Aniaya wartawan, anggaran TNI siap-siap dipotong
Kamis, 18 Oktober 2012 - 05:57 WIB
Aniaya wartawan, anggaran TNI siap-siap dipotong
A
A
A
Sindonews.com - TNI Angkatan Udara (AU) seharusnya bekerja sama dengan media untuk memunculkan simpati masyarakat terkait pentingnya pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) baru.
Peneliti Kajian Budaya Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengatakan, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum anggota TNI AU kepada wartawan seharusnya tidak perlu terjadi, jika bagian penerangan TNI AU datang lebih cepat ke lokasi jatuhnya pesawat tempur jenis Hawk 200, dan memberikan informasi kepada pihak media.
"Seharusnya TNI AU dapat memanfaatkan media dengan menciptakan empati terhadap alutsista yang sudah usang. Namun, dengan kejadian ini dikhawatirkan publik tidak berpihak. Tentara tidak bersenjata saja menyeramkan, apalagi bersenjata," katanya di Depok, Jawa Barat, Rabu 17 Oktober 2012 malam.
Dia mengungkapkan, TNI perlu memperbaiki dirinya dalam hal menghadapi wartawan seiring dengan reformasi birokrasi yang hendak diciptakan. Apalagi, TNI saat ini sedang memperjuangkan penambahan anggaran alutsista.
"Harusnya rakyat bisa iba dengan anggaran, harusnya bisa berempati. Militer kan sedang berpolitik di parlemen untuk naikkan anggaran, dengan kejadian ini justru anggaran bisa dipotong, siap-siap saja," ujarnya.
Lebih lanjut, dia juga meminta pemerintah segera menghukum TNI AU yang melakukan kekerasan terhadap salah seorang pewarta foto, karena telah melanggar UU Pokok Pers.
Menurutnya, tindakan tegas itu harus dilakukan agar instansi militer memahami tugas peliputan wartawan yang dilindungi UU. Sehingga, tidak ada lagi anggota TNI yang melakukan kekerasan terhadap wartawan.
Peneliti Kajian Budaya Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengatakan, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum anggota TNI AU kepada wartawan seharusnya tidak perlu terjadi, jika bagian penerangan TNI AU datang lebih cepat ke lokasi jatuhnya pesawat tempur jenis Hawk 200, dan memberikan informasi kepada pihak media.
"Seharusnya TNI AU dapat memanfaatkan media dengan menciptakan empati terhadap alutsista yang sudah usang. Namun, dengan kejadian ini dikhawatirkan publik tidak berpihak. Tentara tidak bersenjata saja menyeramkan, apalagi bersenjata," katanya di Depok, Jawa Barat, Rabu 17 Oktober 2012 malam.
Dia mengungkapkan, TNI perlu memperbaiki dirinya dalam hal menghadapi wartawan seiring dengan reformasi birokrasi yang hendak diciptakan. Apalagi, TNI saat ini sedang memperjuangkan penambahan anggaran alutsista.
"Harusnya rakyat bisa iba dengan anggaran, harusnya bisa berempati. Militer kan sedang berpolitik di parlemen untuk naikkan anggaran, dengan kejadian ini justru anggaran bisa dipotong, siap-siap saja," ujarnya.
Lebih lanjut, dia juga meminta pemerintah segera menghukum TNI AU yang melakukan kekerasan terhadap salah seorang pewarta foto, karena telah melanggar UU Pokok Pers.
Menurutnya, tindakan tegas itu harus dilakukan agar instansi militer memahami tugas peliputan wartawan yang dilindungi UU. Sehingga, tidak ada lagi anggota TNI yang melakukan kekerasan terhadap wartawan.
(lil)