Menkominfo: Hati-hati, semua alat komunikasi mudah disadap
Selasa, 26 November 2013 - 13:45 WIB
Menkominfo: Hati-hati, semua alat komunikasi mudah disadap
A
A
A
Sindonews.com - Penyadapan yang dilakukan Intel Australia, membuat hubungan Indonesia dengan Negara Kangguru ini semakin memanas. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring meminta untuk berhati-hati dalam memakai alat telekomunikasi.
“Penyadapan itu harus diantisipasi pertama, meningkat kesadaran kita dulu bahwa penyadapan itu terjadi dimana-mana, kita harus waspada serta terus meningkat teknologi pengamanan kita, itu akan lebih baik,” ujarnya usai membuka acara Kongres VI dan Seminar Besar Nasional Komonikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, di Hotel Pangeran Beach Padang, Selasa (26/11/2013).
Yang kedua, kata dia, perlu dibuat standarisasi komunikasi yang lebih bai. Walaupun selama ini sudah ada standar-standar terutama pejabat petinggi negara, presiden dan wakil presiden, para menteri, pimpinan lembaga negara itu perlu dibuat standarnya.
“Karena pasti ada yang menyadap, asumsinya seperti itu supaya ada kehati-hatian,” ujarnya.
Langkah ketiga, para pejabat harus hati-hati kalau bicara ditelepon menggunakan alat elektronik karena semuanya alat elektronik itu mudah disadap.
“Dan kasus ini jangan terlalu berlebihan menanggapinya. Jerman saja negara yang teknologinya jauh lebih maju bisa disadap juga, Perancis juga terkenal negara peluncuran satelit dan pembuat satelit tapi presidennya juga disadap, Meksiko, Brazil, dan beberapa negara Eropa lainnya,” terangnya.
Tifatul menambahkan mengenai pengamanan Ring 1, presiden dan wapres sudah dijalankan sesuai prosedur. “Tapi yang namanya titik penyadapan bisa di HP dengan memakai alat penyadap atau juga antar telepon dengan BTS antar tower dengan tower dan tower dengan satelit juga bisa disadap,” pungkasnya.
Baca berita:
Cegah penyadapan, pemerintah diminta bentuk badan auditor teknologi
“Penyadapan itu harus diantisipasi pertama, meningkat kesadaran kita dulu bahwa penyadapan itu terjadi dimana-mana, kita harus waspada serta terus meningkat teknologi pengamanan kita, itu akan lebih baik,” ujarnya usai membuka acara Kongres VI dan Seminar Besar Nasional Komonikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, di Hotel Pangeran Beach Padang, Selasa (26/11/2013).
Yang kedua, kata dia, perlu dibuat standarisasi komunikasi yang lebih bai. Walaupun selama ini sudah ada standar-standar terutama pejabat petinggi negara, presiden dan wakil presiden, para menteri, pimpinan lembaga negara itu perlu dibuat standarnya.
“Karena pasti ada yang menyadap, asumsinya seperti itu supaya ada kehati-hatian,” ujarnya.
Langkah ketiga, para pejabat harus hati-hati kalau bicara ditelepon menggunakan alat elektronik karena semuanya alat elektronik itu mudah disadap.
“Dan kasus ini jangan terlalu berlebihan menanggapinya. Jerman saja negara yang teknologinya jauh lebih maju bisa disadap juga, Perancis juga terkenal negara peluncuran satelit dan pembuat satelit tapi presidennya juga disadap, Meksiko, Brazil, dan beberapa negara Eropa lainnya,” terangnya.
Tifatul menambahkan mengenai pengamanan Ring 1, presiden dan wapres sudah dijalankan sesuai prosedur. “Tapi yang namanya titik penyadapan bisa di HP dengan memakai alat penyadap atau juga antar telepon dengan BTS antar tower dengan tower dan tower dengan satelit juga bisa disadap,” pungkasnya.
Baca berita:
Cegah penyadapan, pemerintah diminta bentuk badan auditor teknologi
(kri)