Harga mahal, omzet penjualan sapi anjlok
Selasa, 23 Oktober 2012 - 14:42 WIB
Harga mahal, omzet penjualan sapi anjlok
A
A
A
Sindonews.com - Sejumlah pedagang sapi di wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengeluhkan mahalnya harga sapi di tingkat peternak. Akibatnya, omzet penjualan sapi di Ciamis menurun drastis dibanding tahun sebelumnya.
Salah seorang pedagang sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) Cigembor, Ciamis, Ace Mantri, menjelaskan seharusnya H-3 Idul Adha merupakan puncak penjualan sapi. Namun, kali ini banyak konsumen yang batal membeli sapi, karena tidak menyanggupi harga sapi yang terlalu mahal.
"Kenaikan harga sapi ini bukan permainan penjual, tapi dari tingkat peternak sudah mahal," kata Ace saat ditemui wartawan, di Ciamis, Jawa Barat, Selasa (23/10/2012).
Ace menjelaskan, salah satu alasan peternak menaikkan harga sapi yaitu, karena peternak juga mengalami peningkatan produksi daging sapi. Mereka tidak mau rugi, sehingga harga juga naik.
"Saat pembesaran sapi yang dijual saat ini peternak mengalami kesulitan mencari rumput akibat musim kemarau. Jadi, mereka lebih memilik memberi pakan sapi dengan dedak dan ampas kedelai sisa produksi tahu," katanya.
Dengan memberi makan tambahan selain rumput, maka harga produksi di tingkat peternak sapi menjadi naik. Otomatis, harga jual di tingkat peternak sudah naik.
"Kami tidak bisa berbuat apa-apa, saat harga dari peternak naik pedagang juga ikut naik," terang Ace.
Akibatnya, dengan harga yang mahal penjualan menjadi lambat. Dari biasanya dalam satu pekan bisa menjual hingga 60 ekor sapi, untuk tahun ini dari stok 20 ekor saja baru habis 14 ekor.
"Sisa enam ekor ini sampai sekarang masih belum terjual, padahal seharusnya sekarang penjualan sapi. Karena belum terjual semua, kami belum berani menambah stok baru khawatir tidak terjual," katanya.
Ace menyebutkan, kenaikan harga sapi untuk tahun ini memang cukup besar misalnya untuk sapi ukuran 200 kilogram (kg) yang dulu masih bisa dijual dengan harga Rp6,6 juta sekarang paling murah dijual seharga Rp8,5 juta.
"Kalau dipersentase penurunan omzet lebih dari 50 persen," tambah Ace.
Dia mengatakan, harga sapi yang distok olehnya bervariatif mulai dari harga Rp7,5 juta hingga Rp18 juta, dengan jenis sapi seperti PO (peranakan ongole) India, lokal dan hasil silangan.
"Dari stok yang disediakan, paling banyak sapi yang dibeli harga Rp7,5 juta saja. Kalau menayakan harga yang lebih mahal, banyak konsumen yang tidak jadi membeli. Tahun ini, kami juga tidak berani stok sapi australia karena haragnya yang tidak mungkin bisa terjangkau," tandas Ace.
Hal serupa dikeluhkan Iin (39), seorang pembeli sapi asal Kabupaten Majalengka. Iin mengeluhkan, harga sapi yang terlalu mahal.
Menurut dia, biasanya dia membeli sapi dari wilayah Rancah, Kabupaten Ciamis. Namun, harga sapi di pelosok Ciamis itu sangat mahal. Untuk itu, Iin mencoba mencari sapi ke wilayah perkotaan Ciamis.
"Kalau tidak terlalu butuh, saya mungkin akan menunda pembelian karena harganya yang sangat mahal. Tapi, karena saya punya komunitas arisan harus menyediakan sekitar 10 sapi saat Idul Adha nanti maka mau tidak mau saya harus mencari sapi yang sesuai dengan harga yang sudah disepakati saat awal arisan," terangnya.
Dia menambahkan, dari 10 sapi yang dibutuhkan yang sudah cocok harganya baru ada empat ekor. "Kami masih membutuhkan empat enam lagi. Tapi, sampai saat ini kami belum menemukan sapi yang tepat dengan harga yang cocok," ujarnya.
Salah seorang pedagang sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) Cigembor, Ciamis, Ace Mantri, menjelaskan seharusnya H-3 Idul Adha merupakan puncak penjualan sapi. Namun, kali ini banyak konsumen yang batal membeli sapi, karena tidak menyanggupi harga sapi yang terlalu mahal.
"Kenaikan harga sapi ini bukan permainan penjual, tapi dari tingkat peternak sudah mahal," kata Ace saat ditemui wartawan, di Ciamis, Jawa Barat, Selasa (23/10/2012).
Ace menjelaskan, salah satu alasan peternak menaikkan harga sapi yaitu, karena peternak juga mengalami peningkatan produksi daging sapi. Mereka tidak mau rugi, sehingga harga juga naik.
"Saat pembesaran sapi yang dijual saat ini peternak mengalami kesulitan mencari rumput akibat musim kemarau. Jadi, mereka lebih memilik memberi pakan sapi dengan dedak dan ampas kedelai sisa produksi tahu," katanya.
Dengan memberi makan tambahan selain rumput, maka harga produksi di tingkat peternak sapi menjadi naik. Otomatis, harga jual di tingkat peternak sudah naik.
"Kami tidak bisa berbuat apa-apa, saat harga dari peternak naik pedagang juga ikut naik," terang Ace.
Akibatnya, dengan harga yang mahal penjualan menjadi lambat. Dari biasanya dalam satu pekan bisa menjual hingga 60 ekor sapi, untuk tahun ini dari stok 20 ekor saja baru habis 14 ekor.
"Sisa enam ekor ini sampai sekarang masih belum terjual, padahal seharusnya sekarang penjualan sapi. Karena belum terjual semua, kami belum berani menambah stok baru khawatir tidak terjual," katanya.
Ace menyebutkan, kenaikan harga sapi untuk tahun ini memang cukup besar misalnya untuk sapi ukuran 200 kilogram (kg) yang dulu masih bisa dijual dengan harga Rp6,6 juta sekarang paling murah dijual seharga Rp8,5 juta.
"Kalau dipersentase penurunan omzet lebih dari 50 persen," tambah Ace.
Dia mengatakan, harga sapi yang distok olehnya bervariatif mulai dari harga Rp7,5 juta hingga Rp18 juta, dengan jenis sapi seperti PO (peranakan ongole) India, lokal dan hasil silangan.
"Dari stok yang disediakan, paling banyak sapi yang dibeli harga Rp7,5 juta saja. Kalau menayakan harga yang lebih mahal, banyak konsumen yang tidak jadi membeli. Tahun ini, kami juga tidak berani stok sapi australia karena haragnya yang tidak mungkin bisa terjangkau," tandas Ace.
Hal serupa dikeluhkan Iin (39), seorang pembeli sapi asal Kabupaten Majalengka. Iin mengeluhkan, harga sapi yang terlalu mahal.
Menurut dia, biasanya dia membeli sapi dari wilayah Rancah, Kabupaten Ciamis. Namun, harga sapi di pelosok Ciamis itu sangat mahal. Untuk itu, Iin mencoba mencari sapi ke wilayah perkotaan Ciamis.
"Kalau tidak terlalu butuh, saya mungkin akan menunda pembelian karena harganya yang sangat mahal. Tapi, karena saya punya komunitas arisan harus menyediakan sekitar 10 sapi saat Idul Adha nanti maka mau tidak mau saya harus mencari sapi yang sesuai dengan harga yang sudah disepakati saat awal arisan," terangnya.
Dia menambahkan, dari 10 sapi yang dibutuhkan yang sudah cocok harganya baru ada empat ekor. "Kami masih membutuhkan empat enam lagi. Tapi, sampai saat ini kami belum menemukan sapi yang tepat dengan harga yang cocok," ujarnya.
(mhd)