Duka Kartini, terpisah saat akan berhaji
Minggu, 04 November 2012 - 16:22 WIB
Duka Kartini, terpisah saat akan berhaji
A
A
A
Sindonews.com - Kartini tak menyangka jika saat itu merupakan hari terakhir bertemu suaminya Sudiman bin Sunarto (65) yang hilang di Asrama Haji Embakarsi Jakarta-Bekasi dua tahun silam.
Pada 23 November 2010 itu, Hj Ade Kartini (61) beserta suaminya, Sudiman bin Sumarto (65) tiba di Asrama Haji Embarkasi Jakarta-Bekasi. Warga Kampung Pasir Peureut RT04/06, Desa Cipareuan, Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut, ini tidak menyangka bila itu adalah saat-saat terakhir bersama dengan suaminya.
Kala itu, tutur Kartini, setiba di asrama haji, suaminya berpamitan untuk menunaikan salat dzuhur. Namun setelah berselang satu jam suaminya tidak kunjung kembali.
“Saya langsung menghubungi ketua rombongan haji. Kami semua di asrama langsung mencari,” tuturnya saat ditemui di rumahnya, Minggu (4/11/2012).
Pencarian terus dilakukan hingga larut malam. Kartini sempat berniat untuk membatalkan rencana berangkat naik hajinya.
“Kami sudah dua tahun merencanakan (berangkat haji bareng) semua ini. Karena ketua rombongan menjanjikan keberangkatan suami saya dilakukan menyusul bila sudah ditemukan, saya pun akhirnya terbujuk dan memutuskan berangkat terlebih dahulu,” urainya.
Kabar mengenai keberadaan suaminya tidak jelas hingga saat ia tiba di tanah suci. Kartini mengungkapkan, pada setiap tawaf dan ibadah lainnya ia selalu berdoa agar bisa kembali dipertemukan.
“Sampai saya kembali pulang ke rumah, suami saya belum jelas keberadaannya. Dari saat itu hingga sekarang, saya selalu mencari dengan berbagai cara,” katanya.
Meski semua usaha pencarian itu belum membuahkan hasil, Kartini tidak patah semangat untuk tetap melakukannya kembali. Dirinya selalu berharap di sisa usianya yang senja, ia dan suaminya dapat kembali dipertemukan.
Pada 23 November 2010 itu, Hj Ade Kartini (61) beserta suaminya, Sudiman bin Sumarto (65) tiba di Asrama Haji Embarkasi Jakarta-Bekasi. Warga Kampung Pasir Peureut RT04/06, Desa Cipareuan, Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut, ini tidak menyangka bila itu adalah saat-saat terakhir bersama dengan suaminya.
Kala itu, tutur Kartini, setiba di asrama haji, suaminya berpamitan untuk menunaikan salat dzuhur. Namun setelah berselang satu jam suaminya tidak kunjung kembali.
“Saya langsung menghubungi ketua rombongan haji. Kami semua di asrama langsung mencari,” tuturnya saat ditemui di rumahnya, Minggu (4/11/2012).
Pencarian terus dilakukan hingga larut malam. Kartini sempat berniat untuk membatalkan rencana berangkat naik hajinya.
“Kami sudah dua tahun merencanakan (berangkat haji bareng) semua ini. Karena ketua rombongan menjanjikan keberangkatan suami saya dilakukan menyusul bila sudah ditemukan, saya pun akhirnya terbujuk dan memutuskan berangkat terlebih dahulu,” urainya.
Kabar mengenai keberadaan suaminya tidak jelas hingga saat ia tiba di tanah suci. Kartini mengungkapkan, pada setiap tawaf dan ibadah lainnya ia selalu berdoa agar bisa kembali dipertemukan.
“Sampai saya kembali pulang ke rumah, suami saya belum jelas keberadaannya. Dari saat itu hingga sekarang, saya selalu mencari dengan berbagai cara,” katanya.
Meski semua usaha pencarian itu belum membuahkan hasil, Kartini tidak patah semangat untuk tetap melakukannya kembali. Dirinya selalu berharap di sisa usianya yang senja, ia dan suaminya dapat kembali dipertemukan.
(ysw)