Tujuan politik
Rabu, 05 Maret 2014 - 07:48 WIB
Tujuan politik
A
A
A
DINAMIKA politik negeri ini semakin meningkat. Pemilihan umum (pemilu) legislatif yang tinggal kurang lebih satu bulan lagi, membuat suhu politik semakin panas.
Partai politik (parpol) yang menjadi pemeran utama dalam dinamika politik ini memang telah mempersiapkan jurus dan strateginya agar mampu mendulang suara semaksimal mungkin. Tak hanya tenaga dan pikiran, parpol pun telah menggelontorkan puluhan bahkan ratusan miliar untuk pesta politik 9 April nanti. Tentu jika menilik tentang definisi politik akan ditemukan ragamnya.
Sebagian menyebut tata kelola pemerintahan, atau bahkan yang ekstrem adalah merebut dan mempertahankan kekuasaan. Bahkan saking ekstremnya ada yang mengatakan, merebut dan mempertahankan kekuasaan tersebut dengan cara yang konstitusional maupun inkonstitusional. Tentu jika memperhatikan definisi politik dari sisi kekuasaan tersebut, sepertinya politik adalah sesuatu yang arogan karena bersifat menguasai bahkan bisa dengan cara yang inkonstitusional.
Namun, politik tetap mempunyai etika. Bahkan jika menilik arti dasar dari politik yang politikos (Yunani), politik berasal, dilakukan dan ditujukan kepada rakyat. Artinya, yang mempunyai peran dalam politik adalah rakyat. Jika ingin disederhanakan, tujuan dari politik adalah rakyat. Jika dalam ilmu manajemen, sasaran utama pemasaran (fokus) dari politik adalah rakyat. Jika parpol dipandang sebagai sebuah perusahaan, fokus utama mereka adalah rakyat.
Bukan hanya sebagai objek, rakyat (konsumen/pelanggan jika di perusahaan) pun mempunyai peran sebagai subjek, karena mereka yang men-drive sebuah organisasi. Politik yang fokus pada rakyat telah disebut pada teori kuno politik oleh Aristoteles dan hingga saat ini masih sangat relevan. Kita lihat semua partai politik ingin menjadi pemenang dalam pemilu, lantas duduk di kekuasaan eksekutif ataupun legislatif, lantas bekerja untuk menyejahterakan rakyat bangsa ini.
Jargon atau kampanye yang diberikan oleh semua parpol adalah fokus pada rakyat. Pada saat-saat kampanye, politik harapan lebih banyak muncul karena semua parpol yang mempunyai peran utama dalam pesta politik ini terus mengatakan akan menyejahterakan rakyat. Semestinya politik harapan tersebut terus dijaga selama sebuah parpol memegang kekuasaan.
Artinya, ketika belum berkuasa memberikan harapan, parpol yang berkuasa harus benar-benar mewujudkan harapan tersebut. Namun yang terjadi, politik harapan tersebut menjadi politik kekecewaan. Akibatnya, banyak pihak yang antipati terhadap parpol yang berimbas pada angka golput yang tinggi. Golput bukan orang yang antipolitik, namun antiparpol yang gagal atau bahkan tidak mengelola politik harapan tersebut dengan cara yang tepat atau melenceng.
Itulah yang selama ini terjadi di dinamika politik Indonesia. Masyarakat tetap menginginkan sebuah langkah-langkah politik. Sayang beberapa parpol justru mencederai tujuan dari politik, yaitu menyejahterakan rakyat. Ini harus menjadi catatan besar bagi parpol agar tetap terus menjalankan politik harapan mereka selama kampanye dan mewujudkannya ketika sudah berkuasa.
Dengan cara ini, masyarakat yang antiparpol ke depannya akan menjadi pihak yang justru mendorong bergeraknya parpol. Kondisi ini juga harus disadari oleh individu-individu yang ada di parpol, yang ingin menggapai kursi kekuasaan di parlemen. Mereka juga harus memahami tujuan sebuah politik adalah rakyat.
Artinya, obsesi mereka harus pada rakyat bukan pada jabatan. Jika masih banyak individu di parpol yang hanya menggunakan obsesi jabatan maka dipastikan akan melenceng dari tujuan politik. Jika para individu di parpol mampu mengelola politik harapan saat kampanye dan berkuasa, tentu tanpa melakukan kampanye di lima tahun mendatang, mereka akan kembali dipercaya untuk memegang kekuasaan.
Jadi, semua kembali kepada parpol apakah akan terus mengelola politik harapan atau hanya menggunakan di saat kampanye saja? Momentum Pemilu 2014 harus digunakan semua parpol untuk benar-benar mewujudkan tujuan politik.
Partai politik (parpol) yang menjadi pemeran utama dalam dinamika politik ini memang telah mempersiapkan jurus dan strateginya agar mampu mendulang suara semaksimal mungkin. Tak hanya tenaga dan pikiran, parpol pun telah menggelontorkan puluhan bahkan ratusan miliar untuk pesta politik 9 April nanti. Tentu jika menilik tentang definisi politik akan ditemukan ragamnya.
Sebagian menyebut tata kelola pemerintahan, atau bahkan yang ekstrem adalah merebut dan mempertahankan kekuasaan. Bahkan saking ekstremnya ada yang mengatakan, merebut dan mempertahankan kekuasaan tersebut dengan cara yang konstitusional maupun inkonstitusional. Tentu jika memperhatikan definisi politik dari sisi kekuasaan tersebut, sepertinya politik adalah sesuatu yang arogan karena bersifat menguasai bahkan bisa dengan cara yang inkonstitusional.
Namun, politik tetap mempunyai etika. Bahkan jika menilik arti dasar dari politik yang politikos (Yunani), politik berasal, dilakukan dan ditujukan kepada rakyat. Artinya, yang mempunyai peran dalam politik adalah rakyat. Jika ingin disederhanakan, tujuan dari politik adalah rakyat. Jika dalam ilmu manajemen, sasaran utama pemasaran (fokus) dari politik adalah rakyat. Jika parpol dipandang sebagai sebuah perusahaan, fokus utama mereka adalah rakyat.
Bukan hanya sebagai objek, rakyat (konsumen/pelanggan jika di perusahaan) pun mempunyai peran sebagai subjek, karena mereka yang men-drive sebuah organisasi. Politik yang fokus pada rakyat telah disebut pada teori kuno politik oleh Aristoteles dan hingga saat ini masih sangat relevan. Kita lihat semua partai politik ingin menjadi pemenang dalam pemilu, lantas duduk di kekuasaan eksekutif ataupun legislatif, lantas bekerja untuk menyejahterakan rakyat bangsa ini.
Jargon atau kampanye yang diberikan oleh semua parpol adalah fokus pada rakyat. Pada saat-saat kampanye, politik harapan lebih banyak muncul karena semua parpol yang mempunyai peran utama dalam pesta politik ini terus mengatakan akan menyejahterakan rakyat. Semestinya politik harapan tersebut terus dijaga selama sebuah parpol memegang kekuasaan.
Artinya, ketika belum berkuasa memberikan harapan, parpol yang berkuasa harus benar-benar mewujudkan harapan tersebut. Namun yang terjadi, politik harapan tersebut menjadi politik kekecewaan. Akibatnya, banyak pihak yang antipati terhadap parpol yang berimbas pada angka golput yang tinggi. Golput bukan orang yang antipolitik, namun antiparpol yang gagal atau bahkan tidak mengelola politik harapan tersebut dengan cara yang tepat atau melenceng.
Itulah yang selama ini terjadi di dinamika politik Indonesia. Masyarakat tetap menginginkan sebuah langkah-langkah politik. Sayang beberapa parpol justru mencederai tujuan dari politik, yaitu menyejahterakan rakyat. Ini harus menjadi catatan besar bagi parpol agar tetap terus menjalankan politik harapan mereka selama kampanye dan mewujudkannya ketika sudah berkuasa.
Dengan cara ini, masyarakat yang antiparpol ke depannya akan menjadi pihak yang justru mendorong bergeraknya parpol. Kondisi ini juga harus disadari oleh individu-individu yang ada di parpol, yang ingin menggapai kursi kekuasaan di parlemen. Mereka juga harus memahami tujuan sebuah politik adalah rakyat.
Artinya, obsesi mereka harus pada rakyat bukan pada jabatan. Jika masih banyak individu di parpol yang hanya menggunakan obsesi jabatan maka dipastikan akan melenceng dari tujuan politik. Jika para individu di parpol mampu mengelola politik harapan saat kampanye dan berkuasa, tentu tanpa melakukan kampanye di lima tahun mendatang, mereka akan kembali dipercaya untuk memegang kekuasaan.
Jadi, semua kembali kepada parpol apakah akan terus mengelola politik harapan atau hanya menggunakan di saat kampanye saja? Momentum Pemilu 2014 harus digunakan semua parpol untuk benar-benar mewujudkan tujuan politik.
(nfl)