Diperlukan pikiran abnormal untuk ubah Indonesia
Rabu, 20 November 2013 - 16:49 WIB
Diperlukan pikiran abnormal untuk ubah Indonesia
A
A
A
Sindonews.com - Data terakhir pada 2009, jumlah golongan putih (golput) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 mencapai 29,6 persen. Jumlah yang makin meningkat dibanding pemilu sebelumnya, disinyalir akibat ulah buruk perilaku para elite politik.
Sosiolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir mengatakan, saat ini dibutuhkan pemikiran gila dan abnormal.
"Sebab pikiran biasa dan normal tidak terlalu berdampak untuk perubahan Indonesia yang lebih baik, bahkan terkesan hanya pencitraan bagi elite politik. Tapi kita harus optimis untuk bangkit, masih ada harapan dan masih banyak pemuda yang mempunyai semangat baja," kata Zuly di Yogyakarta, Rabu (20/11/2013).
Zuly mengkritik sikap borjuis (bermewahan) para elite politik. Yang kemudian diperparah dengan sikap ketidakpedulian elite politik, memperhatikan masyarakat yang masih banyak terdapat kesengsaraan, lapangan kerja kurang memadai, fasilitas umum tidak layak lagi digunakan.
Menurutnya, kebanyakan calon anggota legislatif (caleg) yang ikut dalam pemilu pada awalnya peduli pada masyarakat, tapi setelah duduk di kursi dewan lupa pada rakyat.
"Inilah yang saya katakan politisi kita tidak memiliki etika dan fatsun politik atas anak negeri yang jumlahnya lebih banyak. Tapi para elit politik tertawa dengan bergelimang harta di atas penderitaan rakyat, sudah jelas sikap apatis akan meningkat,” ungkap Dosen Ilmu Pemerintahan UMY ini.
Berita terkait:
Pemilu 2014 penuh polemik, masyarakat makin jengah.
Sosiolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir mengatakan, saat ini dibutuhkan pemikiran gila dan abnormal.
"Sebab pikiran biasa dan normal tidak terlalu berdampak untuk perubahan Indonesia yang lebih baik, bahkan terkesan hanya pencitraan bagi elite politik. Tapi kita harus optimis untuk bangkit, masih ada harapan dan masih banyak pemuda yang mempunyai semangat baja," kata Zuly di Yogyakarta, Rabu (20/11/2013).
Zuly mengkritik sikap borjuis (bermewahan) para elite politik. Yang kemudian diperparah dengan sikap ketidakpedulian elite politik, memperhatikan masyarakat yang masih banyak terdapat kesengsaraan, lapangan kerja kurang memadai, fasilitas umum tidak layak lagi digunakan.
Menurutnya, kebanyakan calon anggota legislatif (caleg) yang ikut dalam pemilu pada awalnya peduli pada masyarakat, tapi setelah duduk di kursi dewan lupa pada rakyat.
"Inilah yang saya katakan politisi kita tidak memiliki etika dan fatsun politik atas anak negeri yang jumlahnya lebih banyak. Tapi para elit politik tertawa dengan bergelimang harta di atas penderitaan rakyat, sudah jelas sikap apatis akan meningkat,” ungkap Dosen Ilmu Pemerintahan UMY ini.
Berita terkait:
Pemilu 2014 penuh polemik, masyarakat makin jengah.
(maf)