Kondomisasi

Jum'at, 06 Desember 2013 - 06:08 WIB
Kondomisasi
Kondomisasi
A A A
HARI AIDS sedunia 1 Desember lalu memunculkan kontroversi. Cerita ini terjadi ketika peringatan yang diarahkan untuk kampanye memerangi penyakit yang disebabkan infeksi virus HIV itu diwarnai dengan Pekan Kondom Nasional (PKN).

Kontroversi terjadi karena PKN yang digelar dari 1–7 Desember diisi dengan acara bagi-bagi kondom ke kampus dan sekolah- sekolah. Kontan saja, langkah ini menuai kritik dari sejumlah kalangan. Tak kurang dari Majelis Ulama Indonesia, ormas Islam, organisasi mahasiswa, dan tokoh nasional turun gunung untuk beramai- ramai mengecam program tersebut.

Malah, sebuah ormas memberi gelar kepada Menteri Kesehatan Nafsiah Mboy sebagai Ratu Kondom karena dianggap mendukung program tersebut. Selain kritik, protes ada yang diwujudkan dalam demonstrasi di kampus-kampus, beberapa di antaranya diwarnai benturan fisik. Muara kritik adalah, langkah yang dipilih tersebut sama halnya melegalkan seks bebas.

Mengampanyekan penanggulan HIV/AIDS dengan cara tersebut menunjukkan rendahnya pemahaman otoritas terkait terhadap etika dan nilai moral serta kondisi sosiologis masyarakat Indonesia. Pendek kata, gerakan kondomisasi tersebut adalah program ngawur dan harus dicabut karena bisa menimbulkan bencana baru.

Pihak pendukung program tersebut, termasuk Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), sejauh ini bersikukuh tidak ada yang salah dengan program tersebut. Selain berkeyakinan dengan manfaat kondom untuk mencegah penularan HIV/AIDS, mereka juga beralasan kampanye di kampus dan sekolah merupakan bagian dari program komprehensif kampanye anti-AIDS. Tetapi, kalau diselisik lebih jauh, kritikan yang kemudian muncul juga bisa dipahami.

Membagi kondom memang bisa berpotensi mengampanyekan seks bebas di kalangan remaja. Ibarat membagi permen ke anak-anak, pembagian kondom bisa menjadi ajakan untuk mencobanya. Potensi tersebut sangat mungkin terjadi jika penerima adalah mereka yang tidak mempunyai fondasi akhlak kuat. Pembagian kondom ke kalangan mahasiswa juga tidak tepat sasaran.

Semestinya, kampanye tersebut langsung ke sasarannya, yakni tempat atau pusat pergerakan para hidung belang atau mereka yang berpotensi tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual. Kalau pun harus kampanye ke kampus, caranya bukan bagi-bagi kondom, tapi program yang bersifat edukatif seperti diskusi atau bimbingan spiritual.

Dalam konteks berpikir sistem, intervensi yang dilakukan dengan membagi kondom ke kampus dan sekolah juga dipastikan tidak efektif karena sejatinya kondom bukanlah solusi utama pencegahan HIV/AIDS. Semestinya yang dikampanyekan adalah bagaimana masyarakat bisa menjauhi seks bebas dan menggunakan narkoba yang menjadi sumber utama penularan AIDS, sembari terus mengingatkan bahaya HIV/AIDS yang tidak bisa disembuhkan.

Kementerian Kesehatan dan KPAN sendiri pada akhirnya lepas tangan terhadap program kondomisasi tersebut dengan dalih program tersebut merupakan program swasta––produsen kondom DKT Indonesia––dan mereka pun tidak menggelontorkan dana untuk program tersebut.

Akan tetapi, persetujuan yang diberikan dengan memberi perizinan terhadap pelaksanaan program tersebut secara nasional, sebenarnya menunjukkan bahwa kedua lembaga tersebut harus bertanggung jawab. Kecuali mereka sudah tidak mempunyai kepekaan lagi terhadap karakter sosiologis masyarakat, karena sudah terseret jauh alur pemikiran liberalistis.
(nfl)
Berita Terkait
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Mendata Masyarakat Miskin...
Mendata Masyarakat Miskin Baru
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Berita Terkini
Kabar Duka, Mantan Dubes...
Kabar Duka, Mantan Dubes Prof Bachtiar Aly Meninggal Dunia
Prabowo, Jokowi, SBY...
Prabowo, Jokowi, SBY Kompak Hadiri Pernikahan Putra Boy Thohir
Hasto Singgung Febrie...
Hasto Singgung Febrie Tak Diborgol: Peringatkan Bahaya Ketidakadilan Hukum
Hari Mangrove Sedunia,...
Hari Mangrove Sedunia, Pemerintah dan APHI Dorong Pengelolaan Berkelanjutan
Prabowo Bentuk 7 Kejari...
Prabowo Bentuk 7 Kejari Baru Lewat Perpres 40 Tahun 2026, Raja Ampat hingga Pangandaran Masuk Daftar
Indonesia Dorong Dewan...
Indonesia Dorong Dewan Keamanan PBB Perkuat Pencegahan Konflik-ASEAN dan Jadi Mitra Perdamaian
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved