Komite Etik tepis isu pelengseran Ketua KPK
Selasa, 02 April 2013 - 11:58 WIB
Komite Etik tepis isu pelengseran Ketua KPK
A
A
A
Sindonews.com - Komite Etik menepis kabar yang menyebutkan akan adanya isu pelengseran Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad melalui pengusutan bocornya surat perintah penyidikan (sprindik) atas nama Anas Urbaningrum.
Ketua Komite Etik Anis Baswedan mengatakan, jika komite itu dibentuk oleh pimpinan KPK karena adanya dugaan pelanggaran kode etik yang harus dituntaskan bukan karena adanya upaya pelengseran.
"Komite Etik dibuat oleh pimpinan KPK. Jadi pimpinan KPK-lah yang sejak awal telah menyimpulkan ada dugaan pelanggaran kode etik sehingga perlu Komite Etik," kata Anis melalui pesan singkat kepada wartawan, Selasa (4/3/2013).
Ia pun menegaskan jika Komite Etik akan bekerja secara profesional dan independen tanpa adanya kepentingan dari luar. "Komite Etik akan selalu independen dan memastikan etika ditegakkan," terangnya.
Tak hanya itu, Rektor Universitas Paramadina ini menegaskan, jika memang terbukti adanya pelanggaran maka mereka akan mempelajari terlebih dahulu sejauh mana tingkat pelanggarannya.
"Jika ada pelanggaran, maka komite akan menilai apakah pelanggarannya masuk kategori ringan, sedang atau berat," tuntasnya.
Sebelumnya, beredar short message service (SMS) yang diduga berasal dari ponsel Abraham Samad dengan isi pernyataan bahwa ada upaya-upaya yang ingin menjatuhkan dari jabatan ketua.
Menurutnya, kasus kebocoran yang berujung pada ditetapkanya Anas sebagai tersangka tersebut adalah sebuah upaya rekayasa yang sengaja diciptakan. Bahkan, pria asal Makassar ini menuding ada pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja mengarahkan pelaku pembocor sprindik itu kepada dirinya.
"Kebocoran sprindik adalah skenario untuk menjatuhkan dan membungkam saya dari KPK," kata Abraham dalam pesan singkatnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu 27 Maret 2013.
Tidak hanya itu, Abraham juga menuding ada upaya untuk melakukan kudeta terhadap dirinya. Sebab selama menjabat sebagai Ketua KPK, Abraham memang selalu berbicara lantang terkait dengan pemberantasan kasus korupsi.
"Karena selama ini saya sangat kencang dan lantang membongkar kasus kasus korupsi besar," tegasnya.
Ketua Komite Etik Anis Baswedan mengatakan, jika komite itu dibentuk oleh pimpinan KPK karena adanya dugaan pelanggaran kode etik yang harus dituntaskan bukan karena adanya upaya pelengseran.
"Komite Etik dibuat oleh pimpinan KPK. Jadi pimpinan KPK-lah yang sejak awal telah menyimpulkan ada dugaan pelanggaran kode etik sehingga perlu Komite Etik," kata Anis melalui pesan singkat kepada wartawan, Selasa (4/3/2013).
Ia pun menegaskan jika Komite Etik akan bekerja secara profesional dan independen tanpa adanya kepentingan dari luar. "Komite Etik akan selalu independen dan memastikan etika ditegakkan," terangnya.
Tak hanya itu, Rektor Universitas Paramadina ini menegaskan, jika memang terbukti adanya pelanggaran maka mereka akan mempelajari terlebih dahulu sejauh mana tingkat pelanggarannya.
"Jika ada pelanggaran, maka komite akan menilai apakah pelanggarannya masuk kategori ringan, sedang atau berat," tuntasnya.
Sebelumnya, beredar short message service (SMS) yang diduga berasal dari ponsel Abraham Samad dengan isi pernyataan bahwa ada upaya-upaya yang ingin menjatuhkan dari jabatan ketua.
Menurutnya, kasus kebocoran yang berujung pada ditetapkanya Anas sebagai tersangka tersebut adalah sebuah upaya rekayasa yang sengaja diciptakan. Bahkan, pria asal Makassar ini menuding ada pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja mengarahkan pelaku pembocor sprindik itu kepada dirinya.
"Kebocoran sprindik adalah skenario untuk menjatuhkan dan membungkam saya dari KPK," kata Abraham dalam pesan singkatnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu 27 Maret 2013.
Tidak hanya itu, Abraham juga menuding ada upaya untuk melakukan kudeta terhadap dirinya. Sebab selama menjabat sebagai Ketua KPK, Abraham memang selalu berbicara lantang terkait dengan pemberantasan kasus korupsi.
"Karena selama ini saya sangat kencang dan lantang membongkar kasus kasus korupsi besar," tegasnya.
(kri)