Natal & Tahun Baru, gangguan terorisme jadi prioritas
Selasa, 24 Desember 2013 - 09:02 WIB
Natal & Tahun Baru, gangguan terorisme jadi prioritas
A
A
A
Sindonews.com - Gangguan utama yang harus diwaspadai saat perayaan Natal dan Tahun baru adalah gangguan terorisme. Sebab, momen tersebut sangat rawan digunakan teroris untuk melakukan aksinya.
Hal tersebut diungkapkan Kapolda Jateng, Irjen Pol Dwi Priyatno saat ditemui usai menghadiri gelar pasukan Operasi Lilin Candi di Lapangan Pancasila Simpanglima Kota Semarang, Senin 23 Desember 2013.
"Kita tahu ancaman yang paling diwaspadai adalah terorisme. Masyarakat juga diharapkan melapor kepada petugas jika ada sesuatu yang mencurigakan," kata Dwi kepada wartawan setelah upacara selesai.
Lebih lanjut, Dwi mengatakan, pihaknya akan secara optimal melakukan pengamanan di sejumlah titik-titik rawan. Setidaknya, sekitar 11.554 personil kepolisian dan 1.500 anggota TNI dikerahkan untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru di Jawa Tengah itu.
"Kami mengerahkan pasukan tersebut untuk melakukan pengamanan di sejumlah titik rawan gangguan Kamtibmas. Kami juga akan menggelar Operasi Lilin Candi 2013 selama 10 hari ke depan," imbuhnya.
Selain itu, pihak kepolisian juga akan memasang security door atau pintu metal detector di sejumlah gereja. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya barang berbahaya yang masuk ke gereja seperti bom maupun senjata berbahaya lainnya.
Untuk itu pihaknya berharap agar umat yang akan merayakan Natal di gereja hanya membawa benda yang dibutuhkan saja seperti kitab suci."Ini imbauan, tidak usah bawa tas ketika memasuki gereja. Bawa Alkitab saja, sehingga memudahkan pemeriksaan," pungkasnya.
Dalam pengamanan Natal dan Tahun Baru, sacara nasional akan disiagakan 92 ribu lebih personel kepolisian. Sebagian akan di tempatkan 1.962 pos yang sudah disiapkan di berbagai daerah termasuk Jateng.
Sementara di Kota Semarang, pihak Polrestabes Semarang telah menyiagakan 1500 lebih pasukan untuk pengamanan perayaan Natal dan Tahun Baru. Pasukan itu akan di tempatkan di sejumlah titik seperti gereja dan tempat keramaian lainnya.
"Semua pasukan itu akan ditempatkan di sejumlah gereja dan tempat keramaian di Kota Semarang untuk pengamanan Natal dan Tahun Baru," kata dia.
Menurut Djohartono, pihaknya akan optimal mengamankan perayaan Natal dari berbagai ancaman. Karena menurutnya, semua gereja di Kota Semarang dianggap sebagai titik rawan.
"Semua Gereja akan menjadi prioritas kami. Karena kami anggap rawan, untuk itu kami akan optimal untuk melakukan pengamanan," imbuhnya.
Selain itu Djihartono berharap proses perayaan Natal dan Tahun Baru dapat berjalan lancar. Ia juga berharap semua lapisan masyarakat untuk membantu proses itu dengan saling menjaga keamanan dan ketertiban.
"Kami harap masyarakat juga terlibat dalam mewujudkan kondisi yang aman saat perayaan itu," ujarnya.
Di lain sisi, saat ditanya soal perkembangan mengenai kasus dua spanduk bernada SARA, Djihartono mengaku masih mendalaminya. Sampai saat ini, pihaknya mengaku masih menyelidiki motif dari pemasangan spanduk itu.
"Itu masih terus kami selidiki apa motifnya. Mudah-mudahan tidak berbuntut panjang," pungkasnya.
Hal tersebut diungkapkan Kapolda Jateng, Irjen Pol Dwi Priyatno saat ditemui usai menghadiri gelar pasukan Operasi Lilin Candi di Lapangan Pancasila Simpanglima Kota Semarang, Senin 23 Desember 2013.
"Kita tahu ancaman yang paling diwaspadai adalah terorisme. Masyarakat juga diharapkan melapor kepada petugas jika ada sesuatu yang mencurigakan," kata Dwi kepada wartawan setelah upacara selesai.
Lebih lanjut, Dwi mengatakan, pihaknya akan secara optimal melakukan pengamanan di sejumlah titik-titik rawan. Setidaknya, sekitar 11.554 personil kepolisian dan 1.500 anggota TNI dikerahkan untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru di Jawa Tengah itu.
"Kami mengerahkan pasukan tersebut untuk melakukan pengamanan di sejumlah titik rawan gangguan Kamtibmas. Kami juga akan menggelar Operasi Lilin Candi 2013 selama 10 hari ke depan," imbuhnya.
Selain itu, pihak kepolisian juga akan memasang security door atau pintu metal detector di sejumlah gereja. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya barang berbahaya yang masuk ke gereja seperti bom maupun senjata berbahaya lainnya.
Untuk itu pihaknya berharap agar umat yang akan merayakan Natal di gereja hanya membawa benda yang dibutuhkan saja seperti kitab suci."Ini imbauan, tidak usah bawa tas ketika memasuki gereja. Bawa Alkitab saja, sehingga memudahkan pemeriksaan," pungkasnya.
Dalam pengamanan Natal dan Tahun Baru, sacara nasional akan disiagakan 92 ribu lebih personel kepolisian. Sebagian akan di tempatkan 1.962 pos yang sudah disiapkan di berbagai daerah termasuk Jateng.
Sementara di Kota Semarang, pihak Polrestabes Semarang telah menyiagakan 1500 lebih pasukan untuk pengamanan perayaan Natal dan Tahun Baru. Pasukan itu akan di tempatkan di sejumlah titik seperti gereja dan tempat keramaian lainnya.
"Semua pasukan itu akan ditempatkan di sejumlah gereja dan tempat keramaian di Kota Semarang untuk pengamanan Natal dan Tahun Baru," kata dia.
Menurut Djohartono, pihaknya akan optimal mengamankan perayaan Natal dari berbagai ancaman. Karena menurutnya, semua gereja di Kota Semarang dianggap sebagai titik rawan.
"Semua Gereja akan menjadi prioritas kami. Karena kami anggap rawan, untuk itu kami akan optimal untuk melakukan pengamanan," imbuhnya.
Selain itu Djihartono berharap proses perayaan Natal dan Tahun Baru dapat berjalan lancar. Ia juga berharap semua lapisan masyarakat untuk membantu proses itu dengan saling menjaga keamanan dan ketertiban.
"Kami harap masyarakat juga terlibat dalam mewujudkan kondisi yang aman saat perayaan itu," ujarnya.
Di lain sisi, saat ditanya soal perkembangan mengenai kasus dua spanduk bernada SARA, Djihartono mengaku masih mendalaminya. Sampai saat ini, pihaknya mengaku masih menyelidiki motif dari pemasangan spanduk itu.
"Itu masih terus kami selidiki apa motifnya. Mudah-mudahan tidak berbuntut panjang," pungkasnya.
(kri)