Pemilih muda
Sabtu, 01 Maret 2014 - 06:35 WIB
Pemilih muda
A
A
A
JUMLAH pemilih muda yang terdaftar sebagai pemilih pada pemilu 9 April 2014 sangat fantastis, yakni sekitar lebih dari 30 juta. Mereka adalah generasi baru, yang mungkin hingga saat ini belum menentukan akan memilih calon anggota legislatif (caleg) yang mana dan dari parpol apa.
Pemilih muda masih menunggu waktu yang tepat untuk memutuskan siapa caleg yang mampu menyuarakan aspirasi generasi mereka yang atraktif, dinamis, dan progresif. Pemilu legislatif 9 April akan menjadi pengalaman pertama bagi puluhan juta kaum muda untuk mencoblos.
Kelompok yang sangat akrab dengan teknologi informasi ini pun akan sibuk mencari sosok caleg melalui internet dan media sosial. Tentu ini peluang bagi caleg-caleg yang sosoknya mudah diakses lewat berbagai media internet.
Meski bukan jaminan mereka yang akan dipilih, paling tidak tampil di media internet dan sosial media adalah modal tersendiri bagi caleg untuk menyasar para pemilih muda yang masih galau ini. Namun, cukupkah dengan itu?
Dalam diskusi bertema adu strategi parpol untuk menggaet pemilih muda yang digelar koran ini, terungkap bahwa caleg ataupun parpol belum memiliki pendekatan yang jitu untuk menaklukkan kegalauan hati kaum muda untuk berpartisipasi dalam pemilu. Apatisme kaum muda terhadap politik masih cukup tinggi.
Hal ini membuat generasi ini semakin cuek alias tidak peduli dengan momentum 9 April. Apalagi, beberapa waktu belakangan banyak politikus yang terseret kasus korupsi di KPK. Tentu saja ini contoh buruk yang mestinya perlu diantisipasi oleh tokoh-tokoh parpol. Parpol mestinya membuat program-program kreatif khusus untuk kaum muda, jauh hari sebelum hari pencoblosan.
Parpol sudah berupaya mendekati pemilih muda ini dengan berbagai cara. Misalnya dengan memasang caleg-caleg yang diidolakan kaum muda ataupun dengan mendirikan sayap-sayap organisasi kepemudaan.
Namun bagi para mahasiswa, cara-cara tersebut masih belum menarik perhatian mereka. Pendekatannya masih satu arah dan kurang melibatkan gagasan-gagasan kaum muda dalam merumuskan program parpol.
Padahal, kelompok ini sedang giat-giatnya berekspresi untuk mendapat pengakuan. Tapi sayang, pola komunikasi yang disampaikan para caleg belum mampu menyentuh rasa penasaran kaum muda untuk terlibat dalam pemilu. Merangsang partisipasi kaum muda dalam pemilu memang bukan persoalan sederhana.
Diperlukan stamina dan pemahaman yang tepat untuk mengajak dengan bahasa yang identik dengan keseharian mereka. Hanya dengan melibatkan langsung, mereka akan tergerak untuk berpartisipasi dalam politik.
Apatisme politik di kalangan muda bukan hanya persoalan caleg atau parpol, melainkan persoalan seluruh komponen bangsa. Bayangkan jika jumlah kaum muda yang apatis dengan politik semakin banyak, siapa lagi yang akan meneruskan kepemimpinan para pendahulunya. Regenerasi politik dan kepemimpinan nasional bisa terancam.
Karena itu, golput yang pada Pemilu 2009 lalu angkanya cukup tinggi harus diminimalisasi semaksimal mungkin pada Pemilu 2014 ini. Solusinya memang bukan langkah instan, melainkan harus dengan proses panjang dari parpol, pemerintah, dan komponen masyarakat sipil.
Pendidikan politik yang baik dan sistematis bagi kaum muda adalah salah satu cara yang bisa dilakukan. Pendidikan politik tidak boleh hanya dilakukan ketika sudah dekat dengan pemilu. Pendidikan politik harus dilakukan dengan periodisasi yang jelas, kontinu, dan terprogram dengan baik.
Namun faktanya, para politikus kita masih senang dengan cara-cara instan melalui memobilisasi massa melalui imingiming materi. Siapa yang memiliki banyak uang, dia akan memiliki banyak dukungan. Padahal, dukungan itu bersifat semu dan artifisial belaka.
Kaum muda bukanlah kelompok pemilih yang mudah dimobilisasi dengan motif materi. Mereka akan lebih tertarik dengan ide dan gagasan penuh terobosan. Kita tunggu apakah parpol mampu menjawab tantangan ini pada 9 April nanti.
Pemilih muda masih menunggu waktu yang tepat untuk memutuskan siapa caleg yang mampu menyuarakan aspirasi generasi mereka yang atraktif, dinamis, dan progresif. Pemilu legislatif 9 April akan menjadi pengalaman pertama bagi puluhan juta kaum muda untuk mencoblos.
Kelompok yang sangat akrab dengan teknologi informasi ini pun akan sibuk mencari sosok caleg melalui internet dan media sosial. Tentu ini peluang bagi caleg-caleg yang sosoknya mudah diakses lewat berbagai media internet.
Meski bukan jaminan mereka yang akan dipilih, paling tidak tampil di media internet dan sosial media adalah modal tersendiri bagi caleg untuk menyasar para pemilih muda yang masih galau ini. Namun, cukupkah dengan itu?
Dalam diskusi bertema adu strategi parpol untuk menggaet pemilih muda yang digelar koran ini, terungkap bahwa caleg ataupun parpol belum memiliki pendekatan yang jitu untuk menaklukkan kegalauan hati kaum muda untuk berpartisipasi dalam pemilu. Apatisme kaum muda terhadap politik masih cukup tinggi.
Hal ini membuat generasi ini semakin cuek alias tidak peduli dengan momentum 9 April. Apalagi, beberapa waktu belakangan banyak politikus yang terseret kasus korupsi di KPK. Tentu saja ini contoh buruk yang mestinya perlu diantisipasi oleh tokoh-tokoh parpol. Parpol mestinya membuat program-program kreatif khusus untuk kaum muda, jauh hari sebelum hari pencoblosan.
Parpol sudah berupaya mendekati pemilih muda ini dengan berbagai cara. Misalnya dengan memasang caleg-caleg yang diidolakan kaum muda ataupun dengan mendirikan sayap-sayap organisasi kepemudaan.
Namun bagi para mahasiswa, cara-cara tersebut masih belum menarik perhatian mereka. Pendekatannya masih satu arah dan kurang melibatkan gagasan-gagasan kaum muda dalam merumuskan program parpol.
Padahal, kelompok ini sedang giat-giatnya berekspresi untuk mendapat pengakuan. Tapi sayang, pola komunikasi yang disampaikan para caleg belum mampu menyentuh rasa penasaran kaum muda untuk terlibat dalam pemilu. Merangsang partisipasi kaum muda dalam pemilu memang bukan persoalan sederhana.
Diperlukan stamina dan pemahaman yang tepat untuk mengajak dengan bahasa yang identik dengan keseharian mereka. Hanya dengan melibatkan langsung, mereka akan tergerak untuk berpartisipasi dalam politik.
Apatisme politik di kalangan muda bukan hanya persoalan caleg atau parpol, melainkan persoalan seluruh komponen bangsa. Bayangkan jika jumlah kaum muda yang apatis dengan politik semakin banyak, siapa lagi yang akan meneruskan kepemimpinan para pendahulunya. Regenerasi politik dan kepemimpinan nasional bisa terancam.
Karena itu, golput yang pada Pemilu 2009 lalu angkanya cukup tinggi harus diminimalisasi semaksimal mungkin pada Pemilu 2014 ini. Solusinya memang bukan langkah instan, melainkan harus dengan proses panjang dari parpol, pemerintah, dan komponen masyarakat sipil.
Pendidikan politik yang baik dan sistematis bagi kaum muda adalah salah satu cara yang bisa dilakukan. Pendidikan politik tidak boleh hanya dilakukan ketika sudah dekat dengan pemilu. Pendidikan politik harus dilakukan dengan periodisasi yang jelas, kontinu, dan terprogram dengan baik.
Namun faktanya, para politikus kita masih senang dengan cara-cara instan melalui memobilisasi massa melalui imingiming materi. Siapa yang memiliki banyak uang, dia akan memiliki banyak dukungan. Padahal, dukungan itu bersifat semu dan artifisial belaka.
Kaum muda bukanlah kelompok pemilih yang mudah dimobilisasi dengan motif materi. Mereka akan lebih tertarik dengan ide dan gagasan penuh terobosan. Kita tunggu apakah parpol mampu menjawab tantangan ini pada 9 April nanti.
(nfl)