Partisipasi pemilih diprediksi tak capai target KPU
Jum'at, 13 September 2013 - 02:03 WIB
Partisipasi pemilih diprediksi tak capai target KPU
A
A
A
Sindonews.com - Partisipasi memilih dalam pemilu mendatang dinilai tidak akan mencapai angka yang ditargetkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yakni 75 persen. Pasalnya, tren partisipasi memilih masyarakat ditinjau dari berbagai pemilihan kepala daerah (Pilkada) hanya berkutat kurang lebih di angka 60 persen.
Peneliti Senior Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus memprediksi hanya akan ada 60 persen pemilih yang mendatangi TPS. Dia menilai target yang dipasang KPU terlalu tinggi.
“Padahal gairah sebagaimana tampak pada Pilkada sangat ditentukan oleh adanya figur menarik yang ditawarkan untuk dipilih,” katanya saat dihubungi SINDO, Kamis (12 September 2013) malam.
Lucius mengatakan pemilih sudah belajar dari beberapa pemilu yang telah digelar. Menurutnya, pemilih tidak merasakan dampak pemilu untuk perubahan kehidupan masyarakat.
“Ini terlihat dari wajah caleg yang ditawarkan yang masih dihuni oleh orang-orang lama. Untuk mereka yang cerdas, memilih orang yang sudah gagal pada periode sebelumnya adalah ketidakwarasan," ucpa dia.
Ditambahkannya, perubahan kesadaran pemilih ini tidak seiring dengan respons parpol dalam menawarkan visi perubahan.
"Ngapain buang-buang suara dan tenaga jika kemudian hasilnya hanya menguntungkan si calon terpilih? Dan juga parpol yang menjadi peserta pemilu?,” tandasnya.
Peneliti Senior Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus memprediksi hanya akan ada 60 persen pemilih yang mendatangi TPS. Dia menilai target yang dipasang KPU terlalu tinggi.
“Padahal gairah sebagaimana tampak pada Pilkada sangat ditentukan oleh adanya figur menarik yang ditawarkan untuk dipilih,” katanya saat dihubungi SINDO, Kamis (12 September 2013) malam.
Lucius mengatakan pemilih sudah belajar dari beberapa pemilu yang telah digelar. Menurutnya, pemilih tidak merasakan dampak pemilu untuk perubahan kehidupan masyarakat.
“Ini terlihat dari wajah caleg yang ditawarkan yang masih dihuni oleh orang-orang lama. Untuk mereka yang cerdas, memilih orang yang sudah gagal pada periode sebelumnya adalah ketidakwarasan," ucpa dia.
Ditambahkannya, perubahan kesadaran pemilih ini tidak seiring dengan respons parpol dalam menawarkan visi perubahan.
"Ngapain buang-buang suara dan tenaga jika kemudian hasilnya hanya menguntungkan si calon terpilih? Dan juga parpol yang menjadi peserta pemilu?,” tandasnya.
(kri)