Pengusaha punya peluang untuk nyapres di 2014
Kamis, 21 Februari 2013 - 20:43 WIB
Pengusaha punya peluang untuk nyapres di 2014
A
A
A
Sindonews.com - Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 sudah di depan mata. Banyak figur yang mempunyai latar belakang berbeda-beda, mulai bermunculan.
Mulai dari kalangan militer, politikus, sipil, sampai kalangan pengusaha, dijagokan beberapa pihak untuk menjadi calon presiden (Capres).
Ketua Balitbang DPP Partai Golkar, Indra J Piliang mengungkapkan, tokoh yang berlatar belakang pengusaha bisa bersaing menjadi capres di 2014, namun akan menemui banyak kesulitan.
"Jalannya sangat terjal. Kecuali pengusaha ini mengubah wajahnya menjadi Jokoisme. Proses rekayasa politik, politik pencitraan, politik blusukan. Jokowi juga sebelumnya pengusaha murni sebelum jadi wali kota," kata Indra, saat menjadi pembicara dengan tema 'Pengusaha, Capres Potensial 2014,' yang diadakan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi di Jakarta, Kamis (21/2/2013).
Indra menjelaskan, pengusaha sulit menjadi capres karena struktur politik dan perilaku politik di Indonesia masih tidak jauh beda dari rezim Orde Baru. Menurutnya pengusaha hanya sebagai agen pembangunan dan jarang sekali masuk ke dunia politik.
"Politik isinya kalau bukan birokrasi, ya militer. Lainnya tokoh-tokoh. Dulu Ketua Umum Golkar, Sudharmono, merekrut pengusaha muda seperti JK (Jusuf Kalla), ARB (Aburizal Bakrie), Fahmi Idris, Ponco Sutowo, dan Surya Paloh. Sekarang di era reformasi, sebagian pengusaha yang masuk politik sudah alami fase politisasi. Fahmi Idris sekalipun pengusaha, punya pengalaman politik 20 tahun," tandasnya.
Sementara, Ketua DPP Partai NasDem, Irma Chaniago menambahkan, untuk menjadi capres semua punya peluang, baik itu dari kalangan pengusaha maupun dari kalangan militer maupun sipil. Bagi dia yang terpenting punya integritas dan punya tanggungjawab terhadap rakyat.
"Sampai hari ini di DPP ada pengajuan tiap nama untuk capres. Kami tidak dikotomi dari pengusaha, rakyat biasa, atau TNI. Sepanjang punya integritas, kapabilitas, akuntabilitas, punya sikap negarawan, dan memberikan solusi yang lebih baik, saya kira itu pas untuk kriteria capres mendatang," ucapnya.
Namun Irma melihat, dari calon yang muncul saat ini tidak ada satupun yang memiliki kritera yang disebut diatas. "Saya pribadi belum lihat yang memiliki kriteria ini. Politik dagang sapi akan menjadikan Presiden ragu. Sekarang Presiden diancam impeachment, tak punya keberanian karena takut koalisi rapuh. Apa orang seperti ini bisa membawa perubahan? Tentu tidak," tambahnya.
Hadir dalam diskusi itu pembicara lain, yaitu Dian Permata, peneliti dari Founding Fathers House (FFH), dan Ali Sadikit dari kalangan aktivis. Acara itu sendiri di moderatori oleh Ramdansyah.
Mulai dari kalangan militer, politikus, sipil, sampai kalangan pengusaha, dijagokan beberapa pihak untuk menjadi calon presiden (Capres).
Ketua Balitbang DPP Partai Golkar, Indra J Piliang mengungkapkan, tokoh yang berlatar belakang pengusaha bisa bersaing menjadi capres di 2014, namun akan menemui banyak kesulitan.
"Jalannya sangat terjal. Kecuali pengusaha ini mengubah wajahnya menjadi Jokoisme. Proses rekayasa politik, politik pencitraan, politik blusukan. Jokowi juga sebelumnya pengusaha murni sebelum jadi wali kota," kata Indra, saat menjadi pembicara dengan tema 'Pengusaha, Capres Potensial 2014,' yang diadakan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi di Jakarta, Kamis (21/2/2013).
Indra menjelaskan, pengusaha sulit menjadi capres karena struktur politik dan perilaku politik di Indonesia masih tidak jauh beda dari rezim Orde Baru. Menurutnya pengusaha hanya sebagai agen pembangunan dan jarang sekali masuk ke dunia politik.
"Politik isinya kalau bukan birokrasi, ya militer. Lainnya tokoh-tokoh. Dulu Ketua Umum Golkar, Sudharmono, merekrut pengusaha muda seperti JK (Jusuf Kalla), ARB (Aburizal Bakrie), Fahmi Idris, Ponco Sutowo, dan Surya Paloh. Sekarang di era reformasi, sebagian pengusaha yang masuk politik sudah alami fase politisasi. Fahmi Idris sekalipun pengusaha, punya pengalaman politik 20 tahun," tandasnya.
Sementara, Ketua DPP Partai NasDem, Irma Chaniago menambahkan, untuk menjadi capres semua punya peluang, baik itu dari kalangan pengusaha maupun dari kalangan militer maupun sipil. Bagi dia yang terpenting punya integritas dan punya tanggungjawab terhadap rakyat.
"Sampai hari ini di DPP ada pengajuan tiap nama untuk capres. Kami tidak dikotomi dari pengusaha, rakyat biasa, atau TNI. Sepanjang punya integritas, kapabilitas, akuntabilitas, punya sikap negarawan, dan memberikan solusi yang lebih baik, saya kira itu pas untuk kriteria capres mendatang," ucapnya.
Namun Irma melihat, dari calon yang muncul saat ini tidak ada satupun yang memiliki kritera yang disebut diatas. "Saya pribadi belum lihat yang memiliki kriteria ini. Politik dagang sapi akan menjadikan Presiden ragu. Sekarang Presiden diancam impeachment, tak punya keberanian karena takut koalisi rapuh. Apa orang seperti ini bisa membawa perubahan? Tentu tidak," tambahnya.
Hadir dalam diskusi itu pembicara lain, yaitu Dian Permata, peneliti dari Founding Fathers House (FFH), dan Ali Sadikit dari kalangan aktivis. Acara itu sendiri di moderatori oleh Ramdansyah.
(maf)