11.500 per USD.
Namun, tren penguatan nilai tukar tersebut masih jauh dari angka asumsi yang dituangkan dalam APBN 2014. Kalangan pengusaha pesimistis nilai tukar rupiah bakal beranjak pada level di bawah Rp11.000 per USD.
Harapan satu-satunya adalah nilai tukar rupiah segera terbentuk keseimbangan baru sehingga pergerakan rupiah tidak mengalami fluktuasi yang tajam. Terkait asumsi lifting minyak, pemerintah punya pekerjaan rumah yang berat. Lifting minyak terus melorot menjauhi angka asumsi yang ditetapkan dalam APBN 2014. Berdasarkan data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), angkaliftingminyak tercatat sebesar 790.314 barel per hari pada 12 Februari lalu.
Angka lifting tersebut membuat pihak SKK Migas pesimistis mencapai target sebesar 870.000 barel per hari sebagaimana dipatok dalam APBN 2014. Angka lifting minyak yang terus terkoreksi turun itu, menurut versi SKK Migas, dipicu berbagai masalah klasik. Di antaranya gangguan operasi, unplanned shutdown, decline rate yang tajam, kendala pembebasan lahan dan perizinan, serta pengadaan. SKK Migas bertekad menahan laju penurunan angkalifting minyak tidak melebihi -0,3% dengan berusaha menggenjot produksi semaksimal mungkin.
Apakah SKK Migas mampu mendongkrak produksi minyak untuk jangka pendek? Sepertinya pertanyaan itu sulit terjawab sebab fakta lapangan target liftingminyak tak pernah sesuai harapan belakangan ini. Yang menjadi persoalan, asumsi kurs rupiah dengan lifting minyak yang meleset dari harapan sudah pasti memberatkan APBN karena subsidi semakin membengkak.
Dalam nota keuangan 2014 disebutkan bahwa setiap depresiasi kurs Rp100 dari asumsi berpotensi menambah defisit anggaran hingga Rp1,23 triliun, sedangkan penurunan lifting minyak per 10.000 barel per hari berpeluang menaikkan defisit hingga Rp1,94 triliun.
Sementara angka defisit yang dipatok dalam APBN 2014 sebesar Rp175,35 triliun atau 1,69% terhadap produk domestik bruto (PDB). Berangkat dari angka asumsi yang melebar terutama nilai kurs rupiah dan liftingminyak, diperkirakan angka defisit pada APBN Perubahan 2014 bakal menembus 2% dari PDB.
Memang angka defisit sebesar 2% masih dalam batas toleransi sebab berdasarkan aturan angka defisit masih dimungkinkan hingga pada level 3% dari PDB. Masalahnya, bagaimana mengatasi kenaikan pembiayaan defisit. Kita berharap pemerintah tidak sekadar menempuh jalan gampang dengan membuat utang baru sebab masih banyak opsi lain yang sangat memungkinkan dilakukan tanpa menimbulkan masalah baru.
Mulai dari penghematan anggaran hingga pencoretan beberapa program yang dinilai tidak prioritas. Selain itu, pembahasan APBN Perubahan 2014 juga jangan sampai terlambat sebab akan berkejaran dengan penyusunan APBN 2015.
Kebutuhan merevisi anggaran yang mendesak tersebut didasari fakta bahwa sejumlah asumsi makro yang dipatok dalam APBN tahun ini telah meleset dari perkiraan. Persoalannya, pengajuan revisi anggaran tersebut terbentur pada situasi politik. Masa reses DPR yang panjang menyusul pemilihan legislatif tidak memungkinkan revisi anggaran tersebut dibahas. Masa normal persidangan DPR diperkirakan baru awal Mei mendatang.
Sebelumnya pemerintah menetapkan APBN 2014 dengan asumsi pertumbuhan ekonomi sekitar 6%, laju inflasi yang berkisar 5,5%, suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) tiga bulan sebesar 5,5%, harga minyak mentah Indonesia USD105 per barel, lifting minyak 870.000 barel per hari dan lifting gas 1,24 juta barel per hari setara minyak, serta nilai tukar rupiah pada kisaran Rp10.500 per USD. Hampir semua asumsi yang dipatok pemerintah tersebut tidak sesuai harapan, terutama berkaitan dengan liftingminyak dan nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Tengok saja, kondisi rupiah yang terus terpuruk dalam dua bulan terakhir ini yang sempat menembus level di atas Rp12.000 per USD. Memang sekarang dalam tren penguatan di mana posisi rupiah bertengger di level rata-rata Rp11.300 per USD hingga Rp11.500 per USD.
Namun, tren penguatan nilai tukar tersebut masih jauh dari angka asumsi yang dituangkan dalam APBN 2014. Kalangan pengusaha pesimistis nilai tukar rupiah bakal beranjak pada level di bawah Rp11.000 per USD.
Harapan satu-satunya adalah nilai tukar rupiah segera terbentuk keseimbangan baru sehingga pergerakan rupiah tidak mengalami fluktuasi yang tajam. Terkait asumsi lifting minyak, pemerintah punya pekerjaan rumah yang berat. Lifting minyak terus melorot menjauhi angka asumsi yang ditetapkan dalam APBN 2014. Berdasarkan data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), angkaliftingminyak tercatat sebesar 790.314 barel per hari pada 12 Februari lalu.
Angka lifting tersebut membuat pihak SKK Migas pesimistis mencapai target sebesar 870.000 barel per hari sebagaimana dipatok dalam APBN 2014. Angka lifting minyak yang terus terkoreksi turun itu, menurut versi SKK Migas, dipicu berbagai masalah klasik. Di antaranya gangguan operasi, unplanned shutdown, decline rate yang tajam, kendala pembebasan lahan dan perizinan, serta pengadaan. SKK Migas bertekad menahan laju penurunan angkalifting minyak tidak melebihi -0,3% dengan berusaha menggenjot produksi semaksimal mungkin.
Apakah SKK Migas mampu mendongkrak produksi minyak untuk jangka pendek? Sepertinya pertanyaan itu sulit terjawab sebab fakta lapangan target liftingminyak tak pernah sesuai harapan belakangan ini. Yang menjadi persoalan, asumsi kurs rupiah dengan lifting minyak yang meleset dari harapan sudah pasti memberatkan APBN karena subsidi semakin membengkak.
Dalam nota keuangan 2014 disebutkan bahwa setiap depresiasi kurs Rp100 dari asumsi berpotensi menambah defisit anggaran hingga Rp1,23 triliun, sedangkan penurunan lifting minyak per 10.000 barel per hari berpeluang menaikkan defisit hingga Rp1,94 triliun.
Sementara angka defisit yang dipatok dalam APBN 2014 sebesar Rp175,35 triliun atau 1,69% terhadap produk domestik bruto (PDB). Berangkat dari angka asumsi yang melebar terutama nilai kurs rupiah dan liftingminyak, diperkirakan angka defisit pada APBN Perubahan 2014 bakal menembus 2% dari PDB.
Memang angka defisit sebesar 2% masih dalam batas toleransi sebab berdasarkan aturan angka defisit masih dimungkinkan hingga pada level 3% dari PDB. Masalahnya, bagaimana mengatasi kenaikan pembiayaan defisit. Kita berharap pemerintah tidak sekadar menempuh jalan gampang dengan membuat utang baru sebab masih banyak opsi lain yang sangat memungkinkan dilakukan tanpa menimbulkan masalah baru.
Mulai dari penghematan anggaran hingga pencoretan beberapa program yang dinilai tidak prioritas. Selain itu, pembahasan APBN Perubahan 2014 juga jangan sampai terlambat sebab akan berkejaran dengan penyusunan APBN 2015.
(nfl)