Publik diminta tak percaya elektabilitas dari media sosial
Senin, 28 Oktober 2013 - 20:20 WIB
Publik diminta tak percaya elektabilitas dari media sosial
A
A
A
Sindonews.com - Masyarakat disarankan untuk tidak terlalu percaya, terhadap elektabilitas partai politik (parpol) maupun calon presiden (capres) di media sosial.
Pasalnya, parpol maupun capres yang memiliki elektabilitas tertinggi di media sosial, belum tentu memiliki elektabilitas yang sama di dunia nyata.
Sebab, dalam media sosial, ada robot atau engine yang dipekerjakan untuk langsung menjawab secara otomatis, saat nama parpol atau tokoh tertentu diunggah ke dunia maya, dan menjadi pilihan pengguna jejaring media sosial.
"Sebenarnya tidak ada pengaruhnya kalau itu elektabilitas nyata. Masalahnya, itu digunakan untuk meningkatkan nama dia di media online," ujar CEO Katapedia Deddy Rohman, di Restoran Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (28/10/2013).
Menurutnya, pada Pemilukada DKI Jakarta kemarin, terdapat sejumlah akun palsu yang disengaja untuk mendongkrak popularitas tokoh. "Hampir semua melakukan. Robot-robot itu dipakai saat Pemilukada DKI Jakarta," tutur Deddi.
Lebih lanjut dia menuturkan, sangat mudah membuat akun jejaring sosial palsu. Salah satunya yakni dengan mengecek umur si pemilik akun. "Tiba-tiba jumlah akun sangat besar, padahal follower-nya tidak ada," imbuhnya.
Dirinya menambahkan, sejumlah robot tersebut juga bisa langsung memberikan komentar dalam berita di media online terhadap suatu partai atau calon tertentu.
Akun palsu itu langsung membalas, saat ada komentar yang menyindir suatu tokoh. "Makanya komentarnya juga kadang enggak nyambung," ucapnya.
Klik di sini untuk berita terkait.
Pasalnya, parpol maupun capres yang memiliki elektabilitas tertinggi di media sosial, belum tentu memiliki elektabilitas yang sama di dunia nyata.
Sebab, dalam media sosial, ada robot atau engine yang dipekerjakan untuk langsung menjawab secara otomatis, saat nama parpol atau tokoh tertentu diunggah ke dunia maya, dan menjadi pilihan pengguna jejaring media sosial.
"Sebenarnya tidak ada pengaruhnya kalau itu elektabilitas nyata. Masalahnya, itu digunakan untuk meningkatkan nama dia di media online," ujar CEO Katapedia Deddy Rohman, di Restoran Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (28/10/2013).
Menurutnya, pada Pemilukada DKI Jakarta kemarin, terdapat sejumlah akun palsu yang disengaja untuk mendongkrak popularitas tokoh. "Hampir semua melakukan. Robot-robot itu dipakai saat Pemilukada DKI Jakarta," tutur Deddi.
Lebih lanjut dia menuturkan, sangat mudah membuat akun jejaring sosial palsu. Salah satunya yakni dengan mengecek umur si pemilik akun. "Tiba-tiba jumlah akun sangat besar, padahal follower-nya tidak ada," imbuhnya.
Dirinya menambahkan, sejumlah robot tersebut juga bisa langsung memberikan komentar dalam berita di media online terhadap suatu partai atau calon tertentu.
Akun palsu itu langsung membalas, saat ada komentar yang menyindir suatu tokoh. "Makanya komentarnya juga kadang enggak nyambung," ucapnya.
Klik di sini untuk berita terkait.
(stb)