KPK selidiki kongres Demokrat di Bandung
Selasa, 02 Oktober 2012 - 10:32 WIB
KPK selidiki kongres Demokrat di Bandung
A
A
A
Sindonews.com - Setelah menjalani pemeriksaan selama 25 menit di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Ketua DPP Demokrat Umar Arsal mengaku ditanya soal kongres Partai Demokrat tahun 2010 di Bandung.
Umar juga menolak jika dirinya diperiksa soal kasus dugaan korupsi Hambalang. "Diklarifikasi terkait kongres dulu, perlu dijelaskan. Bukan Hambalang. Disuratnya dijelaskan hanya soal kongres Demokrat. Itu tahun 2010," katanya di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (2/10/2012).
Lebih lanjut, pria yang mengenakan batik warna keemasan tersebut mengungkapkan, alasan pemeriksaan singkat yang dijalaninya pagi ini. Dia mengaku, harus mengikuti rapat paripurna di DPR sehingga tidak bisa berlama-lama di KPK. "Karena saya ada paripurna, nanti saya diperiksa lagi," jelas Umar.
Umar sendiri berjanji, akan menjelaskan lebih lanjut lagi kepada penyidik KPK soal kongres tersebut. Apalagi dia mengakui dirinya waktu itu merupakan penanggung jawab kemenangan Anas Urbaningrum di Sulawesi.
"Insya Allah akan kita jelaskan apa adanya. Selama ini banyak fitnah soal kongres. Saya yakin betul, waktu itu saya sebagai penanggung jawab kemenangan Anas untuk Sulawesi. Dan saya akan jelaskan apa adanya dan mudah-mudahan ini bisa clear," ujarnya.
Terkait dugaan adanya aliran dana dalam kongres itu, Umar membantah keras. Dia mengatakan, itu semua fitnah. "Itu tidak benar. Semua itu fitnah, dan saya akan jelaskan. Semua yang dikeluarkan itu hanyalah betul-betul (biaya) transportasi. Pokoknya sangat wajar. Soal aliran dana itu fitnah. Itu tidak ada," tukas anggota Komisi V DPR RI ini.
Umar Arsal diketahui tiba di gedung KPK sekitar pukul 08.45 WIB, dan keluar pada pukul 09.10 WIB.
Sebelumnya diketahui, nama Umar Arsal disebut oleh saksi Diana Maringka Ketua Dewan Pimpinan Cabang Minahasa Tenggara Partai Demokrat dalam persidangan M Nazaruddin.
Diana mengaku, dirinya mendapatkan uang sebesar USD 7.000, Rp100 juta, dan Rp30 juta dalam beberapa tahap saat kongres Partai Demokrat berlangsung. Uang tersebut diklaim Diana, terkait dengan pemenangan Anas Urbaningrum sebagai ketua umum partai. "Uang itu dari Pak Umar Arsal, dari tim sukses Pak Anas," ucap Diana.
Di sisi lain, Nazaruddin juga mengatakan hal yang sama dalam persidangan. Dia mengakui ini ada aliran dana Hambalang yang mengalir ke Anas.
Nazar mengatakan, Anas membagi-bagikan hampir USD 7 juta kepada sejumlah dewan pimpinan cabang dalam Kongres Partai Demokrat di Bandung tahun lalu. Dan Uang USD7 juta tersebut diakui Nazar berasal dari Adhi Karya selaku pelaksana proyek Hambalang.
Namun, Anas sudah berkali-kali membantah tuduhan Nazar soal politik uang dalam kongres di Bandung tahun 2010 silam tersebut.
Umar juga menolak jika dirinya diperiksa soal kasus dugaan korupsi Hambalang. "Diklarifikasi terkait kongres dulu, perlu dijelaskan. Bukan Hambalang. Disuratnya dijelaskan hanya soal kongres Demokrat. Itu tahun 2010," katanya di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (2/10/2012).
Lebih lanjut, pria yang mengenakan batik warna keemasan tersebut mengungkapkan, alasan pemeriksaan singkat yang dijalaninya pagi ini. Dia mengaku, harus mengikuti rapat paripurna di DPR sehingga tidak bisa berlama-lama di KPK. "Karena saya ada paripurna, nanti saya diperiksa lagi," jelas Umar.
Umar sendiri berjanji, akan menjelaskan lebih lanjut lagi kepada penyidik KPK soal kongres tersebut. Apalagi dia mengakui dirinya waktu itu merupakan penanggung jawab kemenangan Anas Urbaningrum di Sulawesi.
"Insya Allah akan kita jelaskan apa adanya. Selama ini banyak fitnah soal kongres. Saya yakin betul, waktu itu saya sebagai penanggung jawab kemenangan Anas untuk Sulawesi. Dan saya akan jelaskan apa adanya dan mudah-mudahan ini bisa clear," ujarnya.
Terkait dugaan adanya aliran dana dalam kongres itu, Umar membantah keras. Dia mengatakan, itu semua fitnah. "Itu tidak benar. Semua itu fitnah, dan saya akan jelaskan. Semua yang dikeluarkan itu hanyalah betul-betul (biaya) transportasi. Pokoknya sangat wajar. Soal aliran dana itu fitnah. Itu tidak ada," tukas anggota Komisi V DPR RI ini.
Umar Arsal diketahui tiba di gedung KPK sekitar pukul 08.45 WIB, dan keluar pada pukul 09.10 WIB.
Sebelumnya diketahui, nama Umar Arsal disebut oleh saksi Diana Maringka Ketua Dewan Pimpinan Cabang Minahasa Tenggara Partai Demokrat dalam persidangan M Nazaruddin.
Diana mengaku, dirinya mendapatkan uang sebesar USD 7.000, Rp100 juta, dan Rp30 juta dalam beberapa tahap saat kongres Partai Demokrat berlangsung. Uang tersebut diklaim Diana, terkait dengan pemenangan Anas Urbaningrum sebagai ketua umum partai. "Uang itu dari Pak Umar Arsal, dari tim sukses Pak Anas," ucap Diana.
Di sisi lain, Nazaruddin juga mengatakan hal yang sama dalam persidangan. Dia mengakui ini ada aliran dana Hambalang yang mengalir ke Anas.
Nazar mengatakan, Anas membagi-bagikan hampir USD 7 juta kepada sejumlah dewan pimpinan cabang dalam Kongres Partai Demokrat di Bandung tahun lalu. Dan Uang USD7 juta tersebut diakui Nazar berasal dari Adhi Karya selaku pelaksana proyek Hambalang.
Namun, Anas sudah berkali-kali membantah tuduhan Nazar soal politik uang dalam kongres di Bandung tahun 2010 silam tersebut.
(san)