Bangsa yang mandiri
Senin, 03 Maret 2014 - 07:01 WIB
Bangsa yang mandiri
A
A
A
PERGOLAKAN berdarah yang pecah di Ukraina mengingatkan kita akan pentingnya menjadi bangsa yang mandiri. Karena letaknya di wilayah perbatasan antara dua kekuatan besar, yaitu Rusia dan Eropa, Ukraina menjadi ajang perebutan pengaruh hingga kapan pun.
Tarik-menarik kepentingan yang menghimpit negeri eks pecahan Uni Soviet ini begitu kuat sehingga sangat menentukan konstelasi politik dan ekonomi dalam negeri mereka. Sampai kapan drama politik berdarah di Ukraina akan berlangsung? Tergantung dari bangsa Ukraina sendiri mau bersikap seperti apa? Tergantung sikap para pemimpin mereka untuk menentukan ke mana kemudi akan diarahkan?
Kemandirian sebuah bangsa tergantung pada banyak hal. Letak geografis, sumber daya alam, geopolitik, sumber daya manusia, dan yang paling penting visi para pemimpinnya. Negeri kaya-raya dengan sumber alam yang melimpah belum tentu bisa mandiri, malah sebaliknya sangat bergantung kepada bangsa lain. Tapi tidak sedikit contoh juga negeri yang miskin sumber daya alam tapi mampu menjadi kekuatan ekonomi dunia seperti Jepang, Singapura, Swiss.
Jepang memang bukan tergolong negara yang tidak punya sumber daya alam, tetapi masyarakat dan pemimpinya memiliki kekuatan dan tekad yang luar biasa sehingga mampu menjadi negara yang unggul dalam teknologi. Jepang tidak hanya bisa mandiri, tapi mampu membuat bangsa lain bergantung kepada mereka.
Demikian pula Korea Selatan, India, China maupun Singapura. Mereka memiliki kekuatan yang membuat bangsa lain bergantung kepadanya. Di era globalisasi dunia semakin menyatu, batas-batas negara seolah hilang. Tapi realitas politik juga menunjukkan bahwa bangsa yang mandiri akan lebih mudah menghadapi badai globalisasi daripada bangsa yang hanya menjadi penggembira.
Setiap negara harus memiliki keunggulan untuk menutupi kelemahannya. Karena tidak mungkin ada satu negara atau bangsa yang sempurna. Bangsa adidaya pun kelemahannya banyak. Namun mereka mampu mengelola kelemahan itu menjadi kekuatan yang tidak disangkasangka oleh negara rivalnya.
Di pihak lain, bangsa yang seharusnya mampu menjadi bangsa yang unggul, tetapi nyatanya hanya bisa menjadi pemain kelas medioker. Sudah puluhan tahun merdeka, tetapi tetap saja menjadi negara berkembang, entah sampai kapan bisa naik kelas menjadi negara maju. Indonesia memang tidak seperti Ukraina. Bisa jadi tantangan ekonomi politik negara kita lebih besar. Tapi modal yang diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia juga tidak sembarangan.
Wilayahnya luas dengan kekayaan alam melimpah, jumlah penduduk besar dengan keragaman budaya yang mengagumkan, lautan luas menyimpan kekayaan besar, sumber daya mineral, hutan, dan sebagainya. Mestinya Indonesia bisa maju pesat menjadi salah satu macan Asia atau bahkan macan dunia. Sudah. Tapi mengapa kita tetap begini-begini saja. Negara miskin tidak, negara maju juga belum.
Dengan semua kelebihan yang kita miliki, Indonesia mestinya bisa lebih dari sekarang. Salah satu yang menyebabkan mengapa kita sulit menjadi bangsa mandiri adalah karena mental masyarakat dan pemimpinnya yang tidak seiring sejalan. Pemimpinnya ke mana, rakyat maunya ke mana. Tidak ada satu kepentingan besar yang bisa menyatukan seluruh komponen bangsa pada satu tujuan.
Dulu semua bersatu mengusir penjajah. Kemudian bersatu untuk mengusir kemiskinan dan sekarang bersatu untuk memberantas korupsi. Memberantas korupsi memang misi besar karena korupsilah yang menggerogoti kekayaan negara. Tapi apa tujuan berikutnya setelah korupsi dijinakkan? Bukankah kita ingin menjadi bangsa besar yang disegani bangsa lain? Bukankah kita harus bisa mandiri dan sejajar dengan negara besar lain? Ini yang harus dijawab oleh parpol dan para calon presiden (capres) yang akan bertarung pada pemilu nanti.
Jika benar mereka memiliki cita-cita akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan mandiri, mestinya program-program itu sejak sekarang harus sudah disampaikan ke publik. Capres atau parpol harus berani dengan lugas menyatakan akan membawa bangsa ini menuju kejayaan sebagai macan Asia dan macan dunia. Rakyat menunggu siapa yang paling layak memimpin bangsa ini menuju kejayaan.
Tarik-menarik kepentingan yang menghimpit negeri eks pecahan Uni Soviet ini begitu kuat sehingga sangat menentukan konstelasi politik dan ekonomi dalam negeri mereka. Sampai kapan drama politik berdarah di Ukraina akan berlangsung? Tergantung dari bangsa Ukraina sendiri mau bersikap seperti apa? Tergantung sikap para pemimpin mereka untuk menentukan ke mana kemudi akan diarahkan?
Kemandirian sebuah bangsa tergantung pada banyak hal. Letak geografis, sumber daya alam, geopolitik, sumber daya manusia, dan yang paling penting visi para pemimpinnya. Negeri kaya-raya dengan sumber alam yang melimpah belum tentu bisa mandiri, malah sebaliknya sangat bergantung kepada bangsa lain. Tapi tidak sedikit contoh juga negeri yang miskin sumber daya alam tapi mampu menjadi kekuatan ekonomi dunia seperti Jepang, Singapura, Swiss.
Jepang memang bukan tergolong negara yang tidak punya sumber daya alam, tetapi masyarakat dan pemimpinya memiliki kekuatan dan tekad yang luar biasa sehingga mampu menjadi negara yang unggul dalam teknologi. Jepang tidak hanya bisa mandiri, tapi mampu membuat bangsa lain bergantung kepada mereka.
Demikian pula Korea Selatan, India, China maupun Singapura. Mereka memiliki kekuatan yang membuat bangsa lain bergantung kepadanya. Di era globalisasi dunia semakin menyatu, batas-batas negara seolah hilang. Tapi realitas politik juga menunjukkan bahwa bangsa yang mandiri akan lebih mudah menghadapi badai globalisasi daripada bangsa yang hanya menjadi penggembira.
Setiap negara harus memiliki keunggulan untuk menutupi kelemahannya. Karena tidak mungkin ada satu negara atau bangsa yang sempurna. Bangsa adidaya pun kelemahannya banyak. Namun mereka mampu mengelola kelemahan itu menjadi kekuatan yang tidak disangkasangka oleh negara rivalnya.
Di pihak lain, bangsa yang seharusnya mampu menjadi bangsa yang unggul, tetapi nyatanya hanya bisa menjadi pemain kelas medioker. Sudah puluhan tahun merdeka, tetapi tetap saja menjadi negara berkembang, entah sampai kapan bisa naik kelas menjadi negara maju. Indonesia memang tidak seperti Ukraina. Bisa jadi tantangan ekonomi politik negara kita lebih besar. Tapi modal yang diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia juga tidak sembarangan.
Wilayahnya luas dengan kekayaan alam melimpah, jumlah penduduk besar dengan keragaman budaya yang mengagumkan, lautan luas menyimpan kekayaan besar, sumber daya mineral, hutan, dan sebagainya. Mestinya Indonesia bisa maju pesat menjadi salah satu macan Asia atau bahkan macan dunia. Sudah. Tapi mengapa kita tetap begini-begini saja. Negara miskin tidak, negara maju juga belum.
Dengan semua kelebihan yang kita miliki, Indonesia mestinya bisa lebih dari sekarang. Salah satu yang menyebabkan mengapa kita sulit menjadi bangsa mandiri adalah karena mental masyarakat dan pemimpinnya yang tidak seiring sejalan. Pemimpinnya ke mana, rakyat maunya ke mana. Tidak ada satu kepentingan besar yang bisa menyatukan seluruh komponen bangsa pada satu tujuan.
Dulu semua bersatu mengusir penjajah. Kemudian bersatu untuk mengusir kemiskinan dan sekarang bersatu untuk memberantas korupsi. Memberantas korupsi memang misi besar karena korupsilah yang menggerogoti kekayaan negara. Tapi apa tujuan berikutnya setelah korupsi dijinakkan? Bukankah kita ingin menjadi bangsa besar yang disegani bangsa lain? Bukankah kita harus bisa mandiri dan sejajar dengan negara besar lain? Ini yang harus dijawab oleh parpol dan para calon presiden (capres) yang akan bertarung pada pemilu nanti.
Jika benar mereka memiliki cita-cita akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan mandiri, mestinya program-program itu sejak sekarang harus sudah disampaikan ke publik. Capres atau parpol harus berani dengan lugas menyatakan akan membawa bangsa ini menuju kejayaan sebagai macan Asia dan macan dunia. Rakyat menunggu siapa yang paling layak memimpin bangsa ini menuju kejayaan.
(nfl)