Konflik Suriah memanas

Senin, 02 September 2013 - 11:19 WIB
Konflik Suriah memanas
Konflik Suriah memanas
A A A
KONFLIK di Suriah diperkirakan memanas. Ancaman Amerika Serikat (AS) yang akan menyerang Suriah pascatragedi penyerangan senjata kimia yang menewaskan ratusan warga sipil, akan membuat konflik makin berkepanjangan.

Keputusan Presiden AS Barack Obama yang akan menyerang Suriah masih kontroversi. Bahkan sekutunya, Inggris, diperkirakan tidak akan ikut ambil bagian jika serangan terhadap pemerintah Bashar al- Assad benar-benar dilaksanakan. Apalagi, parlemen Inggris sudah menyatakan menolak keinginan pemerintahan PM David Cameron untuk ikut AS. Dalam internal masyarakat AS sendiri, sebenarnya tidak sedikit yang menentang rencana penyerangan ke Suriah.

Masyarakat dunia wajib mencurigai maksud penyerangan AS ke Suriah. Karena selama ini, bersama Israel, sekutunya di Timur Tengah, AS selalu ingin menghancurkan rezim Suriah di bawah Bashar al-Assad. Sama seperti Iran, Suriah akan dihancurkan karena selalu menentang kebijakan AS dan Israel. Tidak berlebihan juga ketika tuduhan AS bahwa penyerangan senjata kimia ke warga Suriah dilakukan pemerintah Assad hanya akal-akalan untuk memperoleh legitimasi dalam menjatuhkan pemerintah Suriah.

Sejarah telah membuktikan kebohongan AS dalam berbagai aksinya. Salah satunya adalah invasi AS ke Irak. Karena itu, patut diduga bahwa belum tentu pelaku penyerangan senjata kimia tersebut adalah pemerintahan Assad. Pasalnya, tidak ada bukti konkret selain hanya dugaan dan klaim sepihak dari intelijen AS. Apalagi, tim inspeksi PBB yang dikirim ke Suriah pun juga belum mengumumkan siapa pelaku penyerangan senjata kimia tersebut.

Intinya, tuduhan AS yang mengarahkan pelaku penyerangan pada pemerintah Assad masih debatable. AS dinilai hanya akan menggunakan momentum tersebut untuk membantu Israel dalam meruntuhkan rezim Assad. Tidak salah juga bila menduga dari awal konflik internal Suriah memang dibuat untuk menjatuhkan pemerintahan Assad yang tidak sukai AS dan Israel tersebut.

Kebijakan unilateral AS untuk menyelesaikan konflik Suriah ini dipastikan akan memiliki dampak serius bagi tatanan global. Pertama, bagaimanapun sikap main hakim sendiri AS tanpa restu PBB tersebut akan merusak tatanan hukum internasional. Arogansi AS tersebut hanya akan membuat dunia makin kacau. Selain itu, sikap AS ini lagi-lagi merupakan pelecehan dan makin mengerdilkan kredibilitas PBB sebagai lembaga internasional yang seharusnya bisa menjadi acuan dalam pengaturan pergaulan internasional yang adil dan setara.

Kedua, rencana AS ini juga diperkirakan tak akan berjalan mudah. Selain Suriah akan all out melawan, Rusia yang jelas-jelas menentangnya sudah mengirimkan kapal-kapalnya di dekat perairan Suriah untuk membela koleganya tersebut. Belum lagi dukungan Iran yang menyatakan akan menyerang Israel bila Suriah diserang. Bisa dibayangkan bagaimana dampaknya bila penyerangan benar-benar terjadi, kemudian Rusia dan Iran membantu Suriah melawan aksi unilateral AS dan sekutunya itu.

Serangan ke Suriah tersebut jelas akan mengganggu pasokan minyak dari Timur tengah. Indonesia merupakan salah satu negara yang akan terkena dampaknya, karena selama ini mengandalkan pasokan minyak mentah (crude oil) dari Timur Tengah. Ketiga, rencana AS tersebut akan menyulut konflik lebih luas dan berkepanjangan. Berdasarkan sejarah, aksi main hakim sendiri AS dan sekutunya tidak membuat negara yang diserangnya menjadi lebih baik.

Irak, yang sudah lebih dari 30 tahun setelah diserang AS, belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Negara 1001 Malam tersebut masih terus bergolak. Pemerintah bentukan AS tak mampu meredam konflik internal di sana. Karena itu, sudah sebaiknya AS dan sekutunya harus menahan dulu keinginannya untuk menyerang Suriah tanpa restu PBB.

Masyarakat dunia, termasuk Indonesia, tidak boleh membiarkan penyerangan ke Suriah tersebut terjadi. Pemerintah Indonesia harus ikut berperan dalam mendesak PBB untuk menyelesaikan masalah Suriah melalui meja perundingan. Penyelesaian konflik melalui perang tidak akan banyak manfaat, selain hanya berujung kesengsaraan bagi masyarakat Suriah sendiri.
(hyk)
Berita Terkait
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Mendata Masyarakat Miskin...
Mendata Masyarakat Miskin Baru
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Berita Terkini
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Jejak Uang Rp366,7 Miliar...
Jejak Uang Rp366,7 Miliar ke Pegawai Imipas Bongkar Dugaan Pemerasan oleh Silmy Karim
Kejagung Tak Sita Motor...
Kejagung Tak Sita Motor Listrik Kasus Dugaan Korupsi di Badan Gizi Nasional, Ini Alasannya
Dadan Hindayana Cs Korupsi...
Dadan Hindayana Cs Korupsi Tata Kelola MBG, Noel: Memprihatinkan
Pemerintah Serahkan...
Pemerintah Serahkan 112 DIM RUU Polri ke Komisi III DPR
Dharma Pongrekun Minta...
Dharma Pongrekun Minta MK Kaji Ulang UU Kesehatan Demi Jaga Kedaulatan Bangsa
Infografis
Donald Trump - Elon...
Donald Trump - Elon Musk Memanas, Perang Alien Vs Predator Dimulai?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved