Utang terus bertumbuh

Selasa, 24 September 2013 - 06:34 WIB
Utang terus bertumbuh
Utang terus bertumbuh
A A A
SEANDAINYA rakyat Indonesia dilibatkan langsung untuk melunasi utang pemerintah, setiap orang harus menyisihkan dana sebesar Rp9,1 juta, jumlah yang tidak kecil.

Angka tersebut didasarkan pada total utang pemerintah yang kini tercatat sebesar Rp 2.177,95 triliun per Agustus 2013 dibagi dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa. Utang yang terus bertumbuh itu sangat disayangkan mengingat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah menggaungkan untuk senantiasa meminimalisasi muncul utang baru. Namun, fakta lapangan sulit terbantahkan bahwa utang tetap bertumbuh subur.

Akhir tahun lalu saja jumlah utang pemerintah sekitar Rp1.977,71 triliun kemudian membengkak sebesar Rp200,24 triliun dalam masa delapan bulan. Meski kenaikan utang tersebut mendapat sorotan berbagai kalangan, pemerintah tetap percaya diri dan menilai posisi utang sekarang masih dalam tahap aman terkendali, dalam artian porsi pertumbuhan perekonomian nasional dikaitkan dengan total utang masih dalam tahap wajar.

“Utang kita masih aman. Debt Equity Ratio 2013 masih rendah sekitar 23,4%,” ungkap Direktur Surat Utang Negara, Kementerian Keuangan Loto Srinaita Ginting, di sela peluncuran Obligasi Ritel Indonesia (ORI) 010. Pada kesempatan itu, Loto mengungkapkan, komposisi utang pemerintah tetap terbesar dalam bentuk rupiah sekitar 54,9%, dolar (26,9%), yen (12,4%), euro (2,8%), dan sekitar 29% dalam mata uang lainnya.

Pemerintah bisa saja berdalih bahwa posisi utang yang masih tetap bertumbuh subur dalam batas aman memang tak terbantahkan dengan menggunakan rasio utang terhadap PDB. Realitanya, rasio utang saat ini baru sebesar 26,4% dari PDB yang tercatat sebesar Rp8.241,9 triliun. Dalam lima tahun terakhir ini, rasio utang terhadap PDB memang tergolong rendah, tak pernah lebih dari 30%.

Jadi, salah satu pertimbangan negara atau lembaga pemberi utang ke Pemerintah Indonesia adalah tingkat rasio utang Indonesia terhadap PDB tersebut yang dinilai masih tergolong aman. Tetapi, pernahkah terbayangkan berapa besar dana yang harus disiapkan pemerintah untuk mencicil pokok dan bunga utang dalam setahun? Data terbaru dari Kementerian Keuangan, telah digelontorkan dana sebesar Rp175,427 triliun dalam delapan bulan terakhir ini untuk mencicil pokok dan bunga utang.

Nilai cicilan tersebut setara 58,53% dari target cicilan utang yang akan dibayar pemerintah tahun ini. Cicilan utang untuk periode Januari – Agustus 2013 terdiri atas pokok utang sebesar Rp102,822 triliun (utang luar negeri Rp30,608 triliun, utang dalam negeri Rp71 miliar, obligasi Rp72,143 triliun). Bunga utang sekitar Rp72,605 triliun – meliputi utang luar negeri Rp8,09 triliun, utang dalam negeri Rp53 miliar, dan obligasi Rp64,462 triliun.

Sebenarnya pemerintah berutang itu hal biasa sebab tentu sudah diperhitungkan dengan matang bagaimana cara melunasinya ke depan. Jepang saja sebagai sebuah negara maju dengan kekuatan ekonomi terbesar ketiga dunia setelah Amerika Serikat dan China juga memiliki utang yang tidak kecil. Belum lama ini Pemerintah Jepang mengumumkan total utangnya mencapai 1.000 triliun yen atau sekitar Rp104.000 triliun per Juni 2013 sebagaimana dilansir kantor berita AFP.

Lembaga moneter internasional sudah mewanti-wanti Jepang agar utang tersebut jangan sampai menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Nah, yang terpenting bagaimana utang tersebut dialokasikan agar menjadi produktif. Bagaimana dengan Indonesia? Selama ini pemerintah selalu beralasan penambahan utang atas nama pembangunan infrastruktur. Sayangnya, penarikan utang baru lebih sering terdengar sebagai penambal defisit anggaran.

Tengok saja, untuk APBN-P 2013 sebesar Rp1.726,2 triliun defisit ditetapkan 2,38% terhadap PDB atau Rp224,2 triliun yang ditutup dari utang. Sayangnya, anggaran infrastruktur dalam APBN sangat jauh dari yang diharapkan. Ironis, untuk bayar pokok dan cicilan utang delapan bulan tahun ini pemerintah menghabiskan dana hingga Rp175,427 triliun. Artinya, pemerintah bisa membangun puluhan jalan tol di atas laut seperti di Bali senilai Rp2,4 triliun yang amat dibanggakan itu.
(nfl)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Jejak Uang Rp366,7 Miliar...
Jejak Uang Rp366,7 Miliar ke Pegawai Imipas Bongkar Dugaan Pemerasan oleh Silmy Karim
Kejagung Tak Sita Motor...
Kejagung Tak Sita Motor Listrik Kasus Dugaan Korupsi di Badan Gizi Nasional, Ini Alasannya
Dadan Hindayana Cs Korupsi...
Dadan Hindayana Cs Korupsi Tata Kelola MBG, Noel: Memprihatinkan
Pemerintah Serahkan...
Pemerintah Serahkan 112 DIM RUU Polri ke Komisi III DPR
Dharma Pongrekun Minta...
Dharma Pongrekun Minta MK Kaji Ulang UU Kesehatan Demi Jaga Kedaulatan Bangsa
Infografis
9 Negara yang Pernah...
9 Negara yang Pernah Bangkrut karena Utang Menggila
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved