Publik cemas menanti kinerja KPU benahi DPT
Kamis, 28 November 2013 - 08:06 WIB
Publik cemas menanti kinerja KPU benahi DPT
A
A
A
Sindonews.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus menjadi sorotan terkait Daftar Pemilih Tetap (DPT). Pasalnya, kurang dua pekan lagi KPU bakal melakukan rekapitulasi ulang secara nasional hasil perbaikan 10,4 juta DPT bermasalah.
Peneliti Senior Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus mengatakan, kerja sungguh-sungguh menjadi tuntutan bagi KPU. Terutama setelah Partai Gerindra dan PDIP melayangkan nota protes (somasi) menuntut keseriusan KPU akan hal itu.
"Tentu sodoran bukti dari Gerindra mengenai adanya 'pemilih hantu' membuktikan belum cukup seriusnya KPU menggarap DPT. Tentu saja KPU tak bisa mengelak temuan-temuan ini, selain membuktikan kebenaran atau kekeliruan data-data ini," ujarnya kepada Sindonews, Kamis (28/11/2013).
Menurutnya, temuan Gerindra juga sekaligus ingin menelanjangi KPU yang sejauh ini semakin tidak perform dalam memastikan proses Pemilu 2014 berlangsung dengan baik.
"Selama ini KPU menampakkan diri sebagai penyelenggara dengan kerja yang terkontrol. Akan tetapi banyaknya temuan dari pihak lain terkait ketidakbecusan DPT tak mampu lagi menyembunyikan kekusutan kinerja mereka," tandasnya.
Ada dua kemungkinan, kata Lucius, KPU memang tidak mampu bekerja, atau KPU memang terperangkap dalam skenario permainan yang sudah terlanjur disepakati diam-diam dengan kelompok tertentu.
Ditambahkannya, kerawanan utama Pemilu 2014 memang ada pada integritas penyelenggara pemilu. Sejauh ini, lanjut dia, masyarakat hanya bisa harap-harap cemas dengan kondisi penyelenggara pemilu kita.
"Semoga DPT hanya merupakan masalah teknis-administratif semata, tanpa design permainan yang sengaja dilakukan oleh KPU dan kelompok kepentingan tertentu," pungkasnya.
Baca berita:
KPU: Hanya PDIP & Gerindra persoalkan DPT
Peneliti Senior Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus mengatakan, kerja sungguh-sungguh menjadi tuntutan bagi KPU. Terutama setelah Partai Gerindra dan PDIP melayangkan nota protes (somasi) menuntut keseriusan KPU akan hal itu.
"Tentu sodoran bukti dari Gerindra mengenai adanya 'pemilih hantu' membuktikan belum cukup seriusnya KPU menggarap DPT. Tentu saja KPU tak bisa mengelak temuan-temuan ini, selain membuktikan kebenaran atau kekeliruan data-data ini," ujarnya kepada Sindonews, Kamis (28/11/2013).
Menurutnya, temuan Gerindra juga sekaligus ingin menelanjangi KPU yang sejauh ini semakin tidak perform dalam memastikan proses Pemilu 2014 berlangsung dengan baik.
"Selama ini KPU menampakkan diri sebagai penyelenggara dengan kerja yang terkontrol. Akan tetapi banyaknya temuan dari pihak lain terkait ketidakbecusan DPT tak mampu lagi menyembunyikan kekusutan kinerja mereka," tandasnya.
Ada dua kemungkinan, kata Lucius, KPU memang tidak mampu bekerja, atau KPU memang terperangkap dalam skenario permainan yang sudah terlanjur disepakati diam-diam dengan kelompok tertentu.
Ditambahkannya, kerawanan utama Pemilu 2014 memang ada pada integritas penyelenggara pemilu. Sejauh ini, lanjut dia, masyarakat hanya bisa harap-harap cemas dengan kondisi penyelenggara pemilu kita.
"Semoga DPT hanya merupakan masalah teknis-administratif semata, tanpa design permainan yang sengaja dilakukan oleh KPU dan kelompok kepentingan tertentu," pungkasnya.
Baca berita:
KPU: Hanya PDIP & Gerindra persoalkan DPT
(kri)