Wajah buram guru honor di Indonesia

Senin, 17 Juni 2013 - 14:38 WIB
Wajah buram guru honor...
Wajah buram guru honor di Indonesia
A A A
Sindonews.com - Guru honorer di Depok menuntut upah yang layak kepada Pemerintah Kota. Dengan waktu lamanya mengajar belasan tahun tetapi mereka hanya memperoleh gaji Rp500 ribu hingga Rp700 ribu.

“Kami menuntut Wali Kota Mengakomodir kami. Karena selama ini kami terus dinjanjikan untuk diangkat menjadi PNS, tetapi selalu diingkari dan diabaikan," kata Nur Komar, salah satu pendemo, di Balai Kota Depok, Senin (17/6/2013).

Diceritakan dia, tahun 2005 sebanyak 320 honorer kategori 1 (K1) dijanjikan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun janji itu diingkari tanpa kabar berita.

Selanjutnya, pada tahun 2009 janji kembali datang dari Dinas Pendidikan Kota Depok, namun mereka tak kunjung diangkat. "Terakhir 2012 lalu (dijanjikan), tetapi sampai sekarang tak ada penjelasan sama sekali," ucapnya.

Potret menyedihkan itu kembali diungkapkan oleh seorang guru bernama Ida yang sudah mengajar 15 tahun di sebuah sekolah SD negeri di Sukmajaya, Depok. Ida mengaku, ia mengajar sejak tahun 1998, dengan gaji hanya sebesar Rp75 ribu per bulan.

"Zaman sekarang gaji hanya Rp500 ribu sampai Rp700 ribu mau makan apa, barang-barang sudah makin mahal, UMK (Upah Minimum Kota) saja sudah Rp2 juta, bagaimana nasib kami, belum lagi tekanan dari sekolah, beban kerja kami disamakan dengan guru yang pegawai negeri," paparnya kepada wartawan.

Ida juga mengaku miris dengan nasib guru honorer yang belum juga diangkat menjadi Calon PNS. Bahkan anak didiknya saat ini yang berprofesi menjadi guru, sudah menjadi CPNS.

"Banyak anak-anak yang dulu kami ajar, saat datang ke sekolah bercerita sudah diangkat, sudah lebih mapan dari gurunya, itu membuat kami sedih," ungkapnya.

Guru honorer dibagi menjadi tiga kategori. Pertama yakni K1 guru honorer yang bekerja sejak lama sampai tahun 2005 berjumlah 320 orang. Sementara kategori 2 (K2) guru honorer yang bekerja dari tahun 2005 sampai sekarang berjumlah lebih dari 500.

"Yang paling menyedihkan nasib guru honorer K1, dan banyak guru honorer yang baru bekerja lebih baru daripada kami dimanipulasi datanya seolah sudah lama bekerja dan layak diangkat, ini kami menduga pasti ada permainan jatah orang dalam, dan kami seolah diadu dengan sesama guru honorer," tukasnya.
(maf)
Berita Terkait
Tingkatkan Kualitas...
Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Pemkab Langkat Hadirkan Smartboard untuk Siswa
Pendidikan Mahal, Orang...
Pendidikan Mahal, Orang Miskin Dilarang Sekolah
Momogi Berbagi Hadirkan...
Momogi Berbagi Hadirkan Edukasi dan Keceriaan bagi Siswa Sekolah Kami
Meningkatkan Literasi...
Meningkatkan Literasi di Dunia Pendidikan
OREO Berbagi Seru Hadirkan...
OREO Berbagi Seru Hadirkan Pembelajaran Berbasis Bermain untuk Siswa Purworejo
Tingkatkan Mutu Perguruan...
Tingkatkan Mutu Perguruan Tinggi, DPD Perkindo DKI Jakarta Gandeng 3 Universitas
Berita Terkini
Eks Jampidsus Febrie...
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Belum Selesai Diperiksa, 2 Mobil Tahanan Siaga di Kejagung
Pemeriksaan Febrie Adriansyah...
Pemeriksaan Febrie Adriansyah di Kejagung, Eks Penyidik KPK: Penahanan Penting agar Penyidikan Tak Diintervensi
Kritisi Rapat Pleno...
Kritisi Rapat Pleno IX AMPI, Wasekjen Leriadi: Produknya Cacat Hukum
Petani Tebu yang Belum...
Petani Tebu yang Belum Merdeka
Pemerintah Perkuat Pengelolaan...
Pemerintah Perkuat Pengelolaan Dana Lingkungan Hidup via BPDLH
Hormati Putusan MK,...
Hormati Putusan MK, Komdigi Siap Kaji Aturan Kuota Internet
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved