PDIP minta KPK bongkar penyuap Emir

Jum'at, 23 Agustus 2013 - 03:03 WIB
PDIP minta KPK bongkar...
PDIP minta KPK bongkar penyuap Emir
A A A
Sindonews.com - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), untuk membongkar tuntas siapa pun atau perusahaan mana yang menyuap tersangka Izendrik Emir Moeis, yang juga politikus PDIP.

Pernyataan itu disampaikan anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDIP, Trimedya Panjaitan. Dia menyatakan, ada hal yang harus menjadi titik tekan bagi KPK dalam mengusut kasus Emir.
Pertama, alat bukti yang dimiliki KPK harus kuat menjerat dan menyidangkan kliennya. "Alat buktinya harus kuat," kata Trimedya saat dihubungi SINDO di Jakarta, Kamis (22/8/13).

Kedua, kalau memang Emir disangka menerima suap tentu ada pemberinya. Menurutnya, dari perusahaan manapun oknum penyuapnya harus ditetapkan sebagai tersangka. "Kan begitu. Jadi harus dijerat juga pemberi suapnya," tandasnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan Bambang Widjojanto menyatakan, kasus Emir ini melibatkan kalangan internasional. Dia kembali menegaskan, pernyataan Ketua KPK Abraham Samad bahwa saat pemeriksaan Sri Mulyani oleh tim penyidik kasus Century di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington DC, Amerika Serikat (AS) 30 April dan 1 Mei lalu ada tim penyidik lain yang memeriksa dua saksi Emir dari swasta di kantor yang sama melalui bantuan dan komunikasi dengan Departmen of Justice di AS.

Setelah itu lanjutnya, ternyata ada informasi tambahan bahwa tim penyidik kasus Emir pernah memeriksa saksi di Jepang. Pemeriksaan itu terindikasi karena ada pihak dari perusahaan Jepang yang turut memberikan suap kepada Emir.

"Bukan hanya dari Alstom, tapi juga yang di Jepang (perusahaan). Dugaannya seperti itu, makanya kita bergerak," kata Bambang di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Informasi pemeriksaan saksi dari pihak swasta di Jepang itu sudah diterima SINDO sekira awal Maret 2013. Atau empat bulan sebelum penahanan Emir Moeis di Rumah Tahanan (Rutan) KPK, di Guntur, Jakarta Selatan, 11 Juli 2013.

Memorandum of Understanding (MoU) pembangunan PLTU Tarahan ditandatangani bersama tiga persusahaan pada 26 Juni 2004. Selain PT Alstom Power Energy System Indonesia, ada perusahaan Jepang yakni Marubeni Corp, Japan dan Alstom Power Inc USA.

Dikonfirmasi apakah oknum dari Marubeni Corp, Japan lah yang turut berikan suap, Bambang berusaha tersenyum. Tapi dia memberikan inisial perusahaannya. "Menyangkut koorporasi yang cukup besar di Jepang. Inisialnya M lah pokoknya," ujarnya.

Informasi lain yang diterima SINDO dari internal KPK menyebutkan, penyuap itu saat ini bekerja di Mitsubishi Corp, Japan.
(maf)
Berita Terkait
KPK Ciduk Crazy Rich...
KPK Ciduk 'Crazy Rich' Samin Tan di Kafe Kawasan MH Thamrin Jakarta
Eni Maulani Saragih...
Eni Maulani Saragih Lunasi Uang Pengganti Kasus Korupsi PLTU Riau-1 Rp5 Miliar
Halim Kalla, Adik JK...
Halim Kalla, Adik JK Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Pembangunan PLTU
Polri Cegah Halim Kalla...
Polri Cegah Halim Kalla Keluar Negeri Terkait Dugaan Korupsi PLTU
PLTU Barru OMU Berkomitmen...
PLTU Barru OMU Berkomitmen Catatkan Performa Optimal
Keterlambatan RKAB 2026...
Keterlambatan RKAB 2026 Dinilai Hambat Pasokan Batu Bara PLTU Jawa-Bali
Berita Terkini
Pengacara: Penangkapan...
Pengacara: Penangkapan Roy Suryo-Tifa seperti Penculikan para Jenderal di Film
Kapal Induk Garibaldi...
Kapal Induk Garibaldi dan Masa Depan Strategi Maritim Indonesia
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Kami Sudah Siapkan Bukti-bukti Kuat di Sidang Kasus Ijazah Jokowi
Jokowi Bakal Hadir di...
Jokowi Bakal Hadir di Sidang Roy Suryo-Dokter Tifa, Kuasa Hukum: Kalau 100% Terlalu Dini
Kemlu Ungkap 2 WNI Awak...
Kemlu Ungkap 2 WNI Awak Kapal Ikan Hilang di Perairan Busan Korsel
Jaksa KPK Limpahkan...
Jaksa KPK Limpahkan Berkas Perkara Mantan Ketua PN Depok ke Pengadilan Bandung
Infografis
Ancaman Perang Kian...
Ancaman Perang Kian Nyata, 8 Negara Minta Warganya Tinggalkan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved