Oknum TNI AU ciderai sikap Presiden
Rabu, 17 Oktober 2012 - 20:55 WIB
Oknum TNI AU ciderai sikap Presiden
A
A
A
Sindonews.com - Aksi kekerasan oknum TNI Angkatan Udara terhadap enam wartawan di Riau saat melakukan peliputan pesawat jatuh di depan siswa Sekolah Dasar (SD), bertolak belakang dengan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Diketahui SBY tengah gencar melakukan kampanye pendidikan karakter anak Indonesia menuju anak harapan bangsa.
"Kami terus terang protes keras (kekerasan di depan anak). Kemarin itu presiden tengah gencar melakukan kampanye pendidikan karakter anak. Bahkan, pada Hari Anak nasional (HAN) Presiden ingin membangun Indonesia ramah anak," jelas Ketua Umum Komnas PA Seto Mulyadi saat dihubungi Sindonews, Rabu (17/10/2012).
"Justru yang jadi masalah kekerasan ini depan anak SD, kita ini kan sedang membentuk karakter baik pada anak," tegasnya.
Sebelumnya, pria yang kerap disapa Kak Seto ini juga meminta agar TNI AU meminta maaf kepada Anak Indonesia karena telah menyajikan aksi yang tidak layak untuk dicontoh.
"Saya khawatir akan ada paradigma di pikiran anak itu bahwa yang kuat akan unggul dan menang. Jadi harus ada tindakan terhadap oknum pelaku, dan institusi harus meminta maaf atas hal ini," tutupnya.
Diketahui SBY tengah gencar melakukan kampanye pendidikan karakter anak Indonesia menuju anak harapan bangsa.
"Kami terus terang protes keras (kekerasan di depan anak). Kemarin itu presiden tengah gencar melakukan kampanye pendidikan karakter anak. Bahkan, pada Hari Anak nasional (HAN) Presiden ingin membangun Indonesia ramah anak," jelas Ketua Umum Komnas PA Seto Mulyadi saat dihubungi Sindonews, Rabu (17/10/2012).
"Justru yang jadi masalah kekerasan ini depan anak SD, kita ini kan sedang membentuk karakter baik pada anak," tegasnya.
Sebelumnya, pria yang kerap disapa Kak Seto ini juga meminta agar TNI AU meminta maaf kepada Anak Indonesia karena telah menyajikan aksi yang tidak layak untuk dicontoh.
"Saya khawatir akan ada paradigma di pikiran anak itu bahwa yang kuat akan unggul dan menang. Jadi harus ada tindakan terhadap oknum pelaku, dan institusi harus meminta maaf atas hal ini," tutupnya.
(rsa)