Pemilu serentak 2019, Golkar sindir Yusril

Jum'at, 24 Januari 2014 - 20:13 WIB
Pemilu serentak 2019,...
Pemilu serentak 2019, Golkar sindir Yusril
A A A
Sindonews.com - Ketua Dewan Syuro Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra disindir Partai Golkar terkait putusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan gugatan Effendi Ghazali soal Undang-undang Pilpres.

Sindiran itu dilontarkan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Leo Nababan terkait putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan pemilu serentak yang diajukan oleh pakar komunikasi politik, Effendi Gazali.

Leo Nababan menegaskan, Partai Golkar menghormati putusan MK yang mengabulkan sebagian permohonan yang diajukan Effendi Ghazali tersebut. "Soal Yusril bersedih, ya itulah demokrasi," ujar Leo di Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Jumat (24/1/2014).

Sebab, kata Leo, tak ada keputusan politik manapun yang memuaskan semua pihak. Menurut Leo, terdapat win-win solution dalam keputusan MK yang menyatakan pemilu serentak diterapkan mulai tahun 2019 itu.

"Kalau pemilu serentaknya bulan Juli tahun ini pasti Daftar Pemilih Tetap (DPT) berubah, kartu undangan berubah. Jadi, saya minta Pak Yusril sehat-sehat saja," ungkapnya.

Sebelumnya, Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra menilai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait Undang-undang Pilpres penuh misteri. MK seolah ditekan oleh parpol-parpol besar agar pemilu serentak baru dilaksanakan tahun 2019.

Karena itu, Yusril sedang berpikir-pikir untuk mencabut gugatan uji materi Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

“Kini saya sedang pertimbangkan, apakah saya akan meneruskan permohonan saya atau tidak. Saya akan ambil keputusan setelah menimbang-nimbangnya dengan seksama,” ucap Yusril dalam rilisnya.

Menurut Ketua Umum Partai Bulan Bintan (PBB) ini, atas dasar itu dinyatakanlah putusan baru berlaku untuk Pemilu 2019. Ia juga merasa aneh gugatan dirinya dan Effendi Ghazali tidak diputus secara bersama-sama padahal permohonannya memiliki kesamaan.

“Kalau permohonan saya dengan Effendi banyak kesamaannya, mengapa MK tak satukan saja pembacaan putusan, agar 2 permohonan sama-sama jadi pertimbangan?” tanya Yusril.

Baca berita:
Uji UU Pilpres, Yusril ngaku jadi sasaran kecurigaan
(kri)
Berita Terkait
Kawal Pilpres Berintegritas,...
Kawal Pilpres Berintegritas, MK Sebaiknya Tunda Sidang Uji Materi UU Pemilu
Tegas! Ganjar Bakal...
Tegas! Ganjar Bakal Revisi UU Cipta Kerja jika Menang Pilpres 2024
Tegaskan Presiden Punya...
Tegaskan Presiden Punya Hak Berkampanye, Jokowi: Jangan Ditarik ke Mana-mana
Prabowo-Gibran Menang...
Prabowo-Gibran Menang Pilpres, Ketua Umum Relawan Betawi RPG Singgung UU DKJ
Dorong Revisi UU Pemilu,...
Dorong Revisi UU Pemilu, PKS Tidak Ingin Ada Politik Identitas di Pilpres
Profil Almas, Penggugat...
Profil Almas, Penggugat UU Pemilu yang Buka Jalan Gibran Maju di Pilpres 2024
Berita Terkini
Perang Iran 20266: Ketika...
Perang Iran 20266: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo akan Menerima...
Prabowo akan Menerima Surat Kepercayaan dari 17 Dubes pada 8 Juni 2026
Said Iqbal soal Sinyal...
Said Iqbal soal Sinyal Masuk Kabinet Prabowo: Kita Tunggu Pengumuman Resmi
3 Pati dan Pamen Dimutasi...
3 Pati dan Pamen Dimutasi Kapolri ke Kortastipidkor, Ada Irjen hingga Kombes Pol
7 Terdakwa Kasus Suap...
7 Terdakwa Kasus Suap Sertifikasi K3 Kemnaker Dihukum 4 hingga 6,5 Tahun Penjara
Survei Poltracking:...
Survei Poltracking: 42,4% Publik Setuju MK Hapus Presidential Threshold
Infografis
Rezim Zelensky Panik,...
Rezim Zelensky Panik, Rusia dan AS Kompak Tekan Ukraina Gelar Pemilu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved