Reshuffle percuma, jika sekedar mengamankan posisi SBY
Sabtu, 29 Desember 2012 - 16:44 WIB
Reshuffle percuma, jika sekedar mengamankan posisi SBY
A
A
A
Sindonews.com - Awal 2013, dikabarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan melakukan reshuffle kabinet. Pengamat politik Burhanudin Muhtadi menilai, reshuffle ini hanya sebagai alasan politik untuk mengamankan posisi SBY hingga 2014.
"Saya melihat perombakan kabinet lebih banyak alasan politik, dalam rangka mengamankan politik SBY hingga 2014 mendatang," kata Burhanudian, usai mengikuti seminar Budaya Politik Indonesia dan Kelas Menengah di Gren Alia Cikini, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (29/12/2012).
Dia mengaku tidak berharap banyak dari hasil reshuffle tersebut. Alasannya karena reshuffle itu cenderung bernuansa politik, ketimbang mengganti menteri berdasarkan kinerjanya yang tidak maksimal.
"Meski retorika berdasarkan kinerja, tapi saya melihat ini lebih karena politik. Jadi itu terlalu besar politisnya," jelasnya.
Menurutnya, politik pemerintahan yang baik ialah dapat mensinergikan antara parlemen dengan kabinet politik yang mampu bekerja maksimal.
"Sehingga mendapatkan hasil maksimal untuk kesejahteraan rakyatnya ketimbang kepentingan politik," ucapnya.
Lebih lanjut dia menyarankan kepada Presiden SBY mau mengganti menterinya yang tidak efektif secara politis, dengan begitu maka akan membantu menutup buku pemerintahan SBY dengan baik di tahun 2014.
"Politik itu yang bagus untuk mengamankan parlemen, di topang kabinet politik, yang penting memuaskan (hasilnya). Kalau ingin satu setengah tahun ini baik, maka reshuffle berdasarkan kinerja yang paling ideal," pungkasnya.
"Saya melihat perombakan kabinet lebih banyak alasan politik, dalam rangka mengamankan politik SBY hingga 2014 mendatang," kata Burhanudian, usai mengikuti seminar Budaya Politik Indonesia dan Kelas Menengah di Gren Alia Cikini, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (29/12/2012).
Dia mengaku tidak berharap banyak dari hasil reshuffle tersebut. Alasannya karena reshuffle itu cenderung bernuansa politik, ketimbang mengganti menteri berdasarkan kinerjanya yang tidak maksimal.
"Meski retorika berdasarkan kinerja, tapi saya melihat ini lebih karena politik. Jadi itu terlalu besar politisnya," jelasnya.
Menurutnya, politik pemerintahan yang baik ialah dapat mensinergikan antara parlemen dengan kabinet politik yang mampu bekerja maksimal.
"Sehingga mendapatkan hasil maksimal untuk kesejahteraan rakyatnya ketimbang kepentingan politik," ucapnya.
Lebih lanjut dia menyarankan kepada Presiden SBY mau mengganti menterinya yang tidak efektif secara politis, dengan begitu maka akan membantu menutup buku pemerintahan SBY dengan baik di tahun 2014.
"Politik itu yang bagus untuk mengamankan parlemen, di topang kabinet politik, yang penting memuaskan (hasilnya). Kalau ingin satu setengah tahun ini baik, maka reshuffle berdasarkan kinerja yang paling ideal," pungkasnya.
(maf)