Marzuki Alie: PPI Jerman lecehkan DPR!
Jum'at, 30 November 2012 - 16:31 WIB
Marzuki Alie: PPI Jerman lecehkan DPR!
A
A
A
Sindonews.com - Ketua DPR Marzuki Alie menyatakan kekesalannya terhadap sikap Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman yang dinilai melecehkan anggota DPR dua kali saat melakukan kunjungan kerja ke Jerman.
"Saya memang sangat apresiasi bila Mahasiswa Indonesia ikut mengawasi kerja anggota DPR. Tapi apa yang dilakukan PPI Jerman dengan melecehkan anggota DPR patut direspon berbeda, karena DPR adalah lembaga negara yang harus dijaga kewibawaannya, bukan dilecehkan," ujar Marzuki Alie, di Jakarta, Jumat (30/11/2012).
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini menambahkan, melecehkan lembaga negara yang dilakukan PPI Jerman adalah bentuk hilangnya etika. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah melupakan etika dan adat Indonesia adalah hasil pendidikan pelajar Indonesia di luar negeri.
"Statemen saya ini bukan untuk semua pelajar yang sekolah di luar negeri, tapi khusus kepada mereka yang mengatasnamakan PPI. Mestinya mereka tetap mempertahankan adat, etika, dan budaya bangsa yang baik. Jangan karena sekolah di luar negeri kemudian melupakan sama sekali adat budaya Indonesia yang luhur dan berbudaya tinggi," tegasnya.
Marzuki mengatakan, jika pun ada anggota DPR yang tidak benar atau membuat kesalahan, maka DPR pasti akan bertindak dan meminta Badan Kehormatan DPR memberikan sanksi dalam rangka menegakkan kehormatan DPR.
Lebih dari itu, Marzuki juga mengaku kesal karena PPI Jerman menyatakan pertemuan DPR dengan Deutsches Institut für Normung (DIN) salah alamat.
Padahal pertemuan itu dinilai sangat penting karena Indonesia masih bermasalah dengan Standar Nasional Industri. Pertemuan tersebut bisa memberi masukan bagi DPR menyangkut tanggung jawab Insinyur terhadap standar industri dan sejauhmana tanggung jawab insinyur apabila ada kegagalan dalam standar industri.
"Semua kunjungan kerja DPR direncanakan dengan baik dan semuanya melalui Kedubes di luar negeri untuk dikonsultasikan dengan Institusi yang akan dikunjungi. Bahkan kesepakatan tentang kunjungan dilakukan minimal dua bulan sebelum kunjungan. Artinya, pernyataan PPI Jerman Kunker dilakukan secara mendadak tanpa perencanaan sama sekali tidak benar," terangnya.
Sebelumnya, PPI Jerman memang sempat menghebohkan pemberitaan nasional ketika merekam video kunker Baleg DPR ke Jerman, kemudian mengunggahnya di jejaring sosial Youtube.
PPI Jerman juga menyatakan pertemuan DPR dengan Deutsches Institut für Normung (DIN) salah alamat, dan kunker ke luar negeri tidak perlu karena pendalaman oleh DPR cukup melalui internat dan tekhnologi informasi yang sudah maju.
"Saya memang sangat apresiasi bila Mahasiswa Indonesia ikut mengawasi kerja anggota DPR. Tapi apa yang dilakukan PPI Jerman dengan melecehkan anggota DPR patut direspon berbeda, karena DPR adalah lembaga negara yang harus dijaga kewibawaannya, bukan dilecehkan," ujar Marzuki Alie, di Jakarta, Jumat (30/11/2012).
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini menambahkan, melecehkan lembaga negara yang dilakukan PPI Jerman adalah bentuk hilangnya etika. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah melupakan etika dan adat Indonesia adalah hasil pendidikan pelajar Indonesia di luar negeri.
"Statemen saya ini bukan untuk semua pelajar yang sekolah di luar negeri, tapi khusus kepada mereka yang mengatasnamakan PPI. Mestinya mereka tetap mempertahankan adat, etika, dan budaya bangsa yang baik. Jangan karena sekolah di luar negeri kemudian melupakan sama sekali adat budaya Indonesia yang luhur dan berbudaya tinggi," tegasnya.
Marzuki mengatakan, jika pun ada anggota DPR yang tidak benar atau membuat kesalahan, maka DPR pasti akan bertindak dan meminta Badan Kehormatan DPR memberikan sanksi dalam rangka menegakkan kehormatan DPR.
Lebih dari itu, Marzuki juga mengaku kesal karena PPI Jerman menyatakan pertemuan DPR dengan Deutsches Institut für Normung (DIN) salah alamat.
Padahal pertemuan itu dinilai sangat penting karena Indonesia masih bermasalah dengan Standar Nasional Industri. Pertemuan tersebut bisa memberi masukan bagi DPR menyangkut tanggung jawab Insinyur terhadap standar industri dan sejauhmana tanggung jawab insinyur apabila ada kegagalan dalam standar industri.
"Semua kunjungan kerja DPR direncanakan dengan baik dan semuanya melalui Kedubes di luar negeri untuk dikonsultasikan dengan Institusi yang akan dikunjungi. Bahkan kesepakatan tentang kunjungan dilakukan minimal dua bulan sebelum kunjungan. Artinya, pernyataan PPI Jerman Kunker dilakukan secara mendadak tanpa perencanaan sama sekali tidak benar," terangnya.
Sebelumnya, PPI Jerman memang sempat menghebohkan pemberitaan nasional ketika merekam video kunker Baleg DPR ke Jerman, kemudian mengunggahnya di jejaring sosial Youtube.
PPI Jerman juga menyatakan pertemuan DPR dengan Deutsches Institut für Normung (DIN) salah alamat, dan kunker ke luar negeri tidak perlu karena pendalaman oleh DPR cukup melalui internat dan tekhnologi informasi yang sudah maju.
(rsa)