Mesir terus bergolak, Indonesia diyakini mampu jadi penengah
Minggu, 18 Agustus 2013 - 17:21 WIB
Mesir terus bergolak, Indonesia diyakini mampu jadi penengah
A
A
A
Sindonews.com - Konflik Mesir masih terus berlangsung pasca tumbangnya Presiden Muhammad Mursi. Ratusan korban pun terus berjatuhan.
Menanggapi hal itu, Wakil Ketua International Conference of Islamic Scholars (ICIS) Arif Zamhari secara tegas mengutuk cara kekerasan aparat keamanan Mesir, terhadap demonstran.
Menurutnya, harus ada pihak yang mampu meyakinkan militer dalam meminimalkan cara-cara penuh kekerasan saat menghadapi demonstran. Ia menilai, Indonesia berpengalaman dengan hal itu.
"Kalau mau, Indonesia bisa memainkan peran itu. Sebab, negara Indonesia memiliki pengalaman transisi dari rezim militerisme menuju demokrasi masyarakat sipil," ujarnya di Depok, Minggu (18/08/2013).
Menurutnya, transisi demokrasi di Indonesia terbukti berhasil dan relatif tidak menimbulkan konflik yang berarti. Bahkan, Indonesia juga punya pengalaman membantu proses transisi demokrasi di Myanmar.
"Intinya, pihak militer Mesir harus mencari cara lain untuk menghentikan demonstrasi tanpa menggunakan kekerasan," paparnya.
Ia menilai, dalam membentuk pemerintahan transisi sebaiknya melibatkan sebanyak mungkin masyarakat sipil. Bahkan, termasuk kalangan Ikhwanul Muslimin sekalipun mereka bukan satu satunya komponen dari pemerintahan transisi itu.
"Hal yang menentukan Mesir ke depan adalah masyarakatnya sendiri. Perlu diperhatikan, dalam membentuk pemerintahan harus melibatkan banyak komponen," terangnya.
Tragedi pembunuhan di masjid di Mesir mengakibatkan banyak nyawa melayang. Yaitu tragedi di masjid Al Fath di lapangan Ramses, Kairo Tengah Pasukan keamanan mengepung Masjid Al Fath yang menjadi tempat para pengunjuk rasa pro-Mursi berlindung.
Aparat mendesak demonstran supaya meninggalkan masjid itu. Para pengunjuk rasa menjejerkan jasad-jasad puluhan rekan mereka sesama pengunjuk rasa yang terbunuh dalam aksi "Amarah Jumat".
Menanggapi hal itu, Wakil Ketua International Conference of Islamic Scholars (ICIS) Arif Zamhari secara tegas mengutuk cara kekerasan aparat keamanan Mesir, terhadap demonstran.
Menurutnya, harus ada pihak yang mampu meyakinkan militer dalam meminimalkan cara-cara penuh kekerasan saat menghadapi demonstran. Ia menilai, Indonesia berpengalaman dengan hal itu.
"Kalau mau, Indonesia bisa memainkan peran itu. Sebab, negara Indonesia memiliki pengalaman transisi dari rezim militerisme menuju demokrasi masyarakat sipil," ujarnya di Depok, Minggu (18/08/2013).
Menurutnya, transisi demokrasi di Indonesia terbukti berhasil dan relatif tidak menimbulkan konflik yang berarti. Bahkan, Indonesia juga punya pengalaman membantu proses transisi demokrasi di Myanmar.
"Intinya, pihak militer Mesir harus mencari cara lain untuk menghentikan demonstrasi tanpa menggunakan kekerasan," paparnya.
Ia menilai, dalam membentuk pemerintahan transisi sebaiknya melibatkan sebanyak mungkin masyarakat sipil. Bahkan, termasuk kalangan Ikhwanul Muslimin sekalipun mereka bukan satu satunya komponen dari pemerintahan transisi itu.
"Hal yang menentukan Mesir ke depan adalah masyarakatnya sendiri. Perlu diperhatikan, dalam membentuk pemerintahan harus melibatkan banyak komponen," terangnya.
Tragedi pembunuhan di masjid di Mesir mengakibatkan banyak nyawa melayang. Yaitu tragedi di masjid Al Fath di lapangan Ramses, Kairo Tengah Pasukan keamanan mengepung Masjid Al Fath yang menjadi tempat para pengunjuk rasa pro-Mursi berlindung.
Aparat mendesak demonstran supaya meninggalkan masjid itu. Para pengunjuk rasa menjejerkan jasad-jasad puluhan rekan mereka sesama pengunjuk rasa yang terbunuh dalam aksi "Amarah Jumat".
(stb)