Semangat baru TNI
Jum'at, 05 Oktober 2012 - 09:01 WIB
Semangat baru TNI
A
A
A
Sindonews.com - Suasana baru mewarnai Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-67 Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang jatuh tepat hari ini, 5 Oktober. Dibanding peringatan-peringatan sebelumnya, terutama sejak bergulirnya Reformasi 1998, kali ini suasana jauh terasa sumringah.
Pimpinan hingga prajurit menunjukkan gairah, kepercayaan diri,dan kebanggaannya sebagai bagian dari TNI. Pada perayaan yang digelar di Landasan Udara Halim Perdanakusumah Jakarta ini, TNI bukan hanya akan mempertontonkan kesigapan dan kemampuan olah keprajuritan, melainkan juga akan menggeber ketangguhan alat utama sistem persenjataan( alutsista) mereka.
Mereka juga akan membeberkan alutsista baru yang akan menjadi tulang punggung kekuatan baik dari matra darat, laut,maupun udara seperti meriam caesar, roket multilaras (MLRS) Astros II, ranpur amfibi BMP-3F, CN-295 yang baru tiba kemarin, pesawat tempur ringan Super Tucano, dan berbagai alutsista baru lain, termasuk buatan dalam negeri yang menjadi kebanggaan TNI.
Sayangnya, tank Leopard belum bisa menjadi ambil bagian dalam perayaan hari ini karena baru tiba di Tanah Air pada November depan. Keberadaan alutsista canggih walaupun secara kualitas maupun kuantitas belum mencapai tahap seperti dicanangkan dalam target minimum essential force (MEF)––harus diakui telah memacu terbentuknya semangat baru prajurit setelah sekian lama hanya bisa mengandalkan alutsista usang akibat embargo dan keterbatasan anggaran.
Hal ini wajar karena prajurit dan senjata ibarat dua sisi mata koin yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.Kekuatan daya tempur prajurit bergantung pada persenjataan yang dimiliki. Sementara penggunaan persenjataan bergantung pada prajurit yang ada di belakangnya (man behind the gun). Lebih dari itu, kesadaran pentingnya penguatan kapabilitas persenjataan yang ditunjukkan pemerintah dan DPR dengan menaikkan anggaran dana bukan hanya untuk gagah-gagahan, melainkan merupakan unsur penting transformasi kekuatan pertahanan guna meningkatkan efek penggentar (deterence effect).
Dengan demikian, pertahanan negara menjadi lebih terjamin. Rakyat Indonesia tampaknya juga mempunyai kesadaran yang sama. Sejauh ini mereka menunjukkan dukungan positif terhadap pembelanjaan besar-besaran yang dilakukan alutsista.Mereka percaya TNI akan memanfaatkan anggaran yang diamanatkan secara transparan dan sungguh-sungguh demi meningkatkan profesionalitas.
Dukungan dan kepercayaan harus benar-benar dijaga. Pimpinan TNI dan jajarannya yang terkait harus mampu meneruskan track record positif yang telah dibangun sejak reformasi yakni bukan hanya konsistensi tidak terlibat dalam politik praktis (baca reposisi) seperti pernah dipraktikkan ABRI semasa Orba lewat doktrin dwifungsi ABRI, melainkan juga melakukan reformasi kelembagaan.
Harus diakui, pada poin ini,TNI telah menunjukkan kesuksesannya dan patut menjadi contoh bagi institusi negara lain, terutama untuk saudara mudanya, Polri. Bersamaan dengan momentum HUT Ke-67 ini, kita semua berharap di usia yang sudah cukup tua untuk sebuah organisasi, TNI semakin bertambah matang.
Semangat baru yang terbangun karena dukungan alutsista baru diikuti dengan semangat untuk terus meningkatkan profesionalitas demi kekuatan dan kejayaan bangsa, bukan untuk kepentingan lain, termasuk untuk memanfaatkan dukungan anggaran yang sangat besar.
Pernyataan Panglima Besar Jenderal Jenderal Soedirman yang disampaikan pada pidato pertamanya sebagai Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 1946 kiranya masih sangat relevan untuk menjadi pedoman:
"Telah diakui oleh beberapa pemimpin perjuangan di berbagai tempat bahwa kemunduran dan kekalahan yang diderita oleh barisan yang berjuang itu di manakala anggotaanggota barisan tadi mulai tidak suci lagi dalam perjuangannya dan rusuh dalam tingkah laku dan perbuatan," Dirgahayu TNI.
Pimpinan hingga prajurit menunjukkan gairah, kepercayaan diri,dan kebanggaannya sebagai bagian dari TNI. Pada perayaan yang digelar di Landasan Udara Halim Perdanakusumah Jakarta ini, TNI bukan hanya akan mempertontonkan kesigapan dan kemampuan olah keprajuritan, melainkan juga akan menggeber ketangguhan alat utama sistem persenjataan( alutsista) mereka.
Mereka juga akan membeberkan alutsista baru yang akan menjadi tulang punggung kekuatan baik dari matra darat, laut,maupun udara seperti meriam caesar, roket multilaras (MLRS) Astros II, ranpur amfibi BMP-3F, CN-295 yang baru tiba kemarin, pesawat tempur ringan Super Tucano, dan berbagai alutsista baru lain, termasuk buatan dalam negeri yang menjadi kebanggaan TNI.
Sayangnya, tank Leopard belum bisa menjadi ambil bagian dalam perayaan hari ini karena baru tiba di Tanah Air pada November depan. Keberadaan alutsista canggih walaupun secara kualitas maupun kuantitas belum mencapai tahap seperti dicanangkan dalam target minimum essential force (MEF)––harus diakui telah memacu terbentuknya semangat baru prajurit setelah sekian lama hanya bisa mengandalkan alutsista usang akibat embargo dan keterbatasan anggaran.
Hal ini wajar karena prajurit dan senjata ibarat dua sisi mata koin yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.Kekuatan daya tempur prajurit bergantung pada persenjataan yang dimiliki. Sementara penggunaan persenjataan bergantung pada prajurit yang ada di belakangnya (man behind the gun). Lebih dari itu, kesadaran pentingnya penguatan kapabilitas persenjataan yang ditunjukkan pemerintah dan DPR dengan menaikkan anggaran dana bukan hanya untuk gagah-gagahan, melainkan merupakan unsur penting transformasi kekuatan pertahanan guna meningkatkan efek penggentar (deterence effect).
Dengan demikian, pertahanan negara menjadi lebih terjamin. Rakyat Indonesia tampaknya juga mempunyai kesadaran yang sama. Sejauh ini mereka menunjukkan dukungan positif terhadap pembelanjaan besar-besaran yang dilakukan alutsista.Mereka percaya TNI akan memanfaatkan anggaran yang diamanatkan secara transparan dan sungguh-sungguh demi meningkatkan profesionalitas.
Dukungan dan kepercayaan harus benar-benar dijaga. Pimpinan TNI dan jajarannya yang terkait harus mampu meneruskan track record positif yang telah dibangun sejak reformasi yakni bukan hanya konsistensi tidak terlibat dalam politik praktis (baca reposisi) seperti pernah dipraktikkan ABRI semasa Orba lewat doktrin dwifungsi ABRI, melainkan juga melakukan reformasi kelembagaan.
Harus diakui, pada poin ini,TNI telah menunjukkan kesuksesannya dan patut menjadi contoh bagi institusi negara lain, terutama untuk saudara mudanya, Polri. Bersamaan dengan momentum HUT Ke-67 ini, kita semua berharap di usia yang sudah cukup tua untuk sebuah organisasi, TNI semakin bertambah matang.
Semangat baru yang terbangun karena dukungan alutsista baru diikuti dengan semangat untuk terus meningkatkan profesionalitas demi kekuatan dan kejayaan bangsa, bukan untuk kepentingan lain, termasuk untuk memanfaatkan dukungan anggaran yang sangat besar.
Pernyataan Panglima Besar Jenderal Jenderal Soedirman yang disampaikan pada pidato pertamanya sebagai Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 1946 kiranya masih sangat relevan untuk menjadi pedoman:
"Telah diakui oleh beberapa pemimpin perjuangan di berbagai tempat bahwa kemunduran dan kekalahan yang diderita oleh barisan yang berjuang itu di manakala anggotaanggota barisan tadi mulai tidak suci lagi dalam perjuangannya dan rusuh dalam tingkah laku dan perbuatan," Dirgahayu TNI.
(azh)