KLB Demokrat hanya sandiwara

Senin, 18 Maret 2013 - 08:23 WIB
KLB Demokrat hanya sandiwara
KLB Demokrat hanya sandiwara
A A A
Sindonews.com - Kongres Luar Biasa (KLB) yang akan digelar di Bali Maret ini akan menjadi forum pemberi legitimasi dari Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat kepada siapa ketua umum yang akan terpilih nanti. Ketua Majelis Tinggi akan menjadi pemegang kendali utama dalam forum itu.

"Selain itu, calon ketum yang akan dibawa ke kongres nanti merupakan figur yang mewakiki
kepentingan para elite Demokrat salah satunya Ketua Majelis Tinggi," tukas Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI) Lucius Karus ketika dihubungi Senin (18/3/2013).

Para elite Demokrat tidak akan membiarkan kongres di Bandung 2010 lalu terulang di Bali, sehingga hanya akan melahirkan bayi yang tak dikehendaki.

"Pengalaman pahit di Bandung tak ingin terulang kembali di Bali. Untuk itu calon yang akan diusung sedapat mungkin tak lagi mempecundangi Ketua Dewan Pembina jika terpilih. Apalagi beban ketum terpilih adalah konsolidasi dengan target unggul di Pemilu 2014," tukas Licius lagi.

Sosok ketum yang diinginkan adalah sosok yang siap bekerja sesuai keinginan para elite maupun Ketua Majelis Partai tak lagi adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Atas berbagai dugaan itu, maka lanjut Licius, aklamasi akan dipilih untuk menentukan siapa ketum baru pengganti Anas Urbaningrum.

Namun jika aklamasi terjadi, maka dipastikan KLB di Bali hanyalah sandiwara. Bisa jadi, ketum nanti adalah sosok yang sudah de facto terpilih sebelum kongres berlangsung.

Padahal, lanjutnya, aklamasi hanya akan memberi sinyal bagi kemunduran serius Demokrat sebagai partai yang modern. Partai modern itu akan berhenti bersamaan dengan mekanisme aklamasi untuk menghindari proses demokrasi yang seharusnya terjadi dalam KLB.

"Voting seharusnya masih merupakan tanda berlangsungnya Demokrat di internalnya, kemunculan calon juga jangan dibatasi dan dirahasiakan, ketertutupan tak pernah menjadi simbol demokrasi jika Demokrat ingin tetap dilabeli sebagai partai modern," tukasnya.

Seharusnya Demokrat membiarkan calon ketum bersaing secara sehat dan demokratis.
"Sebaliknya, membiarkan tangan satu orang kuat menjadi penentu tunggal hanya akan mempercepat matinya demokrasi di partai itu," imbuhnya.
(lns)
Berita Terkait
Tolak KLB Sibolangit,...
Tolak KLB Sibolangit, Demokrat Sumut Tetap Loyal Pada AHY
Pesan Moeldoko ke AHY:...
Pesan Moeldoko ke AHY: Jadi Pemipin Harus Kuat, Jangan Baperan
Makin Panas, Moeldoko...
Makin Panas, Moeldoko Disebut Bagi-bagi Uang dan Ponsel saat KLB Demokrat di Deli Serdang
Kader Muda Demokrat...
Kader Muda Demokrat Dukung KLB Partai Demokrat
Penyerahan Surat Rekomendasi...
Penyerahan Surat Rekomendasi Partai Demokrat untuk Pilkada 2024
Partai Demokrat Keluarkan...
Partai Demokrat Keluarkan 60 Rekomendasi Pilkada 2024, Ada Marshel Widianto dan Gilang Dirga
Berita Terkini
Gugatan Paulus Tannos...
Gugatan Paulus Tannos di Singapura Ditolak, KPK: Percepat Proses Ekstradisi ke Indonesia
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Kemenag Catat 2 Juta...
Kemenag Catat 2 Juta Hewan Kurban Senilai Rp18,28 Triliun Dipotong saat Iduladha
KPK Kembali Geledah...
KPK Kembali Geledah Rumah Silmy di Jalan Brawijaya Jaksel
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Infografis
3 Alasan Komodo hanya...
3 Alasan Komodo hanya Dapat Ditemukan di Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved