Koalisi Jokowi-Foke
Sabtu, 06 Oktober 2012 - 05:59 WIB
Koalisi Jokowi-Foke
A
A
A
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan gubernur terpilih Joko Widodo (Jokowi) memberi pelajaran berharga kepada seluruh warga Jakarta.
Di akhir masa tugasnya, Fauzi Bowo yang akrab disapa Foke ini mengundang Jokowi dan wakil gubernur terpilih Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ke Balai Kota.
Foke mengenalkan penggantinya ini kepada seluruh pejabat dan staf pemerintah provinsi DKI dengan suasana yang hangat dan ramah. Sama sekali tidak terlihat sisa-sisa rivalitas yang tajam antara Jokowi-Foke seperti waktu kampanye menjelang pilkada putaran kedua.
Jokowi-Foke menunjukkan sikap sebagai tokoh, dan pemimpin yang patut menjadi contoh dalam kehidupan berdemokrasi.
Dalam konteks perpolitikan Indonesia, umumnya calon yang menang akan larut dalam kemenangan dan cenderung menyepelekan yang kalah. Sebaliknya, calon yang kalah tidak mau menerima kekalahan dan enggan menyalami kepada sang pemenang.
Tapi Jokowi-Foke berbeda. Keduanya akrab bagaikan sahabat lama yang sudah mengenal betul pribadi masing-masing. Keakraban Jokowi-Foke yang ditunjukkan secara terbuka kepada seluruh jajaran pemerintahan provinsi, dan disaksikan warga Jakarta ini adalah poin penting bagi kesuksesan pembenahan Jakarta yang akan dilakukan Jokowi-Ahok.
Bagaimanapun, Foke adalah birokrat tulen yang memahami betul masyarakat Jakarta. Bagaimanapun Jokowi sebagai gubernur terpilih adalah orang baru yang harus belajar dari yang sudah berpengalaman.
Mantan Wali Kota Solo itu pun dengan tanpa canggung sudah menggandeng Foke sebagai mitra dalam membenahi Jakarta. Bagi Jokowi, dukungan dan restu Foke akan memperlancar dirinya memimpin Jakarta. Kultur baru yang dibangun Jokowi dan Foke ini bisa menjadi awal yang baik dalam kedewasaan berpolitik.
Setajam apa pun persaingan dalam masa kontestasi pilkada harus selesai ketika hasil resmi telah diumumkan. Saling memberi selamat, saling kunjung, saling bersalaman dalam suasana penuh kebersamaan yang dipertontonkan Jokowi-Foke akan menebarkan energi positif warga Jakarta untuk bersama-sama memulai Jakarta baru.
Jakarta yang harmonis, tertib, tertata, dan berwibawa sebagai wajah Indonesia bukanlah hal mustahil.
Kerendahan hati sang pemenang dan, kebesaran hati menerima kekalahan mengandung makna yang dalam bagi demokrasi. Kita berharap kebersamaan Jokowi-Foke tidak berhenti hanya sampai di situ.
Keduanya harus intens berdialog untuk menuntaskan masalah-masalah Jakarta yang dikenal rumit dan kompleks. Kebersamaan sesama pemimpin akan menjadi contoh kepada anak buah dan warga yang mereka dipimpin. Perpecahan antarpemimpin juga akan ditiru anak buah dan menular kepada masyarakat yang mereka pimpin.
Apa jadinya kalau budaya saling sikut, saling telikung, saling serang masih terus dipelihara di luar arena pertandingan politik. Jokowi-Foke sudah memberi teladan baik kepada kita bahwa pemimpin dan politikus itu hendaknya berhati negarawan.
Ketika kepentingan rakyat dan negara memanggil, tanggalkan kepentingan pribadi dan kelompok. Alangkah indahnya jika pada pilkada-pilkada berikutnya suasana kebersamaan yang ditunjukkan Jokowi-Foke ini bisa terbangun pula.
Politik tidak harus selalu transaksional dan dagang sapi. Politik adalah pengabdian kepada rakyat tanpa pamrih. Kedengarannya klise, tapi Jokowi-Foke sudah memulai bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak sekadar basa-basi. (*)
Di akhir masa tugasnya, Fauzi Bowo yang akrab disapa Foke ini mengundang Jokowi dan wakil gubernur terpilih Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ke Balai Kota.
Foke mengenalkan penggantinya ini kepada seluruh pejabat dan staf pemerintah provinsi DKI dengan suasana yang hangat dan ramah. Sama sekali tidak terlihat sisa-sisa rivalitas yang tajam antara Jokowi-Foke seperti waktu kampanye menjelang pilkada putaran kedua.
Jokowi-Foke menunjukkan sikap sebagai tokoh, dan pemimpin yang patut menjadi contoh dalam kehidupan berdemokrasi.
Dalam konteks perpolitikan Indonesia, umumnya calon yang menang akan larut dalam kemenangan dan cenderung menyepelekan yang kalah. Sebaliknya, calon yang kalah tidak mau menerima kekalahan dan enggan menyalami kepada sang pemenang.
Tapi Jokowi-Foke berbeda. Keduanya akrab bagaikan sahabat lama yang sudah mengenal betul pribadi masing-masing. Keakraban Jokowi-Foke yang ditunjukkan secara terbuka kepada seluruh jajaran pemerintahan provinsi, dan disaksikan warga Jakarta ini adalah poin penting bagi kesuksesan pembenahan Jakarta yang akan dilakukan Jokowi-Ahok.
Bagaimanapun, Foke adalah birokrat tulen yang memahami betul masyarakat Jakarta. Bagaimanapun Jokowi sebagai gubernur terpilih adalah orang baru yang harus belajar dari yang sudah berpengalaman.
Mantan Wali Kota Solo itu pun dengan tanpa canggung sudah menggandeng Foke sebagai mitra dalam membenahi Jakarta. Bagi Jokowi, dukungan dan restu Foke akan memperlancar dirinya memimpin Jakarta. Kultur baru yang dibangun Jokowi dan Foke ini bisa menjadi awal yang baik dalam kedewasaan berpolitik.
Setajam apa pun persaingan dalam masa kontestasi pilkada harus selesai ketika hasil resmi telah diumumkan. Saling memberi selamat, saling kunjung, saling bersalaman dalam suasana penuh kebersamaan yang dipertontonkan Jokowi-Foke akan menebarkan energi positif warga Jakarta untuk bersama-sama memulai Jakarta baru.
Jakarta yang harmonis, tertib, tertata, dan berwibawa sebagai wajah Indonesia bukanlah hal mustahil.
Kerendahan hati sang pemenang dan, kebesaran hati menerima kekalahan mengandung makna yang dalam bagi demokrasi. Kita berharap kebersamaan Jokowi-Foke tidak berhenti hanya sampai di situ.
Keduanya harus intens berdialog untuk menuntaskan masalah-masalah Jakarta yang dikenal rumit dan kompleks. Kebersamaan sesama pemimpin akan menjadi contoh kepada anak buah dan warga yang mereka dipimpin. Perpecahan antarpemimpin juga akan ditiru anak buah dan menular kepada masyarakat yang mereka pimpin.
Apa jadinya kalau budaya saling sikut, saling telikung, saling serang masih terus dipelihara di luar arena pertandingan politik. Jokowi-Foke sudah memberi teladan baik kepada kita bahwa pemimpin dan politikus itu hendaknya berhati negarawan.
Ketika kepentingan rakyat dan negara memanggil, tanggalkan kepentingan pribadi dan kelompok. Alangkah indahnya jika pada pilkada-pilkada berikutnya suasana kebersamaan yang ditunjukkan Jokowi-Foke ini bisa terbangun pula.
Politik tidak harus selalu transaksional dan dagang sapi. Politik adalah pengabdian kepada rakyat tanpa pamrih. Kedengarannya klise, tapi Jokowi-Foke sudah memulai bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak sekadar basa-basi. (*)
(lil)