Masyarakat Indonesia diminta tak mudah terprovokasi
Senin, 05 November 2012 - 17:07 WIB
Masyarakat Indonesia diminta tak mudah terprovokasi
A
A
A
Sindonews.com - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menilai bangunan kebersamaan antar sesama bangsa Indonesia semakin retak seiring maraknya kerusuhan serta konflik horizontal di berbagai wilayah.
"Bangunan kebersamaan yang selama ini kita agung-agungkan hanya semu belaka. Kohesifitas sosial yang selama ini terjahit telah terkoyak dan masyarakat menjadi begitu mudah tersulut emosinya sehingga berujung konflik berdarah hanya untuk hal sepele," ujar Ketua Fraksi PKB Marwan Ja'far di Jakarta, Senin (5/11/2012).
Ketua Dewan Pembina Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa ini menambahkan, kerusuhan di Poso dan Lampung yang belum lama terjadi menjadi bukti, betapa rapuhnya rajutan kebersamaan dalam masyarakat. Tradisi gotong royong, perlahan namun pasti mulai pudar dan diganti sifat individualistis.
"Sementara pada saat bersamaan negara terkadang lalai menumbuhkan nilai-nilai kekeluargan dan kebersamaan. Malah menggantikannya dengan sesuatu yang bersifat material," ungkapnya.
Marwan menambahkan, semua pihak perlu merenungkan, mengapa konflik begitu mudah tersulut di masyarakat, bahkan melanda para pelajar dan mahasiswa.
Baginya, ada beberapa hal yang mungkin bisa menjelaskan. Salah satunya yang menonjol adalah banyaknya institusi pendidikan yang lupa mengajarkan akan visi dasar pendidikan dan hanya menjadikan siswa menjadi obyek pengetahuan.
"Padahal visi utama sebuah pendidikan adalah menjadikan peserta didik menjadi humanis dan sadar akan lingkungan sosial sekitarnya. Pendidikan yang hanya mengajarkan pengetahuan semata hanya akan menciptakan manusia yang tercerabut dari lingkungan sosialnya dan melupakan nilai-nilai kemanusiaan," tandasnya.
Marwan menilai, pemerintah belum bisa maksimal menangani konflik, salah satunya karena sistem deteksi dini belum benar-benar diterapkan negara, khususnya untuk daerah-daerah yang rawan konflik, dan punya sejarah konflik.
"Di sini perangkat negara mulai intelijen, kepolisian, guru, dosen, dan perangkat negara lainnya harus benar-benar berperan dan melakukan langkah konkret. Akar masalah harus segera ditemukan agar sumbu konflik bisa cepat menjadi padam," tegasnya.
"Bangunan kebersamaan yang selama ini kita agung-agungkan hanya semu belaka. Kohesifitas sosial yang selama ini terjahit telah terkoyak dan masyarakat menjadi begitu mudah tersulut emosinya sehingga berujung konflik berdarah hanya untuk hal sepele," ujar Ketua Fraksi PKB Marwan Ja'far di Jakarta, Senin (5/11/2012).
Ketua Dewan Pembina Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa ini menambahkan, kerusuhan di Poso dan Lampung yang belum lama terjadi menjadi bukti, betapa rapuhnya rajutan kebersamaan dalam masyarakat. Tradisi gotong royong, perlahan namun pasti mulai pudar dan diganti sifat individualistis.
"Sementara pada saat bersamaan negara terkadang lalai menumbuhkan nilai-nilai kekeluargan dan kebersamaan. Malah menggantikannya dengan sesuatu yang bersifat material," ungkapnya.
Marwan menambahkan, semua pihak perlu merenungkan, mengapa konflik begitu mudah tersulut di masyarakat, bahkan melanda para pelajar dan mahasiswa.
Baginya, ada beberapa hal yang mungkin bisa menjelaskan. Salah satunya yang menonjol adalah banyaknya institusi pendidikan yang lupa mengajarkan akan visi dasar pendidikan dan hanya menjadikan siswa menjadi obyek pengetahuan.
"Padahal visi utama sebuah pendidikan adalah menjadikan peserta didik menjadi humanis dan sadar akan lingkungan sosial sekitarnya. Pendidikan yang hanya mengajarkan pengetahuan semata hanya akan menciptakan manusia yang tercerabut dari lingkungan sosialnya dan melupakan nilai-nilai kemanusiaan," tandasnya.
Marwan menilai, pemerintah belum bisa maksimal menangani konflik, salah satunya karena sistem deteksi dini belum benar-benar diterapkan negara, khususnya untuk daerah-daerah yang rawan konflik, dan punya sejarah konflik.
"Di sini perangkat negara mulai intelijen, kepolisian, guru, dosen, dan perangkat negara lainnya harus benar-benar berperan dan melakukan langkah konkret. Akar masalah harus segera ditemukan agar sumbu konflik bisa cepat menjadi padam," tegasnya.
(mhd)