Tokoh lama gagal lakukan revolusi
Sabtu, 06 Oktober 2012 - 13:20 WIB
Tokoh lama gagal lakukan revolusi
A
A
A
Sindonews.com - Masih mendominasinya tokoh lama dalam bursa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, dirasa menjadi jalan buntu bagi perubahan. Dibutuhkan calon alternatif untuk mengeluarkan bangsa ini dari berbagai masalah.
Dari sederet nama pemain lama yang muncul kepermukaan, ada Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, dan Ketua Umum DPP Partai Amana Nasional (PAN) Hatta Rajasa.
Selain itu, juga muncul sederet nama seperti Yusril Ihza Mahendra, Jusuf Kalla, Mahfud MD, Dahlan Iskan, Anies Bawesdan, dan bahkan Abraham Samad. Lantas bagaimana budayawan Betawi Ridwan Saidi melihat fenomena itu?
"Zalim namanya, makanya peluang putra paling baik. Konkret saja, kawal kaya namanya Anies Baswedan, dan Abraham Samad," ujarnya saat diskusi 'Calon Presiden Alternatif' di Jakarta, Sabtu (6/10/2012).
Lebih lanjut, Ridwan mengatakan, bangsa ini membutuhkan tokoh yang mampu meneruskan revolusi atau perubahan secara cepat dan menyeluruh seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa. Sedangkan tokoh-tokoh yang ada dianggap tidak mampu mengemban amanat perubahan.
"Tokoh dari partai lama belum bisa melakukan revolusi untuk Indonesia. Revolusi cuma keseringan disebut, enggak dilakonin," pungkasnya.
Dari sederet nama pemain lama yang muncul kepermukaan, ada Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, dan Ketua Umum DPP Partai Amana Nasional (PAN) Hatta Rajasa.
Selain itu, juga muncul sederet nama seperti Yusril Ihza Mahendra, Jusuf Kalla, Mahfud MD, Dahlan Iskan, Anies Bawesdan, dan bahkan Abraham Samad. Lantas bagaimana budayawan Betawi Ridwan Saidi melihat fenomena itu?
"Zalim namanya, makanya peluang putra paling baik. Konkret saja, kawal kaya namanya Anies Baswedan, dan Abraham Samad," ujarnya saat diskusi 'Calon Presiden Alternatif' di Jakarta, Sabtu (6/10/2012).
Lebih lanjut, Ridwan mengatakan, bangsa ini membutuhkan tokoh yang mampu meneruskan revolusi atau perubahan secara cepat dan menyeluruh seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa. Sedangkan tokoh-tokoh yang ada dianggap tidak mampu mengemban amanat perubahan.
"Tokoh dari partai lama belum bisa melakukan revolusi untuk Indonesia. Revolusi cuma keseringan disebut, enggak dilakonin," pungkasnya.
(san)