Persiapan TNI AL saat komando Dwikora

Kamis, 20 Februari 2014 - 13:45 WIB
Persiapan TNI AL saat...
Persiapan TNI AL saat komando Dwikora
A A A
Sindonews.com - Dikomandokannya Dwikora oleh Presiden Soekarno pada 3 Mei 1964 di Jakarta, mendapat sambutan baik dari masyarakat, termasuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), sekarang disebut Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Hal ini terbukti, rakyat Indonesia berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai sukarelawan Dwikora, sehingga mencapai jumlah 21 juta sukarelawan.

Dalam masa perjuangan Dwikora ketika konfrontasi dengan Negara Malaysia. TNI Angkatan Laut (AL) mengirimkan 300 prajurit yang terdiri dari Kopral dan Perwira. Sebelum melaksanakan operasi, diwajibkan mengikuti pendidikan khusus di Cisarua, Bogor.

Selesai latihan, pasukan ini dibagi dalam beberapa tim dengan kode Kesatuan Brahma dan ditugaskan di daerah Semenanjung Malaya (Basis II) dan di Kalimantan Utara (Basis IV).

"Tim ini dikerahkan di Semenanjung Malaya terdiri dari tim Brahma I beranggotakan 45 orang, tim Brahma II 50 orang, tim Brahma III 45 orang dan tim Brahma IV 22 orang," seperti dikutip Sindonews dari buku Usman dan Harun Prajurit Setia yang diterbitkan TNI Angkatan Laut (AL), Kamis (20/2/2014).

Semenanjung Malaya (Basis II) dibagi beberapa sub basis. Pertama sub basis X yang berpangkalan di Pulau Sambu dan Pulau Rengat, dengan sasaran Singapura. Sub basis Y dengan sasaran Johor bagian barat dan Pangkalan Tanjung Balai.

Kemudian sub basis T berpangkalan di Pulau Sambu dengan sasaran Negeri Sembilan, Selangor dan Kuala Lumpur, untuk sub basis Z dengan sasaran Johor bagian timur.

Sedangkan tugas tim Basis II ini mempersiapkan kantong gerilya di daerah lawan, melatih gerilyawan dari dalam dan mengembalikan lagi ke daerah masing-masing, melaksanakan demolision, sabotase objek militer maupun ekonomis.

"Selain itu, mengadakan propaganda, perang urat syaraf, mengumpulkan informasi dan melakukan kontra intelijen."

Diangkatnya artikel ini, terkait dengan polemik KRI Usman Harun. Nama Usman Harun mencuat setelah protes Pemerintah Singapura terhadap pemberian nama kapal perang milik TNI AL, KRI Usman Harun. Pemerintah Singapura menilai nama Usman dan Harun merupakan dua tokoh yang kontroversial dan menggemparkan negeri tersebut.

Sedangkan Indonesia menilai, dua nama tersebut merupakan pemuda yang mampu memberikan semangat dengan aksi heroiknya, pada masa perjuangan Dwikora. Saat itu Usman dan Harun bisa menjadi figur sentral untuk menegakkan kehormatan demi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Usman Harun mampu jatuhkan pesawat tempur
(maf)
Berita Terkait
Tenggelam di Mamberamo...
Tenggelam di Mamberamo Raya Papua, Penumpang Dievakuasi
Resmi Sertijab, Posisi...
Resmi Sertijab, Posisi Wagub AAL Kini Dijabat Laksma TNI Arif Badrudin
Laksamana Malahayati...
Laksamana Malahayati Menginspirasi TNI Angkatan Laut
3 Jenderal TNI AU yang...
3 Jenderal TNI AU yang Pernah Menjabat Sebagai Panglima TNI, Terakhir KSAU Pertama di Indonesia
Peringatan HUT ke-79...
Peringatan HUT ke-79 TNI Angkatan Laut
5 Negara Asia dengan...
5 Negara Asia dengan Angkatan Laut Terkuat, Indonesia Patut Bangga
Berita Terkini
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
ASPEK Indonesia Temui...
ASPEK Indonesia Temui Pimpinan UNI Global Union di Jenewa
Infografis
7 Kolonel TNI AL Pecah...
7 Kolonel TNI AL Pecah Bintang, Ada Dankopaska Koarmada RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved