Ingkar janji, Gerindra anggap PDIP tak gentle
Minggu, 16 Maret 2014 - 06:08 WIB
Ingkar janji, Gerindra anggap PDIP tak gentle
A
A
A
Sindonews.com - Partai Gerindra membenarkan mengenai perjanjian Batutulis antara Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto ketika maju sebagai pasangan calon presiden calon wakil presiden pada Pilpres 2009. Yang mana, salah satu poinnya Megawati akan mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai capres pada Pilpres 2014.
Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta, Muhammad Taufik mengatakan, wajar jika Partai Gerindra kecewa ketika Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) akhirnya maju sebagai capres dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Pasalnya, ada perjanjian yang sudah disepakati bersama antar kedua pimpinan PDIP dan Gerindra.
"Saya kira kan perjanjian itu bisa mengikat batin dan bisa mengikat secara organisatoris. Karena itu, menurut saya selayaknya untuk diperhatikan," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Sabtu (15/3/2014)
Menurutnya, etika dalam berpolitik harus dijunjung tinggi untuk menciptakan iklim demokrasi yang baik. Itikad baik itulah yang tidak dilihat Gerindra ketika PDIP memutuskan mengusung Jokowi menjadi capresnya.
"Apapapun bentuk perjanjiannya, saya kira gentlement agreement itu harus dihargai secara bersama. Saya ingin mengatakan bahwa ketika ada perjanjian ada langkah-langkah yang dibicarakan secara bersama."
"Wajar saja kalau Pak Prabowo kecewa. Ini karena keduanya memang sudah terikat dalam satu kesepakatan," lanjutnya.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PDIP Tjahjo Kumolo tidak membenarkan tapi tidak juga menolak mengenai kesepakatan antara PDIP dan Gerindra yang tertuang di dalam perjanjian Batutulis tersebut.
"Harusnya tanya yang menyebarkan," ujar Tjahjo ketika dihubungi Sindonews, Sabtu 15 Maret 2014.
Akan tetapi, lanjut Tjahjo, jika pun ada perjanjian seperti itu maka gugur dengan sendirinya. Pasalnya, Megawati dan Prabowo gagal dalam pertarungan Pilpres 2009.
"Kalau pun ada perjanjian menurut saya perjanjian tersebut gugur dengan sendirinya, karena pasangan Ibu Mega dan Pak Prabowo pada Pileg 2009 dan Pilpres 2009 tidak mencapai kemenangan," jelasnya.
Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta, Muhammad Taufik mengatakan, wajar jika Partai Gerindra kecewa ketika Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) akhirnya maju sebagai capres dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Pasalnya, ada perjanjian yang sudah disepakati bersama antar kedua pimpinan PDIP dan Gerindra.
"Saya kira kan perjanjian itu bisa mengikat batin dan bisa mengikat secara organisatoris. Karena itu, menurut saya selayaknya untuk diperhatikan," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Sabtu (15/3/2014)
Menurutnya, etika dalam berpolitik harus dijunjung tinggi untuk menciptakan iklim demokrasi yang baik. Itikad baik itulah yang tidak dilihat Gerindra ketika PDIP memutuskan mengusung Jokowi menjadi capresnya.
"Apapapun bentuk perjanjiannya, saya kira gentlement agreement itu harus dihargai secara bersama. Saya ingin mengatakan bahwa ketika ada perjanjian ada langkah-langkah yang dibicarakan secara bersama."
"Wajar saja kalau Pak Prabowo kecewa. Ini karena keduanya memang sudah terikat dalam satu kesepakatan," lanjutnya.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PDIP Tjahjo Kumolo tidak membenarkan tapi tidak juga menolak mengenai kesepakatan antara PDIP dan Gerindra yang tertuang di dalam perjanjian Batutulis tersebut.
"Harusnya tanya yang menyebarkan," ujar Tjahjo ketika dihubungi Sindonews, Sabtu 15 Maret 2014.
Akan tetapi, lanjut Tjahjo, jika pun ada perjanjian seperti itu maka gugur dengan sendirinya. Pasalnya, Megawati dan Prabowo gagal dalam pertarungan Pilpres 2009.
"Kalau pun ada perjanjian menurut saya perjanjian tersebut gugur dengan sendirinya, karena pasangan Ibu Mega dan Pak Prabowo pada Pileg 2009 dan Pilpres 2009 tidak mencapai kemenangan," jelasnya.
(kri)