Antara kerinduan dan tugas mulia
Kamis, 11 Oktober 2012 - 19:43 WIB
Antara kerinduan dan tugas mulia
A
A
A
Sindonews.com - Matahari belum begitu tinggi, namun suasana di ruang tim kesehatan Embarkasi JKG 14 sudah dipenuhi para Jemaah. Kehadiran mereka, tentu bukan hanya untuk 'ngobrol' atau silaturahmi melainkan untuk berobat. Banyak keluhan yang disampaikan oleh jemaah calon haji, mulai flu/pilek, batuk, hingga penyakit risiko tinggi.
Bertempat di salah satu ruangan pemondokan jemaah calon haji (JCH) di Hala Andalus di Madinah Arab Saudi, seorang wanita tampak dengan sikap ramah dan senyum manis melayani setiap keluhan jemaah terhadap penyakitnya.
Wanita muda itu merupakan petugas tim kesehatan kloter dari Embarkasi Jakarta, Tangerang JKG 14 yang bernama dr Ervianti Abas. Dia Bersama dua rekan perawatnya yakni Erik dan Slamet, tak bosan dan tak jemu memberikan layanan terbaik bagi 450 jemaah calon haji asal Tangerang Banten itu.
Adalah tugas mulia melayani tamu Allah dengan baik. Sebagai bagian dari tugas, secara terampil dan cekatan dr Ervin (begitu dia disapa) dan dua perawat menerima jemaah di ruang kesehatan dan juga melakukan Visitasi atau kunjungan kepada jemaah calon haji.
Visitasi dilakukan secara rutin pagi, siang dan sore di kamar-kamar jemaah. Visitasi dan Pantauan terutama dilakukan kepada jemaah yang sudah lanjut usia dan memiliki penyakit resiko tinggi.
"Bapak sakit apa? Coba saya periksa ya. Tensi normal, bapak harus jaga kesehatan ya. Jangan lupa banyak minum dan istirahat, jika ada keluhan jangan malu-malu beritahu saya aja," sapa ramah Ervin, Kamis (11/10/2012).
Di kloter JKG 14 ini sebagian besar adalah usia lanjut. Dari 450 jemaah, 250 di antaranya memiliki penyakit resiko tinggi seperti jantung, gagal ginjal, diabetes dan hipertensi.
Di kloter JKG ini, juga terdapat setidaknya 15 jemaah yang harus memakai kursi roda dan memerlukan pemantauan khusus.
Dokter lulusan Universitas Andalus Padang tahun 2008 ini, rela harus berbagi waktu dengan pasien-pasiennya. Kadang kala, ia harus menemani jemaah yang sedang sakit hingga waktu-waktu salat berjemaah di Masjid Nabawi telah selesai.
Ervin juga berjibaku mengantar dan mengecek secara rutin keadaan jemaah yang dirujuk ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) termasuk untuk pasien gagal ginjal yang harus cuci darah.
Tak jarang pula, di waktu istirahatnya harus mendampingi seorang ibu usia lanjut yang berkeinginan salat di Masjid Nabawi dan Raudah.
Namun siapa sangka, di balik senyum ramahnya, Ervin memiliki rasa rindu dan rasa cemasnya terhadap anak 'Permata dan buah Hatinya'. Betapa tidak, anaknya yang beranjak umur tiga tahun sedang mengalami masa pertumbuhan dan memerlukan perhatian.
"Anak saya sedang lucu-lucunya, banyak hal yang membuat saya ketawa, senang dan bahagia ketika bersamanya. Sekarang saya harus jauh darinya," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Rasa kangen itu, menurutnya, semakin besar ketika mengingat anaknya memanggil namanya dan menangis waktu ditinggal menuju ke Tanah Suci.
"Bun... Bun... Bunda... Itu panggilannya ke saya. Saya hanya berucap sambil menciumnya, Bunda pergi dulu ya nak, jangan nangis. Bunda kerja dulu ya," lirihnya.
Matanya yang terlihat letih dan kurang tidur itu semakim muram. dr Ervin juga mengungkapkan, dengan tugas ini dirinya juga harus merelakan, waktu bersama dengan keluarganya terutama untuk suami tercinta.
"Saya merasa bersalah ketika suami juga tidak terlayani dengan baik saya takut dosa," katanya.
Tapi tekad yang besar yang ada di hati, membuatnya merelakan itu semua. "Saya bertekad, berkerja secara baik untuk melayani tamu Allah. Ini adalah panggilan mulia dari Yang Maha Kuasa bertugas dan beribadah sekaligus," tekadnya.
Dirinya hanya berharap, semua para jemaah dapat diberikan kesehatan dan melaksanakan rangkaian ibadah serta memperoleh haji yang mabrur. "Amin ya Allah," tutupnya.
Buah rindu dan kasih sayang kadang kala kita harus perjuangkan. Namun semua harus dapat ditampikan dulu, ketika panggilan tugas dan tanggung jawab memang memanggil kita.
Bertempat di salah satu ruangan pemondokan jemaah calon haji (JCH) di Hala Andalus di Madinah Arab Saudi, seorang wanita tampak dengan sikap ramah dan senyum manis melayani setiap keluhan jemaah terhadap penyakitnya.
Wanita muda itu merupakan petugas tim kesehatan kloter dari Embarkasi Jakarta, Tangerang JKG 14 yang bernama dr Ervianti Abas. Dia Bersama dua rekan perawatnya yakni Erik dan Slamet, tak bosan dan tak jemu memberikan layanan terbaik bagi 450 jemaah calon haji asal Tangerang Banten itu.
Adalah tugas mulia melayani tamu Allah dengan baik. Sebagai bagian dari tugas, secara terampil dan cekatan dr Ervin (begitu dia disapa) dan dua perawat menerima jemaah di ruang kesehatan dan juga melakukan Visitasi atau kunjungan kepada jemaah calon haji.
Visitasi dilakukan secara rutin pagi, siang dan sore di kamar-kamar jemaah. Visitasi dan Pantauan terutama dilakukan kepada jemaah yang sudah lanjut usia dan memiliki penyakit resiko tinggi.
"Bapak sakit apa? Coba saya periksa ya. Tensi normal, bapak harus jaga kesehatan ya. Jangan lupa banyak minum dan istirahat, jika ada keluhan jangan malu-malu beritahu saya aja," sapa ramah Ervin, Kamis (11/10/2012).
Di kloter JKG 14 ini sebagian besar adalah usia lanjut. Dari 450 jemaah, 250 di antaranya memiliki penyakit resiko tinggi seperti jantung, gagal ginjal, diabetes dan hipertensi.
Di kloter JKG ini, juga terdapat setidaknya 15 jemaah yang harus memakai kursi roda dan memerlukan pemantauan khusus.
Dokter lulusan Universitas Andalus Padang tahun 2008 ini, rela harus berbagi waktu dengan pasien-pasiennya. Kadang kala, ia harus menemani jemaah yang sedang sakit hingga waktu-waktu salat berjemaah di Masjid Nabawi telah selesai.
Ervin juga berjibaku mengantar dan mengecek secara rutin keadaan jemaah yang dirujuk ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) termasuk untuk pasien gagal ginjal yang harus cuci darah.
Tak jarang pula, di waktu istirahatnya harus mendampingi seorang ibu usia lanjut yang berkeinginan salat di Masjid Nabawi dan Raudah.
Namun siapa sangka, di balik senyum ramahnya, Ervin memiliki rasa rindu dan rasa cemasnya terhadap anak 'Permata dan buah Hatinya'. Betapa tidak, anaknya yang beranjak umur tiga tahun sedang mengalami masa pertumbuhan dan memerlukan perhatian.
"Anak saya sedang lucu-lucunya, banyak hal yang membuat saya ketawa, senang dan bahagia ketika bersamanya. Sekarang saya harus jauh darinya," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Rasa kangen itu, menurutnya, semakin besar ketika mengingat anaknya memanggil namanya dan menangis waktu ditinggal menuju ke Tanah Suci.
"Bun... Bun... Bunda... Itu panggilannya ke saya. Saya hanya berucap sambil menciumnya, Bunda pergi dulu ya nak, jangan nangis. Bunda kerja dulu ya," lirihnya.
Matanya yang terlihat letih dan kurang tidur itu semakim muram. dr Ervin juga mengungkapkan, dengan tugas ini dirinya juga harus merelakan, waktu bersama dengan keluarganya terutama untuk suami tercinta.
"Saya merasa bersalah ketika suami juga tidak terlayani dengan baik saya takut dosa," katanya.
Tapi tekad yang besar yang ada di hati, membuatnya merelakan itu semua. "Saya bertekad, berkerja secara baik untuk melayani tamu Allah. Ini adalah panggilan mulia dari Yang Maha Kuasa bertugas dan beribadah sekaligus," tekadnya.
Dirinya hanya berharap, semua para jemaah dapat diberikan kesehatan dan melaksanakan rangkaian ibadah serta memperoleh haji yang mabrur. "Amin ya Allah," tutupnya.
Buah rindu dan kasih sayang kadang kala kita harus perjuangkan. Namun semua harus dapat ditampikan dulu, ketika panggilan tugas dan tanggung jawab memang memanggil kita.
(mhd)