BI Rate tak bergeser
Selasa, 18 Maret 2014 - 06:38 WIB
BI Rate tak bergeser
A
A
A
KINERJA perekonomian nasional yang terus membaik awal tahun ini membuat pemerintah optimistis melampaui target pertumbuhan yang dipatok 6%.
Sejumlah indikator penting dalam pertumbuhan ekonomi senantiasa memperlihatkan kinerja yang meyakinkan. Iklim perekonomian nasional yang cerah itu sejalan dengan kondisi perekonomian global yang juga menunjukkan kecenderungan ke arah pemulihan. Namun, situasi perekonomian nasional yang kini mendapat sentimen positif baik dari dalam negeri maupun luar negeri, tak merangsang Bank Indonesia (BI) untuk mengoreksi level BI Rate.
Membaiknya kinerja perekonomian nasional menunjukkan fundamentalekonomipada koridor yang sehat. Beberapa indikator seperti penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang berangsur-angsur sudah mengarah pada titik keseimbangan baru, yang membuat kalangan eksportir dan importir lebih tenang karena tingkat fluktuatif rupiah mulai menurun. Data BI yang dipublikasikan belum lama ini menunjukkan penguatan nilai tukar rupiah yang signifikan.
Pada akhir Februari posisi rupiah berada pada level Rp11.609 per dolar AS atau menguat sekitar 5,18% dibandingkan pada akhir Januari lalu. Bahkan pada pertengahan bulan ini, rupiah sempat berada di level Rp11.300 per dolar AS. Dan sepanjang Februari 2014, rata-rata rupiah berada pada posisi Rp11.919 per dolar AS, bandingkan dengan periode Januari 2014 yang bertengger rata-rata di level Rp12.160 per dolar AS atau menguat sekitar 2,02%.
Menyusul membaiknya perekonomian nasional tersebut, pihak pemodal asing sepertinya tidak ingin ketinggalan momentum yang menguntungkan tersebut. Hal itu dibuktikan arus modal asing yang masuk Indonesia mulai deras lagi.
Hingga akhir Februari lalu, aliran portofolio asing ke pasar keuangan mencapai sebesar Rp34,6 triliun. Kabar lain yang tak kalah menggembirakan adalah posisi cadangan devisa yang tercatat sebesar USD 102,7 miliar. Sementara itu, awan gelap yang selama ini menyelimuti perekonomian global mulai terkuak. Pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi akan jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun belakangan ini, sejumlah lembaga ekonomi internasional memprediksi pertumbuhan perdagangan dunia berkisar 2,3% hingga 2,5%.
Bahkan prediksi pemerintah jauh lebih tinggi lagi, sebagaimana diungkapkan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi perdagangan global bertumbuh pada kisaran 4% sampai dengan 4,5% menyusul kecenderungan perekonomian dunia yang terus bertumbuh menuju pemulihan. Membaiknya perekonomian dunia berdampak langsung terhadap kinerja ekspor sejumlah komoditas.
Data terbaru yang dipublikasikan Kementerian Perdagangan pada Februari lalu menunjukkan laju ekspor meningkat pesat. Tengok saja, ekspor ke China menguat sekitar 22,6% dan ke AS naik 1,5%. China dan AS adalah dua negara yang telah menjadi pasar tradisional ekspor Indonesia. Dan, ekspor ke sejumlah negara yang tergolong pasar ekspor baru terus menggeliat, di antaranya Peru 187%, Nigeria 117%, Uni Emirat Arab 116%, dan Afrika Selatan 72%. Produk ekspor tertinggi berupa barang-barang manufaktur.
Dari hasil rapat Dewan Gubernur BI pekan lalu, diputuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan tersebut tetap pada level 7,5%. Langkah bank sentral tersebut mengundang pertanyaan kalangan pengusaha yang sudah menanti-nantikan BI Rate untuk segera ke level lebih rendah, yang diikuti penurunan suku bunga pinjaman. Apa alasan BI yang tetap mempertahankan BI Rate 7,5% yang sudah berjalan selama empat bulan atau sejak November 2013 lalu?
Menurut versi bank sentral, suku bunga acuan itu tetap dipertahankan dengan alasan untuk mengawal inflasi agar tetap dalam posisi yang terkontrol. Selain itu, BI Rate pada level 7,5% terbukti mampu menekan defisit transaksi berjalan, yang menjadi salah satu ganjalan pertumbuhan perekonomian nasional. Untuk itu, kalangan pengusaha yang sudah mulai kewalahan dengan angka suku bunga kredit yang terus memberati harap bersabar dulu.
Pihak bank sentral memilih tutup mata sementara demi tujuan lebih besar, yakni menyelamatkan perekonomian nasional yang tertekan oleh defisit neraca perdagangan. Pihak BI sendiri menyadari posisi bunga acuan yang tergolong tinggi telah memperlambatpertumbuhankredit perbankan.
Data terbaru menunjukkan pada Januari lalu kredit hanya bertumbuh 20,9% dibandingkan pada Desember 2013 yang tercatat 21,4%. Kita harus percaya, pihak BI pasti sudah menghitung matang dengan segala konsekuensinya.
Sejumlah indikator penting dalam pertumbuhan ekonomi senantiasa memperlihatkan kinerja yang meyakinkan. Iklim perekonomian nasional yang cerah itu sejalan dengan kondisi perekonomian global yang juga menunjukkan kecenderungan ke arah pemulihan. Namun, situasi perekonomian nasional yang kini mendapat sentimen positif baik dari dalam negeri maupun luar negeri, tak merangsang Bank Indonesia (BI) untuk mengoreksi level BI Rate.
Membaiknya kinerja perekonomian nasional menunjukkan fundamentalekonomipada koridor yang sehat. Beberapa indikator seperti penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang berangsur-angsur sudah mengarah pada titik keseimbangan baru, yang membuat kalangan eksportir dan importir lebih tenang karena tingkat fluktuatif rupiah mulai menurun. Data BI yang dipublikasikan belum lama ini menunjukkan penguatan nilai tukar rupiah yang signifikan.
Pada akhir Februari posisi rupiah berada pada level Rp11.609 per dolar AS atau menguat sekitar 5,18% dibandingkan pada akhir Januari lalu. Bahkan pada pertengahan bulan ini, rupiah sempat berada di level Rp11.300 per dolar AS. Dan sepanjang Februari 2014, rata-rata rupiah berada pada posisi Rp11.919 per dolar AS, bandingkan dengan periode Januari 2014 yang bertengger rata-rata di level Rp12.160 per dolar AS atau menguat sekitar 2,02%.
Menyusul membaiknya perekonomian nasional tersebut, pihak pemodal asing sepertinya tidak ingin ketinggalan momentum yang menguntungkan tersebut. Hal itu dibuktikan arus modal asing yang masuk Indonesia mulai deras lagi.
Hingga akhir Februari lalu, aliran portofolio asing ke pasar keuangan mencapai sebesar Rp34,6 triliun. Kabar lain yang tak kalah menggembirakan adalah posisi cadangan devisa yang tercatat sebesar USD 102,7 miliar. Sementara itu, awan gelap yang selama ini menyelimuti perekonomian global mulai terkuak. Pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi akan jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun belakangan ini, sejumlah lembaga ekonomi internasional memprediksi pertumbuhan perdagangan dunia berkisar 2,3% hingga 2,5%.
Bahkan prediksi pemerintah jauh lebih tinggi lagi, sebagaimana diungkapkan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi perdagangan global bertumbuh pada kisaran 4% sampai dengan 4,5% menyusul kecenderungan perekonomian dunia yang terus bertumbuh menuju pemulihan. Membaiknya perekonomian dunia berdampak langsung terhadap kinerja ekspor sejumlah komoditas.
Data terbaru yang dipublikasikan Kementerian Perdagangan pada Februari lalu menunjukkan laju ekspor meningkat pesat. Tengok saja, ekspor ke China menguat sekitar 22,6% dan ke AS naik 1,5%. China dan AS adalah dua negara yang telah menjadi pasar tradisional ekspor Indonesia. Dan, ekspor ke sejumlah negara yang tergolong pasar ekspor baru terus menggeliat, di antaranya Peru 187%, Nigeria 117%, Uni Emirat Arab 116%, dan Afrika Selatan 72%. Produk ekspor tertinggi berupa barang-barang manufaktur.
Dari hasil rapat Dewan Gubernur BI pekan lalu, diputuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan tersebut tetap pada level 7,5%. Langkah bank sentral tersebut mengundang pertanyaan kalangan pengusaha yang sudah menanti-nantikan BI Rate untuk segera ke level lebih rendah, yang diikuti penurunan suku bunga pinjaman. Apa alasan BI yang tetap mempertahankan BI Rate 7,5% yang sudah berjalan selama empat bulan atau sejak November 2013 lalu?
Menurut versi bank sentral, suku bunga acuan itu tetap dipertahankan dengan alasan untuk mengawal inflasi agar tetap dalam posisi yang terkontrol. Selain itu, BI Rate pada level 7,5% terbukti mampu menekan defisit transaksi berjalan, yang menjadi salah satu ganjalan pertumbuhan perekonomian nasional. Untuk itu, kalangan pengusaha yang sudah mulai kewalahan dengan angka suku bunga kredit yang terus memberati harap bersabar dulu.
Pihak bank sentral memilih tutup mata sementara demi tujuan lebih besar, yakni menyelamatkan perekonomian nasional yang tertekan oleh defisit neraca perdagangan. Pihak BI sendiri menyadari posisi bunga acuan yang tergolong tinggi telah memperlambatpertumbuhankredit perbankan.
Data terbaru menunjukkan pada Januari lalu kredit hanya bertumbuh 20,9% dibandingkan pada Desember 2013 yang tercatat 21,4%. Kita harus percaya, pihak BI pasti sudah menghitung matang dengan segala konsekuensinya.
(nfl)